Apakah ada hubungan antara erupsi gunung merapi, Gerhana matahari dan Gempa Pantai selatan ?

1

Dua hari ini terjadi beberapa fenomena geologi yang terjadi secara berkelanjutan mulai dari gerhana matahari cincin tanggal 21 Juni 2020, kemudian erupsi gunung merapi pada 21 Juni 2020, lalu gempa bumi yang mengagetkan warga jogja dan sekitarnya pagi tadi. Banyak masyarakat pun menanyakan apakah ada kaitannya antara fenomena-fenomena tersebut ? bahkan sampai terdapat trending di twitter mengenai “Kiamat” yang diramalkan berdasarkan penafsiran kalender suku maya yang akan jatuh pada hari Minggu, 21 Juni 2010. Nah apakah semua pertanyaan dan berita kiamat itu benar adannya ?

“Wah bang kok jadi takut aku”

“Gakpapa thole, jangan takut, bentar abang jelasin dulu”

Erupsi Gunung Merapi 21 Juni 2020

Gunung Merapi mengalami dua erupi pada Minggu (21/6/2020). Erupsi terjadi pada 09.13 WIB dan 09.27 WIB. Letusan itu bahkan sempat mengakibatkan hujan abu di Magelang, Jawa Tengah, dan Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta.

https://www.instagram.com/p/CBrpraLhmf3/?utm_source=ig_web_copy_link

Erupsi Gunung Merapi terlihat dari Kismoyoso, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (21/6/2020). Gunung Merapi mengalami erupsi pada pukul 09.13 WIB dengan aplitudo 75 mm, dengan durasi letusan 328 detik dan tinggi kolom erupsi kurang lebih 6.000 meter dari puncak.(ANTARA FOTO/YUSUF NUGROHO)

Kepala Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) Yogyakarta Hanik Humaida menyebutkan, saat ini aktivitas Gunung Merapi sudah kembali melandai.  Gempa berkekuatan 5 magnitudo yang mengguncang sejumlah daerah di selatan Pulau Jawa pada Senin dini hari juga disebutnya tidak memengaruhi aktivitas Gunung Merapi.

Terkait erupsi pada Minggu, Hanik mengatakan, materi yang semburkan masih didominasi gas, yang memang akan bergerak menuju ke permukaan mendahului tubuh magma. Tekanan gas vulkanik mampu membobol bagian kubah lava 2018-2020 yang menutupi lubang letusan.

Berdasarkan perkiraan Paklek Ma’rufin menggunakan rumus Sparks (1997) dan Mastin (2009), diperhitungkan erupsi kali ini menyemburkan ~45.000 meter³ debu vulkanik yang terdorong ke arah barat mengikuti hembusan angin. Hal ini juga ditunjukan citra satelit menangkap pergerakan debu vulkanik ke barat-barat daya.

Letusan Merapi masih sesuai prediksi 

Sejak status aktivitas Merapi naik menjadi Waspada (Level II) lebih dari 2 tahun silam, telah berkali-kali terjadi erupsi eksplosif. Menurut BPPTKG hal ini masih dalam koridor yg wajar bagi Gunung Merapi pasca letusan besar 2010 Pola serupa terjadi pula pasca letusan besar 1930 & pasca letusan besar 1872. Sampai saat ini status aktivitas Merapi masih tetap Waspada (Level II) dengan radius zona terlarang adalah 3 km diukur horizontal dari kawah aktif. Jadi belum ada peningkatan status.

Erupsi Gunung Merapi terlihat dari Kismoyoso, Ngemplak, Boyolali, Jawa Tengah, Minggu (21/6/2020). Gunung Merapi mengalami erupsi pada pukul 09.13 WIB dengan aplitudo 75 mm, dengan durasi letusan 328 detik dan tinggi kolom erupsi kurang lebih 6.000 meter dari puncak.

Hujan abu di 8 kecamatan Pascaerupsi, sebagian wilayah Kabupaten Magelang, Jawa Tengah mengalami hujan abu vulkanik. Menurut data BPBD Magelang, hujan abu terjadi di 8 kecamatan yakni Srumbung, Dukun, Sawangan, Salam, Muntilan, Ngluwar, Mungkid, dan Borobudur. Di Kecamatan Srumbung, hujan abu terjadi cukup deras. Sedangkan kawasan lainnya mengalami hujan abu ringan.

“Awalnya tidak deras tapi lama-lama deras. Kalau keluar rumah bikin kelilipan mata. Siang ini sudah mereda,” kata Kepala Dusun Menayu Kecamatan Muntilan Leo Bayu Aji.

Gunung Merapi Alami Peningkatan Kegempaan Sebelum Erupsi

Gunung Merapi mengalami peningkatan kegempaan sebelum erupsi dengan letusan eksplosif. Peningkatan kegempaan ini sudah terjadi sejak beberapa minggu lalu. Sebelum letusan eksplosif ini telah terjadi peningkatan kegempaan sejak 8 Juni 2020 yang didominasi oleh peningkatan jumlah gempa vulkano-tektonik (VTA) dalam. pada Sabtu (20/6) kemarin, jumlah gempa VTA mencapai 18 kali. Sehingga, dalam periode 8-20 Juni telah terjadi gempa VTA sebanyak 80 kali.

Peningkatan gempa VTA sebelumnya juga terjadi pada Oktober 2019-Januari 2020 dengan energi yang lebih besar namun tidak diiringi dengan letusan. Kejadian letusan semacam ini masih dapat terus terjadi. Bersama dengan munculnya gempa VTA sejak Oktober 2019, letusan-letusan eksplosif ini menjadi indikasi bahwa suplai magma dari dapur magma masih berlangsung.

Berdasarkan catatan kejadian-kejadian letusan Merapi hingga saat ini, diketahui letusan eksplosif bisa saja terjadi secara tiba-tiba atau dapat didahului oleh peningkatan aktivitas vulkanik.

☹ Bisa woro – woro dulu ya Bang kalau letusan bisa diprediksi..

😊 Cuma diperkiraan secara umum saja berdasarkan pemantauan peningkatan aktivitasnya.

Pada letusan kali ini terpantau bahwa terjadi peningkatan aktivitas vulkanik sebelum letusan, bentuknya beragam dan tidak konsisten sehingga tak dapat dijadikan indikator akan terjadinya letusan eksplosif. Namun demikian secara umum dapat dipahami bahwa terjadinya peningkatan aktivitas vulkanik meningkatkan peluang terjadinya letusan eksplosif.

Gambar. Histogram Kegempaan Harian Gunung Merapi Terlihat ada peningkatan sejak Awal Juni 2020.

Gempa Jogja-Pacitan 22 Juni 2020

Sementara itu Tim Badan Meteorlogi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta terus memantau pergerakan serta dampak gempa di Pacitan Jawa Timur, Senin (22/6/2020) dini hari tadi. Setelah dilakukan pengamatan lebih lanjut, kekuatan gempa di Pacitan tersebut terus bergerak dan mencapai 5.1 magnitudo. Akibatnya dampak yang dialami juga terasa hingga ke wilayah Borobudur Kabupaten Magelang.

https://www.instagram.com/p/CBtkkrJB566/?utm_source=ig_web_copy_link

Gambar : Lokasi Pusat Gempa di laut 107 Km Barat Daya Pacitan

Kepala Stasiun Geofisika I BMKG Yogyakarta Agus Riyanto mengatakan, dalam gempa di Selatan Kota Pacitan kali ini termasuk tergolong kegempaan menengah. Sehingga dampak getaran gelombang yang menjalar meluas ke wilayah di sekitar Pacitan. Beruntungnya pergerakan subduksi atau aktivitas tektonik dari sumber gempanya itu berupa patahan  turun atau ke bawah. Sehingga tidak menimbulkan Tsunami. Gempa yang berpusat di Pacitan itu juga terdeteksi di stasiun pengamatan Gunung Merapi.

Gambar .Gempa tadi pagi juga terpantau di seismogram BPPTKG Gunung merapi.

 

Gerhana Matahari Cincin Dikaitkan dengan Teori Kiamat Bumi      

Fenomena alam titik balik matahari dan gerhana matahari cincin (GMC) terjadi pada Minggu (21/6). Banyak teori konspirasi dunia mengaitkan kedua fenomena langka ini dengan hari kiamat.

Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (LAPAN) menyebut fenomena ini sebagai cincin api solstis. Fenomena ini terbilang langka karena terjadi terakhir kali pada 21 Juni 1648 dan akan terulang lagi pada 21 Juni 2039.

Sejumlah teori konspirasi mengaitkan fenomena langka ini dengan hari kiamat. Seorang penginjil Kristen, Paul Begley mengatakan bahwa cincin api solistis menandakan akhir dunia yang telah dekat. egley menunjukkan bahwa beberapa dari 10 tulah Firaun dalam Alkitab sudah melanda dunia saat ini. Salah satunya adalah wabah belalang serupa di Alkitab yang terjadi di beberapa bagian Afrika, Timur Tengah, dan Asia. Dikutip dari Live Science, Begley mengaitkan cincin api solstis dengan tulah kesembilan, yakin kegelapan. Dalam kanal YouTube pribadi, Begley mengatakan gerhana matahari solistis bisa menjadi tulah. Akan tetapi, Begley tidak menyebutkan tulah lain yang mencakup katak, penyakit sampar, lalat pikat, bisul atau barah, kutu, hingga sungai yang berubah menjadi darah. Selain Begley, teori konspirasi juga menyebut bahwa perhitungan ulang kalender Maya menunjukkan kiamat akan terjadi pada 21 Juni 2020. Pernyataan itu muncul setelah klaim kiamat melanda seluruh dunia pada 21 Desember 2012 lalu. Meski meleset, tahun tersebut diprediksi sebagai awal dari akhir dunia.

Lalu ada Laporan malapetaka bumi muncul setelah pengguna Twitter bernama Paolo Tagaloguin mengunggah serangkaian cuitan yang mengklaim telah menghitung ulang tanggal berakhirnya kalender Long Count Mesoamerika.

Menurut New York Post, Tagaloguin mencatat perbedaan dalam cara perhitungan kalender. Akibatnya, beberapa laporan media mengatakan tanggal sebenarnya kalender Maya berakhir adalah 21 Juni 2020. Dilansir dari Mumbalive, Tagaloguin menghitung berdasarkan kalender Julius. Ia mengatakan, berdasarkan kalender tersebut, saat ini Bumi berada di tahun 2012, mendekati kiamat yang terjadi tanggal 21 Desember 2012. Paolo dalam cuitannya menyebut jumlah hari yang hilang dalam satu tahun karena pergeseran dari Kalender Julian ke Kalender Gregorian yang saat ini digunakan oleh manusia adalah 11 hari. Selama 268 tahun menggunakan Kalender Gregorian (1752-2020) dikalikan 11 hari menghasilkan 2.948 hari. Jumlah 2.948 hari kemudian dibagi 365 hari (per tahun) menghasilkan 8 tahun. Kemudian 2020 dikurangi 8 menghasilkan 2012.


Menanggapi berbagai teori konspirasi yang muncul, LAPAN mengatakan bahwa pernyataan Tagaloguin tersebut sebagai sesuatu yang tidak masuk akal. Peneliti LAPAN, Rhorom Priyatikanto mengatakan bahwa Tagaloguin hanya mencoba mencocokkan berbagai faktor saja, tapi tanpa dasar yang kuat. “Pemikiran Tagaloguin yang menggunakan aturan kalender Julian tidak masuk akal. Hanya cocok-mencocokkan tanpa dasar yang kuat,” kata Rhorom.

“ Owalah jadi berita kiamat tanggal 21 Juni 2020 itu hoax ya bang”

“ Iya thole setelah abang telusuri peramalan kalender suku maya tersebut merupakan cocoklogi dengan gerhana matahari yang sedang berlangsung, oh iya gerhana matahari itu merupakan proses astronomi yang bias dihitung lho ya, dimana posisi matahari bulan dan bumi pada posisi sejajar”

“ Nah trus apakah ada kaitannya gerhana matahari dengan erupsi gunung merapi bang ”

“ Gini, Bisa dikatakan tidak ada hubungannya sama sekali, seperti yang sudah dijelaskan bahwa aktifitas vulkanisme gunung merapi sudah berlangsung lama bahkan terakhir bulan mei kemarin erupsi beberapa kali, dan memang untuk sekarang mulai meningkat lagi dilihat dari kegempaan vulkaniknya yang meningkat dan kemarin terjadi erupsi kolom mencapai 6000 m ”

“ oh gitu paham-paham sekarang, nah kan merapi kegempaannya meningkat bang apakah gempa tadi pagi juga ada kaitannya dengan aktivitas vulkanisme merapi”

“ Wah udah mulai kritis kamu yaa hehe, jadi gini secara umum tidak ada hubungannya antara aktivitas erupsi merapi dan gempa tadi pagi , sebab gempa tadi pagi lebih diakibatkan dari gerakan lempeng indo Australia yang menunjam lempeng Eurasia (subduksi) dilihat dari gerakan yang termasuk normal fault serta hiposenter yang menengah , gempa tadi lebih cenderung akibat deformasi batuan kerak yang mengalami proses slabing dan itu merupakan hal yang biasa terjadi dan tidak ada kaitannya dengan aktivitas merapi”

 

 

 

 

 

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

1 KOMENTAR

  1. Lha…. You…. Kuwi….
    Erupsi merapi déhém, gempa dinihari dg episentrum 107 km barat daya Pacitan, serta gerhana matahari terjadi beruntun itu bertepatan dental hari ulang tahun pak Jokowi Presiden kita.
    Alam saja mengucap salam met Utah pak Jokowi. Mugi gangsar anggen ndiko ngasto pusaraning projo. Toto titi tentrem kertoraharjo menuju jayanya Nuswantoro.
    Salam hangat dari bunda pertiwi dan bopo angkoso.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here