Menghitung Volume Banjir Jakarta 2020

0

” Mau siapapun gubernur dan presidennya. Mau naturalisasi atau normalisasi. Sudah dari sananya Jakarta itu kawasan banjir. Apalagi diguyur dengan intensitas curah hujan yang sangat tinggi, memecahkan sejarah sejak pertama kalinya pengukuran intensitas curah hujan dilakukan di zaman kolonial.

Blok diagram Dataran Banjir dan meander sungai (sumber : http://floodsworld.blogspot.com/)

Secara bentuk relief muka buminya saja Jakarta merupakan dataran banjir (flood plain). Dataran ini terbentuk akibat proses sedimentasi saat aliran sungai meluap ke dataran di sekitarnya. Sungai – sungai yang menuruni tinggian di selatan Jakarta, membawa aliran air bermuara ke Teluk Jakarta. Dan pada umumnya, dataran banjir terbentuk di sekitar aliran sungai yang berkelok-kelok (meandering) atau pada titik pertemuan anak sungai dengan aliran sungai utama, seperti tergambar dalam Gambar di samping

Jakarta dan Sungai Ciliwung

Dengan keberadaan 13 aliran sungai yang melintasi Kota Jakarta, maka memang cukup banyak dataran banjir yang tersebar di wilayah DKI Jakarta. Oleh karena itu, cukup bisa dimaklumi bahwa potensi banjir di wilayah DKI Jakarta memang sangat tinggi.

. Sket 13 aliran sungai yang melintasi Kota Jakarta
(sumber : http://bebasbanjir2025.wordpress.com/konsep-pemerintah/bappeda-dki-jakarta/)

Sungai Ciliwung merupakan  sungai yang paling besar kontribusinya terhadap  potensi kejadian banjir di wilayah DKI Jakarta. Menurut NEDECO (1973), luas Daerah Aliran Sungai (DAS) Ciliwung sekitar 347 km2, terluas dibandingkan DAS lainnya.Panjang aliran Sungai Ciliwung mulai dari hulunya di daerah Gunung Gede – Pangrango (Kabupaten Bogor) hingga daerah hilirnya di daerah Pluit (Jakarta Utara) sepanjang 117 km, terpanjang dibandingkan aliran sungai lainnya. Selain itu, aliran Sungai Ciliwung di Kota Jakarta melintasi banyak perkampungan, permukiman padat penduduk dan permukiman kumuh. Aliran sungai ini pula yang aksesnya langsung menuju jantung Kota Jakarta dimana lokasi Pusat Pemerintahan berada. Akibatnya, jika sungai ini meluap dan membanjiri Jakarta dalam waktu yang relatif lama maka dampaknya dapat melumpuhkan segala aktivitas ekonomi, sosial maupun aktivitas pemerintahan yang terpusat di Kota Jakarta.

Tabel 1. Morfometri Aliran Sungai di Wilayah DKI Jakarta

Selain Sungai Ciliwung, Sungai Angke dan Sungai Pesanggrahan juga memberikan kontribusi yang cukup signifikan terhadap potensi banjir di wilayah DKI Jakarta. DAS Angke memiliki luas sekitar 263 km2  dengan panjang aliran sungai utama 100 km, sementara DAS Pesanggrahan  memiliki  luas 110 km2 dengan panjang aliran sungai utama 83 km. Sungai Angke berhulu di daerah Semplak (Kabupaten Bogor), mengalir ke wilayah Tangerang  Selatan, Kota Tangerang, Jakarta Barat  dan bermuara di Muara Angke (Jakarta Utara), sedangkan Sungai Pesanggrahan berhulu di daerah Tanah Sereal (Kabupaten Bogor), mengalir melalui Kota Depok, wilayah Jakarta Selatan, Kota Tangerang, wilayah Jakarta Barat  untuk  kemudian bergabung dengan aliran Sungai Angke dan juga bermuara di Muara Angke (Jakarta Utara).

Banjir ini, dari mana datangnya?

Namun menariknya, banjir awal tahun ini bukan berasal dari kiriman air Sunagai Ciliwung seperti banjir – banjir Jakarta pada umumnya. aliran Sungai Ciliwung tidak menunjukkan adanya debit air yang ekstrim dan bukan banjir terparah yang pernah terjadi. Dan hasil pemetaan BNPB maupun citra radar yang diperoleh LAPAN menunjukkan bahwa kawasan banjir tidak terkoneksi dengan kawasan limpasan aliran Ciliwung. Lalu dari mana air berasal?

Banjir Jakarta ternyata lebih dipengaruhi oleh tingginya curah hujan. Hujan ini berasal dari pertemuan sekumpulan awan, yang oleh para ahli disebut Mesoscale Convective System. Inilah sebab dari banyak kawasan di Jakarta banjir terutama pada kawasan cekungan yang mengalami penurunan muka tanah. Sejak akhir desember hingga satu Januari lalu, terekam adanya pergerakan MCS, baik yang berasal dari luar kawasan Jakarta ataupun yang tumbuh dari kawasan Jakarta itu sendiri.

🙁 Terus awannya ngumpul semua di Jakarta gitu ya, berasa reunian..

Intensitas hujan yang tinggi dan berdurasi lama menyebabkan banjir semakin parah. Contohnya pada kawasan Kasablanka. Akumulasi curah hujan tercatat sebesar 274 mm dalam waktu 24 jam. Begitu pula pada beberapa kawasan lainnya. Maka, dengan hujan yang sebanyak ini jika tidak dapat terinfiltrasi ke dalam permukaan tanah dengan baik dan tidak cukup ruang di permukaan untuk mengakumulasikannya dipermukaan, sangat dimungkinkan terjadi banjir banjir ekstrim semacam banjir Jakarta awal tahun kemaren.

Volume Banjir Jakarta

Berdasarkan data yang dirilis BMKG, tercatat bahwa curah hujan tertinggi mencapai 377 mm berada di kawasan TNI AU Halim. Beberapa titik pengukuran lainnya, menunjukkan curah hujan yang melebihi 200 mm, diantaranya Stasiun Klimatologi Tangsel (208.9 mm), ARG Tomang (225.6 mm), ARG Jatiasih (259.6 mm), ARG Teluk Pucung (234.6 mm), Cikeas (246 mm), Pos Hujan Sunter (236 mm), Pos Hujan Pulo Gadung (260 mm), dan Pos Hujan Kembangan (265 mm). Curah hujan setinggi ini baru pertamakali terjadi di Jakarta sejak tahun 1866, saat pertama kali dilakukannya pengukuran curah hujan.

Jika kawasan DKI Jakarta memiliki luas 674,68 km2 dan rerata curah hujan pada tanggal 1 Januari sebesar 200 mm, secara hitungan matematis sederhana air hujan yang terakumulasi di kawasan ini lebih dari 135 juta meter kubik. Itu baru air yang tertampung pada kawasan Ibu Kota. Jika seandainya memperhitungkan debit aliran dari tiga belas sungai yang membawa air dari area – area tinggian di Selatan Jakarta, seperti Puncak, Bogor maupun Cianjur, maka potensi banjir masih bisa lebih tinggi. Jika menghitung Ciliwung saja, yang menjadi kontributor terbesar dalam banjir Jakarta dengan luas bagian hulu mencapai  157 km2 dan rerata curah hujan 240 mm tiap harinya, maka lebih dari 38 juta meter kubik air yang akan digelontorkan ke area Jakarta.

🙂 Maka ada ratusan juta  meter kubik air yang mengalir, ia tahu harus bermuara ke mana, namun tak peduli bagaimana sekitarnya. Air selalu begitu. Jujur apa adanya.

🙁  wadalah dalah berapa galon air mineral itu yaa Bang.. apa bisa gitu dikurang-kurangin volume limpasan banjirnya..

Risiko Banjir Hanya Dapat Dikurangi, bukan Ditiadakan

Jadi, wilayah DKI Jakarta sejak dulu memang sudah merupakan daerah banjir. Apalagi, dengan keberadaan ke-13 aliran sungai yang melintasi wilayah DKI Jakarta menjadi akses bagi aliran air permukaan (direct runoff) yang bersumber dari curah hujan di daerah hulu untuk masuk ke wilayah DKI Jakarta. Pembangunan infrastruktur banjir dan upaya konservasi lingkungan untuk memperbaiki kondisi catchment area yang telah rusak dan jauh berkurang luasannya hanyalah merupakan langkah-langkah untuk mengurangi potensi resiko bencana banjir, bukan bersifat menghilangkan resiko banjir menjadi tidak ada sama sekali. Singkatnya, jika seandainya infrastuktur dan kondisi lingkungan  catchment area  dalam kualitas yang baik saja masih akan selalu ada potensi resiko banjir di wilayah DKI Jakarta, lantas bagaimana jika keduanya tidak berfungsi dengan baik?  Akibatnya seperti inilah yang terjadi sekarang. Bencana banjir semakin akrab dengan kehidupan masyarakat Jakarta dan sekitarnya setiap kali musim hujan tiba.

🙁 musim hujan kan masih panjang tuh.. ngga bermaksud nakut- nakutin sih.. tapi apa iya masih ada kemungkinan hujan selebat malam tahun baru?

🙂 Nah, sekarang BNPB sedang melakukan modifikasi cuaca, selain opsi opsi lainnya yang jadi solusi jangka panjang untuk meminimalisir dampak banjir.. penasaran kan gimana?

 

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here