[Q and A ]Evolusi Tektonik Indonesia Timur : Antara Sumberdaya Alam Dan Bencana Geologi

0

oleh : Bapak Salahuddin Husein, S.T., M.Sc., Ph.D

Rheza Firmansyah/PT. Leica Geosystems Indonesia

Q : Apakah peran dari sensor-sensor pengukur kegempaan dan sesar patahan aktif sudah maksimal untuk memberikan data dalam mitigasi bencana dan analisis data pergerakan?, berdasarkan pengalaman Bapak Salahudin, sensor apa yang biasa digunakan untuk mengukur sesar patahan aktif?

A : Saya rasa sudah banyak kemajuan yang dilakukan oleh BKMG, termasuk penambahan ribuan seismometer untuk memantau berbagai daerah yang dekat dengan patahan aktif. Tentu saja untuk negara yang dikepung oleh konvergensi lempeng tektonik seperti Indonesia, idealnya satu patahan dikepung oleh beberapa seismometer. Namun untuk ke sana, tentu luar biasa sumberdaya finansial dan manusia yang harus disiapkan. Apalagi banyak patahan aktif ada di dasar laut, ini semakin susah lagi untuk memonitornya.

Ilham Aji Dermawan/GEOMINE Mining and Geotechnical Consultant

Q : Pak Udin, daerah pegunungan tengah Papua yang kaya akan mineralisasi (Grasberg, Ok Tedi, Porgera, dsb.) terbentuk dari proses kolisi tetapi menghasilkan mineralisasi Cu-Au yang besar. Itu prosesnya bagaimana ya Pak? Karena konsep yang selama ini ada mineralisasi Cu-Au berasal dari subduksi, bukan kolisi. Ada juga penelitian yang menyebutkan prosesnya dari delaminasi kolisi (collisional delamination). Itu bagaimana ya Pak prosesnya hingga terbentuk zona mineralisasi? Padahal tidak ada sumber magma. Terima kasih Pak

A : Davies (1991) mengamati aktivitas magmatisme di Pegunungan Tengah Papua berpindah ke selatan mengikuti perkembangan struktur sesar anjak dan lipatan, mengindikasikan proses magmatisme tersebut terkait dengan penebalan kerak. Hamilton et al. (1983) melakukan analisis geokimia di sabuk Pegunungan Tengah Papua dan menyimpulkan magma asal mantel dengan pengayaan pada kerak benua. Magma dihasilkan oleh pelelehan kerak bagian bawah atau material mantel dibawah kerak sebagai akibat dari pengurangan beban kerak yang disebabkan oleh delaminasi (Hill et al., 2002).

Sayyid Abdullah Marzuqi/Institut Teknologi Bandung

Q : Selamat sore Pak Salahudin, tadi bapak membedakan busur sunda kecil bagian barat yang merupakan kemenerusuan busur magmatik pulau Jawa, dengan busur sunda kecil bagian timur. Karakteristik yang membedakan antar busur magmatiknya itu apa? apakah ada perbedaan yang signifikan antara deposit porfiri bukit, tujuh tumpang pitu (yang berada di bagian barat busur sunda kecil) dengan deposit porfiri di Elang/Batu hijau (yang berada di bagian timur busur Sunda kecil)? Terimakasih banyak Pak

A : Ada dua alasan: (i) perbedaan stratigrafi antara kelompok Bali-Lombok-Sumbawa dengan kelompok Flores, dan (ii) letak Sumba, yang membatasi kedua kelompok tersebut. Khusus untuk alasan kedua, diketahui bila Sumba sebenarnya terletak di ujung tenggara Sundaland yang drifting ke selatan, sehingga seharusnya Sumba menjadi penanda akhir dari Sundaland, dengan demikian Flores yg terletak di timur Sumba adalah milik Busur Banda.

Rubens Setiawan/SMA Negeri 3 Yogyakarta

Q : Selamat sore, Bapak Salahudin. Izinkan saya untuk bertanya, apakah ada pengaruh dari ocean intensification dari gyre di Samudra Pasifik terhadap sedimentologi di wilayah Indonesia timur bagian utara (Maluku, Sulut, Malut)?

A : Sejauh yang saya ketahui, belum pernah ditemukan bukti sedimen di kawasan Indonesia Timur terpengaruh badai akibat ocean intensification Pasifik.

Musri Mawaleda , Unhas

Q1 : Apakah Lap Donggi-Senoro itu berkaitan Sesar Naik saja seperti yang Anda jelaskan ataukah karena Kompleks Kolisi? Saya tidak mengerti data apa yang diajukan Robert Hall terkait dengan pemodelan animasi tsb? Mohon tambahan penjelasan

  • Mekanisme utama pembentukan jebakan dan pematangan hidrokarbon di Donggi-Senoro adalah terkait dengan kolisi Banggai-Sula yang menghasilkan serangkaian sesar naik. Namun di ujung selatan ada pengaruh dari sesar geser yang memfasilitasi pergeseran Banggai-Sula ke arah barat.

Pemodelan kolisi Banggai-Sula oleh Robert Hall masih mengikuti konsep-konsep sebelumnya, bahwa Banggai-Sula merupakan fragmen kontinen yang sebelumnya bergabung di Semenanjung Sula. Yang berbeda mungkin Robert Hall mengusulkan mekanisme delaminasi untuk menjelaskan terpisahnya fragmen kontinen tersebut.

Q2 : Data apa yg menunjukkan umur kerak oceanic tersebut. Juga mohon konsep Kontinen Mikro yang diajukan Royal Halloway, bagaimana sebenarnya penjelasannya berkaitan dengan evolusi tektonik global?

  • Penentuan umur kerak samudera dengan menggunakan kajian paleomagnetik.
  • Sebenarnya yang diusulkan Robert Hall bukanlah kontinen mikro, namun blok tektonik (terrane), dimana pembentukannya tidak harus mengikuti mekanisme tektonika lempeng global yang digerakkan oleh konveksi mantel. Menurut Robert Hall blok tektonik yang banyak berserak di Indonesia Timur dapat terbentuk dengan mekanisme delaminasi mantel litosfer akibat tenggelamnya kerak samudera Banda, menyisakan potongan-potongan kerak benua tanpa mantel litosfer menempel dibawahnya. Potongan kerak benua sebagai blok tektonik ini karena ringan (kecil dan tipis) dengan mudah dipengaruhi oleh sesar-sesar regional yang bekerja di kawasan Indonesia Timur dan dipengaruhi oleh proses pemekaran Laut Banda.

Q3 : Mengapa ada sesar aktif dan ada yang tidak? Apa penyebabnya suatu sesar itu dia aktif?

  • Sesar aktif bila sampai saat ini masih bergerak merespon gaya tektonik yang diterimanya, entah berupa dorongan (kompresi) maupun tarikan (ekstensi). Dengan kata lain, posisi sesar tersebut masih sesuai dengan pergerakan tektonik di sekitarnya. Sesar menjadi tidak aktif apabila karena penggerak tektoniknya selama ini sudah tidak aktif secara tektonik.
  • Contoh Sesar Gorontalo, meski dianggap aktif, namun banyak peneliti yang menganggap sesar tersebut sudah terkunci dan tidak aktif (Surmont etal 1994; Molnar & Dayem 2010; Bachri 2011; Watkinson & Hall 2017). Kemungkinan karena penggeraknya selama ini adalah tarikan subduksi Sangihe. Kini subduksi Sangihe sudah berhenti dan digantikan oleh sesar anjak. Dengan demikian Sesar Gorontalo kehilangan motor penggerak, dan menjadi sesar yang tidak aktif (interlocked).

Q4 : kalua mungkin mohon data terakhir yang bapak dapatkan dan disampaikan di sini?

  • Referensi untuk Sesar Gorontalo ada di atas.

Q5 : Sulawesi dan Halmahera mempunyai sejarah perkembangan geologi yang hampir sama. Yakni merupakan amlgamasi dari sejumlah blok kontinen serta emplacement kerak oceanic. By time sehingga mempunyai bentuk khas? Waulahualam bisawab

  • Sebenarnya meski bentuk Sulawesi dan Halmahera sama-sama mirip huruf “K”, namun sejarah geologi keduanya berbeda sekali.
  • Sulawesi masih punya komponen kerak benua Sundaland (Lengan Selatan) dan komponen kerak benua Semenanjung Banda (Lengan Timur dan Lengan Tenggara), selain juga komponen busur gunungapi kepulauan yang berkembang di kerak samudera (Lengan Utara). Assembling Sulawesi dipengaruhi oleh pemekaran Laut Banda.
  • Halmahera hanya memiliki komponen busur gunungapi kepulauan yang berkembang di kerak samudera (Lengan Barat), dan komponen batuan ofiolit kerak samudera yang terobduksi (Lengan Timur). Assembling Halmahera terjadi di Plio-Pleistosen, terkait dengan proses kolisi dengan Lengan Utara Sulawesi.
  • Bila dianggap memiliki origin sama pada kedua pulau tersebut adalah kehadiran komponen busur gunungapi (Lengan Utara Sulawesi dan Lengan Barat Halmahera), yang sama-sama dibangun diatas kerak samudera Laut Karolina, pecahan dari Samudera Proto-Pasifik.

Wallahu a’lam

Rizky Putri Ariani, Universitas Jambi

Q : apa keterkaitan tektonik di Indonesia bagian barat dan timur, jika di perhatikan dari jejak batuan seperti batuan ultrabasa Indonesia bagian timur dan barat terdapat batuan ultrabasa basa yg sama2 berumur kapur

A : Sama-sama memiliki origin dari Gondwana.

Muhammad Bahrun Najah/ ITB

Q : Terkait dengan busur banda, yang sekarang diketahui adanya cekungan (atau bahkan mungkin dikatakan trench) sebagai asosiasi dari busur kepulauan daerah sana, dan itu terbentuk melalui mekanisme pada umumnya, akan tetapi saya membaca paper Robert Hall (Royal Holloway), dia mengatakan sesuatu yang belum bias diterima oleh banyak peneliti, akan tetapi ditunjang dengan bukti, bahwa trench tersebut diakibatkan oleh adanya rifting yang besar dibuktikan dengan seismic tomography yang memperlihatkan adanya anomaly thermal di daerah tersebut. bagaimana tanggapan bapak

A : Robert Hall menganggap pembentukan palung Timor – Tanimbar – Seram sebagai palung non-subduksi (trough), berbeda dengan pandangan selama ini yang menganggapnya sebagai palung subduksi (trench), seperti Palung Sunda.

A : Timor-Tanimbar-Seram Trough terbentuk karena delaminasi, yaitu tenggelamnya kerak samudera Banda dan terkelupasnya mantel litosfer pada kerak benua di sekitar Banda, yang dapat dilihat dari data tomografi seismik. Proses gravitasi tersebut menyebabkan terjadi penurunan kerak (subsidence), menghasilkan palung non-subduksi (trough).

Geo MNRL

Q : Di Sulawesi barat, Mamuju, banyak terbentuk lava leucitite (magma miskin silika), dan umumnya tebentuk akibat pemekaran … apa ini terkait tektonik pada 35-40 Ma itu?

A : Umur lava leusit relatif muda, yaitu Plio-Pleistosen, dimana sudah tidak ada lagi subduksi aktif saat itu di Sulawesi Selatan-Barat, sehingga mekanisme magmatismenya pun menjadi perdebatan. Kemungkinan terkait dengan pembentukan Pegunungan Mamuju yang meyebabkan penebalan kerak, sehingga memicu delaminasi mantel litosfer sisa slab dari subduksi sebelumnya.

Faisal Saleh/UMMU

Q : Bagaimana proses tektonik yang mempengaruhi tersingkapnya batuan ultrabasa yang ada di Halmahera Timur dan Halmahera tengah serta Halmahera Selatan (Pulau Obi)

A : Proses obduksi kerak samudera. Sekitar Plio- Plesitosen kerak samudera Laut Maluku tenggelam kedalam mantel sehingga Busur Halmahera bertabrakan dengan Busur Sangihe, akibatnya kerak samudera yang ada di timur Halmahera yang terus didorong oleh pemekaran punggungan Ayu terpaksa menaiki busur Halmahera, membentuk Lengan Timur yang sepenuhnya berkomposisi ultrabasa.

A : Berbeda dengan kehadiran batuan beku ultrabasa di Obi, yang terangkat oleh pergeseran Sesar Sorong.

Putri / PT Petrosea

Q : bertanya apakah sumber daya alam terkait dengan mineral, emas, minyak, batubara, dll saat ini semakin terbatas kandungannya jika dilihat dari kondisi geologi saat ini? Kalau dilihat dari kondisi geologi, daerah mana kah yang masih berpotensi memiliki kandungan mineral, khususnya emas dan batubara? Terimakasih

A : Pendekatannya mungkin berbeda. Untuk mengejar emas, maka kita harus melacak sejarah magmatisme di Indonesia Timur, ada 4 busur magmatisme, yaitu Busur Banda, Busur Sulawesi, Busur Halmahera, dan Busur Papua. Kesanalah kita harus explore.

A : Untuk endapan batubara, yang kita butuhkan adalah paparan benua dengan input klastika yang banyak. jadi kita harus mengejar potongan-potongan benua yang banyak bertebaran di Indonesia Timur, selain fokus pada bagian dari benua Sundaland di Sulawesi Selatan-Barat dan bagian benua Australia di Papua.

Oka Agastya/FGMI

Q : Pak Udin terkait tektonik di busur sunda kecil terutama di bali pak, batuan tertua ditemukan yakni berupa batuan vulkanik berumur miosen (alkali basalt) apakah selalu berasosiasi dgn pemekaran kerak samudra atau masih ada kaitannya dgn subsuksi ? belakangan ini kami kebetulan meneliti patahan aktif di bali, dimana kalau di perhatikan di pulau bali pak adanya perbedaan region struktur di bagian baratnya lebih didominasi oleh struktur uplift dan patahan sedangkan di bagian baratnya lebih banyak di dominasi pertumbuhan gunung api, bgmn pengaruh tektoniknya pak ? Apakah bali sendiri berdiri sendiri atau ada perpisahan dari bagian jawa timur ? Krn di laut utara pulau bali sendiri dari suvey seismic p3gl formasi yg di temukan masih sama seperti stratigrafi di jawa timur utara. Terima kasih pak

A : Batuan beku alkali basalt mengindikasikan proses magmatisme terkait subduksi, karena meleleh di kedalaman > 60 km (yang hanya bisa terjadi di lingkungan subduksi).

A : Formasi Ulakan adalah produk vulkanisme Oligo-Miosen, sama dengan seri Andesit Tua di Pegunungan Selatan Jawa-Sumatera (Sunda Besar). Bagaimana mereka berasosiasi dengan karbonat Miosen (Formasi Selatan) mencerminkan sejarah geologi yang identik dengan Pegunungan Selatan.

A : Demikian juga dengan perubahan geologi. Area Nusadua – Nusapenida yang mewakili kemiripan Pegunungan Selatan dengan tinggian karbonat Formasi Selatan yang equivalen dengan tinggian karbonat Formasi Wonosari, didominasi oleh block-faulting patahan normal. Di bagian utara didominasi oleh vulkanisme Kuarter, meski beralaskan batuan vulkanisme Andesit Tua berumur Tersier (Formasi Ulakan dan Formasi Sorga), ini mirip dengan vulkanisme Kuarter Zona Solo di Jawa Timur. Perubahan letak vulkanisme Kuarter yang bergeser ke arah utara mengindikasikan adanya penebalan kerak akibat magmatisme Tersier. Proses penebalan kerak tersebut bisa dilacak dari keberadaan zona sesar anjak dan lipatan yang ada di bawah vulkanisme Kuarter dan muncul di utaranya, seperti Zona Kendeng kalau di Jawa Timur, sedangkan di Bali muncul di dasar Laut Bali

A : Ke arah utara, Bali masih menyambung dengan Kangean yang mewakili stratigrafi NE Java Basin, termasuk stratigrafi Zona Kendeng yang ada di Laut Bali. Jadi memang secara tektonik dan stratigrafi Bali dan Jawa Timur masih bersambung menjadi satu.

Ari Yusliandi, UTP

Q1 : dalam proses drifting northwest Australia shelf, apakah timor dan sumba berbeda dalam prosesnya? Karena dalam publikasi lain oleh Ron Harris (2011), rekosntruksi nya menyatakan timor-p. savu-sumba merupakan suatu mikro kontinen yg bergerak bersamaan (V-shape) dan kolisi di Mio-pliocene

A : Bukti bahwa Sumba bergabung dengan Sundaland diberikan oleh bukti paleontologi dan paleomagnetisme. Mungkin bisa dibandingkan dengan paper IPA 2011 dari Pak Awang Satyana.

A : Paper Harris (2011) merupakan resume dari penelitian beliau selama puluhan di kawasan Banda, dan secara tektonik sebenarnya masih konsisten dengan peneliti arus utama lainnya, bahwa Sumba adalah milik Sundaland, yang kemudian mengalami drifting ke selatan akibat tarikan subduksi Banda Embayment (coba cek paper beliau di tahun 2006, Rise and fall of the eastern Great Indonesian Arc…). Cuma memang beliau lebih menajamkan lagi mengapa Sumba Ridge bisa terbentuk (jadi bukan pada Sumba, tetapi Sumba Ridge), yaitu karena kolisi Sumba dengan Scott Plateu di ujung NW Australia. Ini yang mungkin sering disalah-tafsirkan bahwa Ron Harris mengatakan Sumba berasal Australia. Padahal fokusnya adalah pengangkatan Sumba Ridge karena ada komponen Australia (Scott Plateau) yang masuk dibawah Sumba.

Q2 : Apakah ada potensi trapping dibawah subthrust? sebgaia contoh daerah timor, apakah gondwana sequence masih berpotensi adanya trapping mengingat duplex system di daerah tsb?

A : Ada, karena sistem stratigrafi dan petroleum NW Australia dapat ditemukan dibawah Timor. Challenge-nya justru dari imbrikasi struktur sesar anjak yang sangat mungkin memicu kebocoran. Jadi mapping struktur dan seal analysis-nya harus sangat baik.

Berry, Alumni MPG UGM

Q1 : Apakah cirikhas perubahan sesar naik ke sesar geser di mambramo pada outcrop atau seismik.

A : Memberamo Fault Zone sebenarnya manifestasi deformasi pada North Papua Mobile Belt, yaitu blok tektonik Busur Vulkanik Sepik yang kolisi terhadap utara Papua pada Oligosen. Ketika terjadi perubahan tektonik besar di Indonesia Timur yang ditandai oleh kolisi Australia terhadap Sundaland, zona subduksi Busur Karolina di utara Papua berubah zona Sesar Geser Sorong. Dan karena posisi Sepik Terrane berada di utara Papua, mereka langsung berhadapan dengan Sesar Sorong dan menerima gaya transtensional, membentuk Cekungan Memberamo. Pada Pliosen ketika terjadi kolisi Busur Karolina dengan bagian utara Papua, rejim tektonik di sepanjang Sesar Sorong berubah menjadi transpressional, maka Sepik Terrane dan Cekungan Memberamo ini kemudian terjepit dan membentuk sabuk lipatan dan sesar anjak, yang terpotong oleh Sesar Sorong, sebagaimana tampak pada cross-section berikut (Montgomery & Wold, 2001):

Q2 : Mengapa kualitas trap di Pulau Seram (bias dilihat dari lapangan-lapangan osil) lebih bagus daripada di Pulau Timor?

A : Perbedaan utama tektonik Seram dan Timor adalah posisi mereka terhadap subduksi Banda Embayment. Seram terletak di ujung utara Semenanjung Sula, dimana subduksi Banda Embayment terhadap Sundaland terjadi pertama kali. Akibatnya, kerak samudera Banda Embayment lebih dulu tenggelam dan karena letaknya menyerong terhadap arah subduksi, akhirnya putus.

A : Letak konvergensi menyerong menyebabkan Seram berada pada tatanan tektonik transpresif, selain sesar anjak juga banyak dipotong oleh sesar geser. Hal ini menyebabkan berkembangnya fracture reservoir pada karbonat Seram. Hal ini tidak dialami oleh Timor yang letaknya ortogonal terhadap konvergensi lempeng.

Nita, ITS

Q : Pak berdasarkan paparan rekon tektonik d indo timur apakah Ada data pusgen yg sedikit menyimpang dr teori2 yg bpk sampaikan td

A : Secara umum tidak ada, sinkron saja dengan publikasi Pusgen.

Umar Botjing

Q : Bagaimana pembentukan gunung api yang adadi teluk tomini?

A : Gunungapi Colo yang membentuk pulau Una-Una merupakan hasil dari magmatisme akibat penipisan kerak, hasil dari peregangan Teluk Tomini akibat tarikan subduksi Laut Sulawesi. Ada juga yang berpendapat vulkanisme Colo terkait subduksi Banggai-Sula (Walpersdorf et al., 1988). Namun bukti kegempaan menunjukkan vulkanisme Colo tidak ada hubungan dengan subduksi apa pun.

Lilian/Unpad

Q : Selamat sore pak, terima kasih atas kesempatannya. Berdasarkan penjelasan Bapak terkait daerah Indonesia Timur yang dikontrol oleh tektonik yang bisa dikatakan kompleks sehingga menghasilkan banyak geologist yang ingin ke Indonesia bagian timur. Khususnya pada Pulau Halmahera dengan Pulau Sulawesi, seperti yang diketahui kedua Pulau tersebut memiliki bentuk Pulau yang relatif sama, berbentuk huruf “K” yang sangat berbeda dengan bentuk pulau lainnya di Indonesia, dan daerah tersebut sangat dikontrol oleh tektonik. Saya ingin bertanya, apa yang membuat sehingga kedua Pulau tersebut memiliki bentuk yang relatif sama, apakah akibat pergerakan tektonik atau lainnya? Mohon penjelasannya. Terima kasih pak.

A :  Sebenarnya meski bentuk Sulawesi dan Halmahera sama-sama mirip huruf “K”, namun sejarah geologi keduanya berbeda sekali.

A : Sulawesi masih punya komponen kerak benua Sundaland (Lengan Selatan) dan komponen kerak benua Semenanjung Banda (Lengan Timur dan Lengan Tenggara), selain juga komponen busur gunungapi kepulauan yang berkembang di kerak samudera (Lengan Utara). Assembling Sulawesi dan bentuknya yang “huruf K” itu dipengaruhi oleh pemekaran Laut Banda sepanjang Miosen Tengah-Akhir.

A : Halmahera hanya memiliki komponen busur gunungapi kepulauan yang berkembang di kerak samudera (Lengan Barat), dan komponen batuan ofiolit kerak samudera yang terobduksi (Lengan Timur). Assembling Halmahera dan bentuknya yang “huruf K” terjadi di Plio-Pleistosen, terkait dengan proses kolisi dengan Lengan Utara Sulawesi.

A : Bila dianggap memiliki origin sama pada kedua pulau tersebut adalah kehadiran komponen busur gunungapi (Lengan Utara Sulawesi dan Lengan Barat Halmahera), yang sama-sama dibangun diatas kerak samudera Laut Karolina, pecahan dari Samudera Proto-Pasifik.

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here