Sudahi Bencana Banjir Tahunan Ini

0

‘Langganan’ bencana tahunan anehnya menjadi slogan yang membuat kita seolah merasa tak jera. Belum terhapus dalam ingatan banjir bandang sentani yang menenggelamkan setidaknya 112 korban jiwa, banjir bengkulu yang membuat belasan ribu warga dievakuasi, dan kini banjir bandang sigi yang merjang ratusan rumah. Tak dipungkiri, penyebab utama banjir adalah meningkatnya intensitas hujan secara ekstrim yang dipicu oleh fenomena global di Samudera Atlantik secara periodik yang juga menyebabkan bencana ikutan lainnya, seperti puting beliung dan longsor.

BNPB Merilis data kerugian caturwulan pertama dan membandingkan dengan kerugian di tahun 2018. Perbandingan ini menunjukkan bahwa kejadian bencana, serta korban meninggal dan luka mengalami peningkatan yang siginificant. Sebaliknya, korban mengungsi dan jumlah kerusakan pemukiman menurun, meski masih menunjukkan angka yang fantastis.

Trend ini apa akan terus naik dari tahun ke tahun Dhe? Apa dari semua bencana yang sudah berulangkali ini, masih belum ada solusi?

😀   Meski rasa optimis ini kadang lebih mirip utopis. Tapi, apa ya ada pilihan lain selain mencari solusi untuk menyudahi.

Namun dibalik kondisi alam yang semakin ekstrim sebagai tanda perubahaan iklim yang telah terekam sejak tahun 2018, terdapat faktor penyebab lain yang tak kalah significant. Bagaimana perjalanan air selama di permukaan bumi atau “siklus air” yang sudah kita kenal lama sekali, sejak bangku sekolah dasar hingga perguruan tinggi. Bahwa lebih banyak air yang mengalir dipermukaan (run off) ketimbang terinfilrasi  sebagai air tanah (ground water). Kemudian fenomena alam ini tampak dalam kaca mata manusia sebagai bencana banjir.

Alih guna hutan sebabkan banjir, longsor dan puting beliung

Namun mengapa ini terjadi? Salah satu penyebab utamanya adalah perubahan fungsi hutan di gunung menjadi kawasan terbangun. Padahal, semua tahu bahwa perubahan itu menyebabkan air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah tapi berubah menjadi air banjir dan mengerosi tanah di gunung yg akan masuk dan akan mendangkalkan sungai. Seiring berjalannya waktu perubahan fungsi gunung itu semakin meluas dan terus makin meluas. Sehingga jumlah air banjir semakin besar, jumlah erosi semakin besar, sungai semakin dangkal dan BANJIR akan semakin meluas dikarenakan daya tampung sungai mengecil.

Salah satu penyebab longsor karena perubahan lahan hutan sebab selama ini tanah bisa tetap nempel di puncak dan lereng gunung karena adanya pohon. Selama ini akar serabut pohon berfungsi memperkuat ikatan tanah dan akar tunjangnya menjadi angker/pasak ke dalam tanah. Kanopi pohon menahan energi hujan yg turun sedangkan serasah di bawahnya menahan erosi dan menjadi media air hujan masuk ke dalam tanah. Hutan lebat dan serasah yg tebal bisa menyerap air hujan lebih dari 80%.

Hutan gunung yang padat, selama ini menyerap karbon dioksida dalam jumlah yg banyak. Perubahan lahan hutan menimbulkan panas sehingga bisa memancing dan atau membangkitkan angin. Akibatnya puting beliung semakin sering terjadi dan semakin besar skalanya.

Kelangkaan Air Surabaya

Tak hanya banjir, ubahan fungsi hutan juga menyebabkan fenomena kekeringan. Salah satu contoh dari sekian banyak fenoma kekeringan di tanah ibu pertiwi adalah apa yang terjadi di Surabaya, salah satu kota yang bergantung pada aliran Sungai Brantas. Tercatat bahwa PDAM Surabaya mendistribusikan 1 juta meter kubik air perharinya yang disalurkan ke rumah-rumah warga. Sumber air dari PDAM adalah 97 persen dari Sungai Brantas dan 3 persen dari Mata Air Umbulan.

Perubahan lahan hutan di hulu Sungai Brantas saat ini sangat masif sebab lahan hutan kawasan ini sudah berubah jadi wisata, permukiman dan persawahan. Ini berarti air hujan yang turun sedikit yang meresap, lebih banyak yang mengalir sebagai air banjir. Maka, wajar saja kekurangan debit sungai musim kemarau air PDAM sudah terasa beberapa tahun ini.

Saudara Ekologis

Apa hubungannya dengan siklus air tersebut? Bisa ditebak, ternyata kita yang tinggal di perkotaan bersaudara dengan masyarakat yg ada di pegunungan yaitu SAUDARA EKOLOGIS. Kita menyadari bahwa apa yg dilakukan saudara kita di gunung akan berdampak pada kita yang tinggal di kota. Pendekatan secara sosial ternyata menjadi kunci utama. Kita harus segera bersatu dan bersimbiose mutualisme demi keberlangsungan hidup bersama. Misalnya kita yg di kota mengajari kerabat kita di gunung untuk berusaha yg tidak merusak hutan, seperti beternak : beternak susu, beternak lebah, dll. Dan mestinya tidak sampai disitu kitapun bisa mengambil hasil itu dan membuat pabrik pengolahannya. Demikian juga perguruan tinggi di kota membuka penerimaan bidik misi anak anak SMA di kawasan itu. Setiap elemen dalam masyarakat memiliki tanggung jawab untuk mewujudkan ketangguhan bencana pada suatu area. Bukankah manusia dianugerahi akal sekaligus jiwa untuk merasai agar dapat hidup berkesinambungan dengan alam.

😀 Ini hanya ide yang lahir dari keprihatinan karena semakin mengerikannya bencana musiman di negara ini.

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here