Berpuasa untuk Kelestarian Ekosistem

0

Tak hanya sekadar menahan haus dan lapar. Puasa melatih kita untuk menahan diri dari rasa ingin memiliki, menguasai atau segala sesuatu yang diluar fitrah manusia. Prinsip ini tak hanya diajarkan dalam Islam. Berbagai agama, seperti Nasrani, Hindu dan Budha juga menerapkannya dalam beberapa ritual ibadah untuk umatnya. Hal yang menarik dari puasa adalah manusia dituntut untuk mencukupkan diri, mengonsumsi sesuai dengan kebutuhannya saja. Value inilah yang sesungguhnya sangat selaras dengan prinsip kelestarian alam.

Makhluk Hidup dalam Rantai Makanan

Pada dasarnya semua makhluk hidup membutuhkan makanan untuk bertahan hidup, sederhananya makanan seperti bahan bakar kendaraan, tanpa bahan bakar maka kendaraan tidak akan bisa berjalan. Manusia mungkin hanya dapat bertahan hidup selama beberapa hari saja tanpa makan dan minum, tetapi beberapa hewan ini dapat bertahan hidup dalam waktu bulanan bahkan puluhan tahun. Di alam semua makhluk hidup mengikuti irama Sunatulloh yang kita kenal dengan rantai makanan.

Pada tiap jaring makanan, energi akan pindah setiap kali memakan satu organisme lain. Karena itu, harus ada lebih banyak tanaman daripada pemakan tumbuhan. Harus ada lebih banyak pemakan tumbuhan daripada pemakan daging. Meskipun ada persaingan yang ketat antara hewan, ada juga saling ketergantungan. Bila salah satu spesies punah, hal itu dapat mempengaruhi seluruh rantai spesies lain dan memiliki konsekuensi tak terduga.

☹ Posisinya manusia di mana itu Dhe? Lha wong apa aja dimakan jeee..

Tugas Manusia di Bumi

Manusia datang/didatangkan ke bumi dimaksudkan untuk memanfaatkan sumber daya itu dan menjaga keseimbangan itu. Dalam perjalanannya manusia menjadi super predator karena hampir semua rantai makanan dilahapnya secara rakus dan berlebih lebih. Gusti Alloh memerintahkan umatnya untuk memahami fitrahnya di bumi sebagai bagian dari ekosistem.

Al Qur’an surat Al-Anbiya 107, Allah SWT berfirman : Dan tiadalah kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam

Rahmatan lil alamin bukanlah sekedar slogan Islam, tapi merupakan tujuan dari Islam itu sendiri, maka sudah sewajarnya apabila Islam menjadi pelopor bagi pengelolaan alam dan lingkungan sebagai manifestasi dari rasa kasih bagi alam semesta tersebut.  Kita punya kewajiban menjaga lingkungan dan menghormati alam semesta yang mencakup jagat raya yang didalamya termasuk manusia, tumbuhan, hewan, makhluk hidup lainnya, serta makhluk tidak hidup.

☹ Waduh bukan cuma rindu aja yang berat ya Dhe, tugas manusia juga

😊  Lhaya itu, tapi Gusti Allah itu menciptakan manusia itu ya sudah sama aturan – aturannya, tinggal manusianya nurut apa ndak..

Puasa, solusi sustainabilitas ekosistem

Bagaimana agar manusia tidak rakus dan sustainabilitas makanan tetap terjaga??? Salah satunya dengan PUASA WAJIB SEBULAN PENUH dan puasa sunah lainnya. Puasa yg bagaimana? Puasa yg sesungguhnya yaitu hanya makan 2 x, saat saur dan buka saja. Jadi ada 1 porsi yg disimpan sebagai cadangan makanan di masa depan. Jika makanan yang tidak dimakan, itu juga  berarti bahwa semua sumber daya dan input yang digunakan dalam produksi semua makanan juga tidak ada (berkurang).

Puasa sesuai aturan tidak boleh berlebih lebihan. Tapi sayang, budaya berpuasa kita lebih konsumtif dan berlebihan. Setelah buka kita makan sebanyak banyaknya bahkan melebihi saat tidak bulan puasa. Hal ini bisa dilihat dari harga harga yang selalu naik begitu memasuki bulan dan saat Romadhon. Padahal Gusti Alloh  mengingatkan lewat Surat Al A’raf 31 :

Hai anak Adam, pakailah pakaianmu yang indah di setiap (memasuki) mesjid, makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.”

Makanan yang Terbuang

Ada kajian menarik dari Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), bahwa setiap tahun 1,3 miliar ton makanan yang terbuang, setara dengan jumlah yang sama yang diproduksi di seluruh sub-Sahara Afrika. Pada saat yang sama, 1 dari setiap 7 orang di dunia kelaparan dan lebih dari 20.000 anak di bawah usia 5 mati setiap hari karena kelaparan. Sementara planet ini dipaksa berjuang untuk menyediakan  sumber daya yang cukup untuk mempertahankan 7 miliar penduduknya (diperkirakan menjadi  9 miliar pada tahun 2050). FAO memperkirakan bahwa sepertiga dari produksi pangan global akan terbuang atau hilang. Limbah makanan ini menjadi konstributor terhadap dampak lingkungan yang negatif. Makanan yang terbuang, itu  berarti bahwa semua sumber daya dan input yang digunakan dalam produksi semua makanan juga hilang.

berarti air juga termasuk? BBM juga dong yaa Dhe.. wah wah..

Nah iya, sebagai contoh dibutuhkan sekitar 1.000 liter air untuk memproduksi 1 liter susu dan sekitar 16.000 liter masuk ke dalam makanan sapi untuk membuat hamburger. Emisi gas rumah kaca dari sapi itu sendiri, dan seluruh rantai suplai makanan, semua berakhir sia-sia ketika kita buang makanan. Produksi pangan global menempati 25% dari seluruh lahan layak huni dan bertanggung jawab untuk 70% dari konsumsi air tawar, 80% dari deforestasi, dan 30% dari emisi gas rumah kaca. Ini adalah penyebab terbesar hilangnya keanekaragaman hayati dan perubahan penggunaan lahan.

Hasil penyelidikan FAO itu mengisyaratkan bahwa persoalan lingkungan tidak dapat dilihat sebagai suatu yang berdiri sendiri, namun sangat terkait oleh perilaku manusia terutama dalam memenuhi kebutuhannya.

Kerusakan Lingkungan, dampak limbah makanan

Beberapa hal yang patut dipertimbangkan bahwa “melimbahkan” makanan bukan hanya berdampak pada pemborosan keuangan. Limbah makanan juga akan menyebabkan, pertama Pencemaran Lingkungan. Kedua,  pemborosan konsumsi bahan bakar (yang digunakan untuk transportasi)  penyimpanan  dan pendistribusian. Selanjutnya, penggunaan bahan kimia – seperti pupuk dan pestisida yang telah digunakan selama masa penumbuhan tanaman. Dan terakhir, makanan membusuk menciptakan lebih banyak metana (salah satunya penyebab gas rumah kaca yang paling berbahaya dan berkontribusi terhadap perubahan iklim). Metana 23 kali lebih kuat daripada C02 menyumbang pembentukan emisi gas rumah kaca.

☹ Wah semoga bulan puasa menjadikan kita semakin mawas diri ya Dhe.. hidup sesuai dengan kebutuhannya bukan keinginannya.

😊 Kayak seperti yang dibilang Mbah Mahatma Gandhi, “earth provides enough to satisfy every man’s need, but not every man’s greed.”

Sebuah contoh satu tahun silam (yang tidak boleh lagi terjadi), Dinas Lingkungan DKI Jakarta mencatat adanya kenaikan volume sampah warga di Jakarta sebesar 4 persen selama bulan suci Ramadhan 2018. Selama bulan Ramadhan mulai 1 hingga 26 Ramadhan yang masuk ke TPST Bantargebang 7.999 ton per hari (tribunnews).

Demi lingkungan ciptaan Alloh SWT, hablul minal ‘alam, maka ayo kita mulai berpuasa sesuai perintah, kita berpuasa dengan sungguh sungguh artinya kita hanya makan 2 kali saja, secukupnya dan tidak berlebihan.

SEMOGA PUASA KITA TAHUN INI RAHMATAN LIL’ALAMIIN

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here