Bagian Jalur Pantura Ini Dulunya adalah Sebuah Selat

0

Selat Muria memisahkan wilayah Jepara dengan daratan Jawa sampai abad ke-17. Buku-buku sejarah yang membahas kesultanan Demak mendeskripsikan keberadaannya. Akibat proses sedimentasi, selat itu tertutup dan menjadi dataran rendah.

Bapak Ibu saya memberi nama saya seperti nama sultan pertama Demak: Raden Fatah. Entah sengaja atau tidak. Yang jelas, kesamaan ini sudah membuat saya merasa bangga. Sekalipun kita sekarang mungkin lebih familiar dengan Muhammad Fatah yang terkenal dengan branding personal koplak dan jauh dari imaji seorang sultan.

Raden Fatah dan saya punya kesamaan lain, yaitu kami sama-sama bisa menyebut diri sebagai “orang Pantura”. Ia dari Demak, sedangkan saya dari Rembang. Bedanya, kalau saya sekarang bepergian di jalur Pantura dengan naik bus antar kota, Raden Fatah bisa mengendarai kapal.

Demak yang kini terletak sekitar 30 km dari laut pada waktu itu adalah kota pantai. Terdapat sebuah selat dangkal di sisi utaranya, memisahkan Demak dari Jepara. Perairan itu dulu adalah wajah jalur jalan raya yang menghubungkan Semarang, Demak, Kudus, Pati, dan Rembang.

Bagaimana kondisi selat itu dulu? Kok bisa sekarang menjadi daratan?

Kira-kira begini ceritanya.

Kesultanan Demak Menguasai Lautan

Kesultanan Demak yang didirikan oleh Raden Fatah punya visi maritim yang kuat. Seiring dengan melemahnya Majapahit pada akhir abad ke-15, Demak muncul sebagai kekuatan utama di Jawa.

Dalam perebutan kontrol Semenanjung Malaka, Demak mengirim armada untuk bergabung dengan kesultanan Aceh dan Johor melawan Portugis. Demak juga menaklukkan Sunda Kelapa dengan angkatan lautnya.

Kejayaan Demak ini, menurut sejarawan H.J. De Graaf dan T.H.T Pigeaud” dalam bukunya yang berjudul Kerajaan Islam Pertama di Jawa (1974) didukung oleh lokasinya yang dekat dengan lautan.

“Letak Demak cukup menguntungkan bagi kegiatan perdagangan maupun pertanian. Selat yang memisahkan Jawa Tengah dari Pulau Muria pada masa itu cukup lebar dan dapat dilayari dengan leluasa, sehingga dari Semarang melalui Demak, perahu dagang dapat berlayar sampai Rembang, baru sejak abad ke-17 Selat Muria tak dapat dipakai lagi sepanjang tahun,” tulis De Graaf dan Pigeaud.

 

Peta Kesultanan Demak abad ke-16 yang dimodifikasi oleh penulis fiksi sejarah Nassirun Porwokartun dari Nusa Jawa, Silang Budaya (Denys Lombard, 1996). Terlihat posisi Jepara dan Gunung Muria yang terpisah dari Pulau Jawa oleh selat. (Sumber)

Sejarawan Prancis, Denys Lombard, juga menggambarkan keberadaan selat tersebut dalam Nusa Jawa, Silang Budaya (1996). Lombard menyebutkan bahwa Gunung Muria di sisi timur Semarang merupakan sebuah pulau. Perniagaan laut di kota-kota pantai di sepanjang pantura timur Jawa Tengah ramai pada abad ke-16. Kota-kota itu terletak saling bersebelahan di tepian selat yang menjadi jalur lintas alami tempat kapal-kapal dapat berlabuh.

Sedimentasi Mendangkalkan Selat Muria

Pada abad ke-17, pendangkalan Selat Muria sudah tidak memungkinkan pelayaran pada musim kemarau. Sudah banyak tempat yang berubah menjadi daratan. Pada musim hujan, sampan-sampan kecil dapat melaju di atas genangan air.

Pesatnya sedimentasi Selat Muria ini, menurut Awang Satyana, staf ahli SKK Migas, karena posisinya menjadikannya tempat yang sangat baik untuk menerima sedimen dari berbagai arah.

Di selatannya terdapat perbukitan Zona Kendeng dan Zona Rembang yang dierosi oleh banyak yang sungai yang bermuara di Selat Muria. Di bagian barat terdapat muara Sungai Serang yang berhulu jauh di lereng timur Gunung Merbabu. Sungai-sungai ini mengangkut material sedimen dari perbukitan yang dilaluinya dan mengendapkannya di Selat Muria.

Di utara, ada Gunung Muria yang memiliki gradien kemiringan tinggi dan punya banyak sungai yang mengirim material sedimen ke selatan.

Salahuddin Husein, dosen Teknik Geologi UGM, menambahkan peran Sungai Tuntang di ujung barat sebagai salah satu faktor utama yang memengaruhi kecepatan sedimentasi. Bersama Sungai Serang, sungai ini membentuk pasangan delta aktif yang membangun morfologi pesisir Demak.

 

Skema perkiraan majunya garis pesisir Demak sejak abad ke-8 oleh Salahuddin Husein. Sumber

Dengan demikian, Salahuddin menggarisbawahi, pendangkalan Selat Muria didorong oleh faktor “serba ganda”. Dua delta, dua zona pegunungan sedimenter, dan dua gunungapi modern menjadi penyumbang terbesar sedimentasi yang memaksa Kesultanan Demak memindahkan pusat pelabuhannya ke Jepara itu.

Ketika megaproyek pembangunan jalan Anyer-Panarukan dijalankan oleh Daendels, tulis Pramoedya Ananta Toer dalam Jalan Raya Pos, Jalan Daendels, para pekerja bertumbangan akibat kelelahan dan dihajar malaria saat meninggikan tanah di rawa-rawa daerah Demak.

Disebutkan pula bahwa lokasi pembangunan jalan kadang masih berupa teluk-teluk kecil yang harus diurug dahulu.

Jalur perniagaan di pesisir utara Jawa Tengah sampai sekarang masih aktif. Namun setelah sedimentasi mengubah Selat Muria menjadi daratan dan dilanjutkan dengan pengurugan tanah oleh moyang kita di bawah pengawasan mandor kolonial yang galak, kapal-kapal dagang diganti berbagai jenis truk dan kendaraan pengangkut lainnya.

Dengan asal-usul yang dekat dengan perairan, maka tidak heran jika dataran rendah bekas Selat Muria ini sering kebanjiran saat musim hujan. Tentu saja penggenangan ini terjadi hanya sebagian saja. Di wilayah-wilayah tertentu saja. Belum cukup memaksa kami orang Pantura Jawa Tengah untuk mengambil dayung dan kembali mengangkut barang dagangan dengan sampan.

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here