Turunnya Rupiah, Minyak Mentah dan Muka Tanah

0

Selain rupiah dan harga minyak mentah yang terjun bebas, muka tanah di beberapa kota metropolitan juga terus mengalami penurunan. Jakarta, Bandung, Surabaya dan Semarang. Uniknya, tak seperti praduga masyarakat pada umumnya, penurunan muka tanah justru terjadi dengan sendirinya. Lha kalau anjloknya rupiah dan harga minyak mentah?


Beberapa waktu lalu dollar sudah tembus 16.300 bahkan pernah lebih dari angka tersebut dan hampir menyentuh posisi setinggi saat krisis 1998 dulu. Menurut penjelasan Pakde Mardigu, kondisi ini disebabkan karena menurunnya aktivitas ekspor. Akibatnya, dollar jadi langka di Indonesia. Hal ini diperparah dengan wabah corona yang terjadi. Saat kondisi global tidak stabil, Indonesia akan menjadi sangat terimbas karena Indonesia masih begitu  tergantung dengan berbagai produk dari mancanegara.

🙁 Lha tapi kok kita masih impor teros..

Selain rupiah, ternyata pasar minyak dunia juga sedang berduka karena harga minyak nyungslep di sekitaran 20$ per barel. Kondisi ini merupakan titik terendah dalam 3 dekade terakhir. Turunnya harga minyak kali ini dikarenakan kolapsnya perekonomian China karena wabah COVID-19, sedangkan, China merupakan salah satu negara importir minyak terbesar. Ketika produksi tetap dan ngga ada pembelinya, maka produk jadi melimpah di pasaran dengan harga murah meriah. Imbasnya, industri migas jadi lesu. Perusahaan harus melakukan penghematan anggaran dengan merumahkan karyawan.

🙁 kan semua orang juga sedang dirumahkan bulek

Kedua kasus di atas akan membaik seiring dengan pemulihan kondisi perekonomian dan stabilitas sosial. Semoga ya. Namun berbeda halnya dengan penurunan muka tanah. Tak memandang apa yang terjadi, muka tanah akan secara menerus mengalami penurunan. Hanya saja, seberapa besar laju penurunan, memang juga bergantung pada sikap manusia yang tinggal di atasnya.

Salah satu yang paling kentara adalah penurunan muka tanah Ibu Kota, yang beberapa waktu lalu menjadi salah satu biang kerok terjadinya banjir. Titik titik ini menjadi kantong air, karena sebagaimana fitrahnya, air mengalir ke tempat yang lebih rendah. Namun ternyata, tak hanya Jakarta, beberapa kota besar mengalami hal serupa. Bandung, Surabaya dan Semarang contohnya.

Penurunan muka tanah di Kota Metropolitan

Berdasarkan diskusi Paklek Dasapta, Dosen Hidrogeologi ITB dan Penggiat Media Sosial bersama dengan Bulek Sarah (format podcast), peneliti dari LIPI yang tahun lalu menyelesaikan disertasinya mengenai penurunan muka tanah di Demak. Dalam percakapan tersebut, Bulek Sarah menyatakan bahwa penurunan muka tanah bisa saja terjadi secara alamiah. Hal ini disebabkan oleh proses kompaksi (pemadatan) yang signifikan pada endapan berusia lebih muda dari 10.000 tahun untuk kasus kawasan Demak. Endapan semacam ini menyusun sebagian besar kawasan metropolitan.

🙁 Kenapa orang orang tertarik tinggal di kawasan seperti ini ya?

Pertama karena ketersediaan air yang relatif dangkal, morfologi yang datar, dan juga suburnya kandungan tanah. Jadi ya sekonyong–konyong, muka tanah bakal terus ambles, eh ndlesep, karena kondisi alam dan ditambah faktor manusia: pengambilan air tanah dan beban bangunan. Maka biasanya laju penurunan mengalami percepatan seiring dengan pertumbuhan kawasan urban.

🙁 Jadi kenapa bisa secara natural penurunan tanah terjadi?

Kompaksi dan Dekomposisi, Alamiah Terjadi

Proses Kompaksi memperkecil volume material (usgs.gov)

Proses kompaksi merupakan penyebab utama penurunan muka tanah. Endapan yang tertimbun oleh lapisan diatasnya akan mendapat beban dan tertekan. Tekanan ini yang memampatkan material yang awalnya masih lepas – lepas menjadi lebih memadat sehingga ketebalan lapisan berkurang. Maka yang terjadi adalah penurunan muka tanah.

 

Proses kompaksi paling terlihat pada lapisan lempung, sehingga lapisan ini kerap menjadi parameter yang pertama dilihat dalam pemetaan penurunan muka tanah. Lempung memiliki nilai kompresibilitas paling tinggi. Artinya, jika suatu endapan yang terdiri dari beberapa lapisan dengan ukuran butir yang beragam mengalami tekanan / kompaksi, maka lapisan lempung memiliki perubahan ketebalan yang paling signifikan.

Terlebih lagi lempung akan membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai ketebalan seperti semula, jika air kembali hadir mengisi lapisan. Karakteristik ini dikenal dengan istilah swelling. Air yang terserap pada lempung tidak akan sebanyak kehadiran air yang terperangkap saat proses sedimentasi dan kompaksi. Hal ini mengapa pengambilan air tanah juga harus memperhatikan karakteristik dari akuifernya.

Material berukuran lebih halus memiliki proporsi kompaksi yang lebih besar, dan paling besar adalah material berukuran lempung yang tersusun oleh material organik (fao.org)

Selain itu, jika lempung mengandung material organik, meski tanpa beban dari permukaan dan tanpa menghiraukan proses kompaksi, lapisan ini akan mengalami penipisan. Material organik yang terkandung pada lapisan lempung mengalami dekomposisi, sehingga secara ukuran butir materialnya pun akan berubah. Peristiwa ini terjadi pada lapisan endapan danau yang menyusun sebagian kawasan di Cekungan Bandung. Akibatnya, secara alamiah proses ini juga berperan dalam mempercepat laju penurunan di kawasan tersebut.

Penurunan muka tanah pada kawasan cekungan bandung di enam jangka waktu pengukuran yang berbeda (Gumilar dkk., 2012; Gumilar, 2015)

Lapisan Overpressure Paling Berpotensi Mengalami Pemadatan

Penurunan muka tanah dilihat dengan mengukur kondisi tekanan pori yang terdapat pada antar butir endapan. Terdapat tiga kemungkinan kondisi lapisan endapan, apakah tekanan pori dalam kondisi normal, underpressure (subnormal/depleted) atau overpressure terhadap tekanan hidrostatik. Kondisi normal adalah ketika tekanan fluida pada pori seusai dengan kondisi normalnya, di mana tekanan akan meningkat seiring dengan penambahan kedalaman karena proses kompaksi, namun air masih dapat bergerak bebas meninggalkan akuifer. Kondisi tekanan overpressure terjadi ketika fluida terjebak dalam pori dan tak dapat berpindah. Biasanya kondisi ini tedapat pada lapisan lempung yang memiliki permeabilitas yang rendah. Sebaliknya, kondisi underpressure terjadi ketika fluida telah dieksploitasi, sehingga tekanan pori berada di bawah kondisi hidrostatik pada kedalaman tersebut.

🙁 Wah berarti yang overpressure itu airnya jadi tertekan karena self – isolation di dalam akuifer  ya bulek.. lha kayak aku sekarang ini…

Nah, menariknya tekanan pori pada kondisi overpressure masih memiliki kemungkinan penurunan yang signifikan terutama jika kemudian terjadi eksploitasi air tanah. Jadi meski terjadi secara alamiah, aktivitas manusia (misal beban di permukaan) dapat memperbesar laju penurunan. Hal inilah yang diprediksi akan terjadi pada  kawasan Demak, dalam riset disertasi dilakukan oleh Bulek Sarah. Pada sebagian titik pengamatan tekanan pori pada lapisan lempung berada pada kondisi overpressure. Jika dibandingkan dengan Semarang, di mana pada sebagian besar titik pengamatan sudah pada kondisi underpressure, maka Demak memiliki potensi kecepatan penurunan yang lebih besar nantinya. Terutama ketika ekploitasi air tanah dan pembangunan infrastruktur dilakukan semasif Semarang saat ini.

Berdasarkan pengukuran menggunakan GPS yang kemudian dikoherensikan dengan data DInSAR Kota Semarang mengalami penurunan muka tanah dengan kecepatan rata-rata sebesar 4,37±4 cm/tahun. Penurunan terbesar berada di beberapa titik di Kecamatan Mijen dengan penurunan paling tinggi sebesar 20,91±4,89 cm/tahun. Sedangkan wilayah dengan rata-rata penurunan terbesar adalah Kecamatan Genuk dengan penurunan sebesar 10,35±1,02 cm/tahun. Wilayah yang terbentuk dari aluvial memiliki nilai penurunan yang lebih tinggi dari daerah dengan susunan stratigrafi lainnya (Islam dkk., 2017)

Pada kawasan Demak, kontribusi kompaksi alamiah jauh berbeda dari Semarang yang hanya 4-9%, kompaksi alamiah berkontribusi 60 – 100% terhadap terjadinya penurunan muka tanah (Rahmawan dkk., 2016)

Cara mengukur penurunan muka tanah

Ada beberapa metode untuk mengamati penurunan muka tanah. Metode pertama adalah melalui pengamatan secara visual yang langsung dilakukan di lokasi yang diamati. Pengukuran secara detil dilakukan menggunakan sebuah instrumen, yang dinamai ekstensometer, di mana instrumen tersebut ditanam dalam suatu lubang bor untuk mengukur perubahan pada lapisan tertentu.

Namun, metode ini terbilang cukup merepotkan, karena jika ingin melihat perubahannya terhadap waktu (multi-temporal), peneliti harus berulangkali meninjau lokasi. Maka terdapat metode lainnya, yaitu dengan menggunakan data satelit. Namun sayangnya, pengukuran yang dihasilkan oleh satelit terkadang berbeda dengan pengamatan yang diukur langsung di lapangan. Validitasnya tak sebaik pengukuran lapangan dengan menggunakan ekstensometer.

Tapi bagaimanapun yang terpenting dari suatu pengukuran adalah representatif tidaknya titik titik pengamatan. Artinya, semakin banyak titik pengamatan data yang dihasilkan akan semakin baik dan akurat untuk menggambarkan kondisi penurunan muka tanah secara regional.

🙁 Lha kalau terjadi secara alamiah. Terus manusia bisa apa ya untuk mengurangi atau bahkan meniadakan laju penurunan muka tanah?

🙂 kapan waktu kita cerita lagi tentang ini ya.. Udah kepuanjangan ini..

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here