Gempa Luwuk 12 April 2019, Tidak Ada Tsunami!

0
Patahan pada Kawasan Sulawesi Tengah, yang didominasi oleh desakan dari lempeng Banggai-Sula (Ferdian, dkk., 2010

Sebuah gempa kuat kembali mengguncang pulau Sulawesi pada Jumat 12 April 2019 ini. Gempa meletup pada di dasar Laut Banda pada pukul 19:40 WITA, berjarak sekitar 82 km Barat Daya Kepulauan Bangga, dekat dengan Kota Luwuk, sehingga gempa ini kemudian disebut Gempa Luwuk 12 April 2019.  Rilis pendahuluan BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) mencatat gempa ini merupakan gempa kuat (magnitudo 6,8) dengan sumber dangkal (kedalaman sumber 17 km).

Peringatan Dini Tsunami

Rilis BMKG, pemodelan mengindikasikan adanya potensi tsunami setinggi kurang dari 50 cm

Berdasarkan pemodelan gempa, serta besarnya magnitudo gempa dan begitu dangkal sumber gempanya menyebabkan sistem peringatan dini tsunami Indonesia (InaTEWS) segera aktif. Maka status Waspada (kode kuning) pun terbit untuk sebagian pesisir timur pulau Sulawesi, khususnya yang berhadapan langsung dengan sumber gempa. Dalam status Waspada semacam ini pemodelan matematis InaTEWS memperlihatkan gempa bumi tersebut berpotensi menghasilkan tsunami kecil setinggi maksimum 50 cm.

Gempa Tak Sebabkan Tsunami

Status Waspada ini diakhiri sejam pascagempa, setelah pengecekan lapangan yang dilakukan BMKG dan BPBD, dan juga pemantauan paras air laut berdasarkan marigram yang diproduksi stasiun-stasiun pasangsurut BIG (Badan Informasi Geospasial) di pelabuhan-pelabuhan terdekat dengan sumber gempa seperti Luwuk dan Kendari. Marigram itu tidak memperlihatkan tanda-tanda khas tsunami.

🙁 Tapi kan itu diketahui setelah gelombang mendekati daratan Paklek, lha kalau tsunaminya beneran ada, keburu telat dong ya..

Nah, analisis mekanisme fokus sumber gempa menjadi parameter yang sangat penting untuk menentukan apakah sebuah gempa bumi tektonik dengan sumber di dasar laut bisa menghasilkan tsunami ataukah tidak. Berdasarkan analisis mekanisme inilah diketahui tiadanya tsunami dari gempa bumi ini. Gempa Luwuk 12 April 2019 merupakan produk pematahan mendatar (strike-slip) ke arah timur laut. Sebaliknya tsunami hanya bisa terjadi apabila sumber gempa dasar lautnya merupakan pematahan naik (thrust) maupun turun (normal).

🙁 Lhoo, kalau sudah diketahui gempanya berasal dari pematahan mendatar kenapa muncul status Waspada tsunaminya?

😀 Masalahe le, mekanisme fokus sebuah gempa bumi baru diketahui dalam beberapa belas menit kemudian. Nunggu data dari banyak seismometer pada berbagai jejaring mulai masuk dan dianalisis.

🙁 berarti memang Ndak ada salahnya bersiap untuk skenario terburuk.

Dampak Gempa

Ketimbang potensi tsunaminya, sesungguhnya potensi dampak yang lebih besar dari gempa bumi ini terletak pada getaran tanah yang diakibatkannya. Badan Geologi Amerika Serikat atau USGS (United States Geological Survey) memiliki program evaluasi cepat dampak getaran gempa bumi global yang disebut PAGER (Prompt Assessment of Global Earthquake for Response). PAGER dirancang untuk membantu para pengambil keputusan penanganan pasca bencana agar bisa menentukan tingkat keparahan yang berkemungkinan terjadi akibat guncangan gempa dengan mengacu pada besarnya intensitas getaran tanah pada kawasan tertentu.

Menurut rilis pendahuluan USGS PAGER, getaran Gempa Luwuk 12 April 2019 dirasakan oleh 17,4 juta jiwa penduduk pulau Sulawesi. Dari jumlah tersebut sebanyak 17,1 juta jiwa merasakan getaran yang lemah (dengan intensitas hingga 4 MMI). Sementara 230 ribu jiwa lainnya merasakan getaran sedang (intensitas 5 MMI). Dan 140 ribu jiwa menderita getaran kuat (intensitas 6 MMI). USGS PAGER juga memprakirakan terdapat korban jiwa akibat guncangan gempa ini, yakni di antara 1 – 10 orang (pada probabilitas 95 %). Sedangkan potensi kerugian material diperkirakan berada pada angka 1 hingga 10 juta dollar (probabilitas 95 %).

Sesar Pelang sebabkan Gempa Luwuk

Peta sebagian sesar aktif Sulawesi. Sumber : PusGen Balitbang Kemen PUPR, 2017

Jika mengacu pada peta sesar aktif Indonesia 2017, sumber Gempa Luwuk 12 April 2019 berasal dari lokasi dengan sesar yang belum terpetakan. Namun di sisi utara sumber gempa ini, tepatnya di daratan Pulau Peleng, terdapat sejumlah sesar darat yang aktif dan telah teridentifikasi. Salah satu diantaranya adalah sesar Peleng, sesar sepanjang 44 km dengan orientasi baratdaya – timurlaut dan merupakan sesar mendatar. Andaikata sesar ini diperpanjang ke selatan menyusuri dasar laut, maka posisi sumber gempa akan tepat berimpit dengannya.

Kondisi Tektonik Sulawesi

Patahan pada Kawasan Sulawesi Tengah, yang didominasi oleh desakan dari lempeng Banggai-Sula (Ferdian, dkk., 2010)

Sumber Gempa Luwuk 12 April 2019 dan sesar Peleng merupakan satu dari sekian banyak torehan sesar aktif pada kerak bumi pulau Sulawesi. Mereka terpahat sebagai akibat dari proses pembentukan pulau Sulawesi yang unik dan sangat kompleks. Pulau besar yang bentuknya menyerupai huruf K ini dibentuk oleh desak-mendesak antara empat lempeng tektonik sekaligus. Masing-masing mikrolempeng Sunda (bagian dari lempeng Eurasia yang besar), mikrolempeng Maluku, mikrolempeng Laut Banda dan mikrolempeng Kepala Burung Irian. Interaksi mereka menyebabkan pulau Sulawesi sangat menarik dan sangat kaya akan mineral bahan tambang. Namun di sisi lain pulau ini juga dianugerahi oleh sesar-sesar aktif sumber potensial gempa bumi tektonik.

Baik di darat maupun di dasar laut. Potensi ini tak perlu ditakuti. Sebaliknya kita umat manusia yang harus mempelajarinya dan menyesuaikan diri dengannya. Menyesuaikan diri dengan alam yang terus berproses selama jutaan tahun terakhir.

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here