Mangkuk Raksasa itu bernama Jakarta

0

Oleh : Muchlis Nurdiyanto & Maghfira Abida

Banjir sudah tidak dapat dipisahkan dari kehidupan masyarakat yang tinggal di wilayah DKI Jakarta dan sekitarnya. Setiap kali musim hujan tiba, Kota Jakarta seolah tidak pernah terlepas dari pemberitaan seputar kejadian banjir yang melanda wilayahnya. Kali ini, dongeng geologi akan menceritakan dari sisi faktor – faktor alam apa saja yang menjadi biang kerok dari banjir Jabodetabek yang kini perlahan mulai surut.

Banjir Tempo Doeloe

Sejarah mencatat banjir sudah mengakrabi Jakarta sejak awal pendirian kota ini oleh Pemerintah Hindia Belanda. Awalnya pada tahun 1619, Jan Pieterszoon Coen meminta Simon Stevin merancang sebuah kota di muara Sungai Ciliwung yang sering kebanjiran sebagaimana Kota Amsterdam di Belanda. Kota Batavia (sekarang menjadi Jakarta) dibangun dengan dikelilingi parit-parit, tembok kota, lengkap dengan kanal. Dengan kanal-kanal itu, Coen berharap bisa mengatasi banjir, sekaligus menciptakan sebuah kota yang menjadi lalu lintas pelayaran, sebagaimana kota-kota di Belanda. Sungai Ciliwung yang berkelok-kelok dialihkan dan digantikan sebuah terusan lurus yang membelah Kota Batavia menjadi dua bagian.

Namun demikian, sistem kanal yang telah dibangun ternyata tidak mampu mengatasi banjir besar yang melanda Batavia pada tahun 1932 dan 1933. Contoh bangunan kanal dan pintu air peninggalan jaman Belanda yang dahulu dibangun untuk mengatasi permasalahan banjir di wilayah Jakarta dan masih ada hingga kini antara lain Kanal Banjir Kalimalang, Pintu Air Matraman, dan Pintu Air Karet (sumber : Kompas, 18 Januari 2013).

Berarti sejak berabad lalu, yang kondisinya masih ijo royo – royo, banyak lahan hijau tetep aja banjir ya Paklek? Jangan – jangan ada sesuatu yang nyumbat di bawah sanaa…

😊 lhaiya mungkin.. kayak wastafel kalo pas mampet pipanya.. mbludak..

Cekungan Banjir

Menurut ahli geologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Pakde Jan Sopaheluwakan, banjir Jakarta tidak akan dapat diselesaikan dengan sistem kanal karena secara geologis Jakarta sebenarnya merupakan cekungan banjir. Sebaliknya, kawasan utara Jakarta (sekitar Ancol dan Teluk Jakarta) mengalami pengangkatan karena proses tektonik. Oleh karena itu, air dari 13 sungai yang bermuara di Teluk Jakarta tidak bisa mengalir lancar ke laut dan kerap terjebak di cekungan / “mangkuk” besar Jakarta. Cekungan ini terbentuk dari endapan aluvial muda sangat tebal, baik berasal dari endapan hasil erosi gunung api purba, maupun dari endapan sungai dan pantai. Endapan tersebut belum terkonsolidasi, sifatnya masih lepas – lepas dan belum memadat. Akibatnya, pun tanpa memperhitungkan pengaruh aktivitas manusia, secara alamiah, tanah di Jakarta perlahan memadat sehingga muka tanah mengalami penurunan.

Gambar 1. Titik penyebaran banjir jabodetabek 2020, berdasarkan data dari BNPB (kiri). Peta geologi pada kawasan Jakarta, yand dipetakan oleh Turkandi, dkk. pada tahun 1992. Warna pink mengindikasikan endapan volkanik, hijau merupakan endapan sungai dan pantai
Gambar 2. Dalam buku The Geology of Indonesia, Van Bemellen (1977) menunjukkan bahwa Kota Jakarta tersusun atas endapan pantai dan endapan volkanik. Sebuah gunung yang dinamai G. Careme (bukan Cereme) yang berada di antara Jakarta dan G. Parangro kini sudah rata, tak lagi menyisakan bentukan gunung api karena proses erosi yang sangat intens. Material hasil erosi itulah yang kemudian diendapkan dan melampar di area Jakarta.

Penurunan permukaan tanah secara alami ini semakin diperparah dengan pengambilan air tanah secara besar-besaran oleh masyarakat Jakarta. Penurunan permukaan tanah di Jakarta bervariasi di beberapa tempat. Pada awal tahun 2013, Kompas merilis data bahwa laju pengambilan air tanah antara 4-20 sentimeter per tahun, dan tentunya kini terus bertambah seiring dengan bertambahnya penduduk Jakarta.

Baca juga : whallah banjir 

Air Terjebak di Mangkuk Raksasa

Selain karena terbentuknya cekungan, banjir Jakarta ternyata juga dipengaruhi secara significant oleh kondisi bawah permukaannya. Pusat Penelitian Geoteknologi – LIPI, Bandung, melakukan studi mengungkap ada apa gerangan yang terjadi di bawah sana. Berdasarkan beberapa titik pengamatan kemudian tersusun penampang bawah Jakarta, yang ternyata didominasi oleh endapan lempung, sebagai endapan laut (warna biru muda pada gambar 3). Lempung merupakan salah satu lapisan yang mampu menahan air agar tidak melaluinya. Maka  air akan cenderung mengalir secara horisontal, dan tak akan meresap dan bergerak secara vertikal.

Gambar 3. Penampang sayatan vertikal yang menunjukkan komposisi dan dimensi persebaran endapan bawah permukaan di Jakarta (sumber : Puslitbang Geologi Kelautan, 2010)

Seperti kita ketahui bahwa Formasi Bojongmanik yang masif menyebar dgn arah hampir barat-timur (Serpong sampai Cibinong), bertindak seperti underground dam bagi air tanah yang mengalir dari daerah tinggian di Selatan Jakarta. Dulu Pakde pernah menjelaskan, bahwa air tanah pada lokasi ini umumnya keluar ke permukaan di sepanjang penyebaran formasi ini dan menambah Pasokan air permukaan yang mengalir ke hilir, ke Jakarta dan sekitarnya. Dalam kondisi jenuh air, hampir semua air hujan yang turun dibagian hulu akan menjadi air permukaan yang lari kemana-mana karena kapasitas sungai dan drainase yang ada sudah tak mencukupi.

Baca Juga : Bisakah banjir jakarta dikurangi

☹ kalau alirkan pakai kanal makin cepat sampai laut nya ya Paklek, kan harusnya jangan cepet – cepet sampai laut..

😊 meski secara teori biopori dan lubang – lubang vertikal akan membantu menyimpan air di bawah permukaan. Namun, perlu ditinjau juga kapasitas daya tampung  bawah permukaan, kalau tanah sudah jenuh dengan air..  ya air tetep bablas.. Tapi pakde bude di Pemprov pasti sudah punya hitungan, semua cara harus dioptimalkan..

 

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here