Banjir Yogyakarta dan Tergenangnya Bandara Baru

1

Tak ada yang lebih ikonis dari peristiwa banjir yang menggenangi sejumlah titik di propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta pada Minggu-Senin 17-18 Maret 2019 TU lalu, selain tergenangnya lokasi bandara baru Yogyakarta yang bertajuk NYIA (New Yogyakarta International Airport). Bagian-bagian lokasi proyek bandara baru ini tergenangi air, di beberapa titik bahkan cukup dalam. Tiga hari kemudian sisa-sisa genangannya masih dapat disaksikan melalui citra satelit, khususnya satelit Sentinel-1 melalui kanal tertentu. Di sisi lain pengelola proyek bandara bertutur dewatering (pengeringan air) langsung dilakukan begitu genangan terjadi. Dan dalam kurang dari 24 jam kemudian sebagian besar area proyek bandara NYIA sesungguhnya telah kering. Sebaliknya Kementerian Perhubungan menyebut kabar tergenangnya area proyek bandara itu sesungguhnya tidak benar (klik di sini).

Gambar 1. Citra satelit Sentinel-1 kanal NDWI yang menunjukkan genangan air (warna biru) di bagian selatan Kab. Kulonprogo. Nampak urugan landasan pacu yang relatif tersembul dari genangan.
Gambar 1. Citra satelit Sentinel-1 kanal NDWI yang menunjukkan genangan air (warna biru) di bagian selatan Kab. Kulonprogo. Nampak urugan landasan pacu yang relatif tersembul dari genangan. Sumber: Copernicus/Sentinel-1, 2019.

Hujan deras yang mengguyur dua hari (Sabtu dan Minggu) berturut-turut di Daerah Istimewa Yogyakarta memang sangat deras. Mas Farid, dengan menyadap data satelit GPM (Global Precipitation Measurement) untuk titik kota Yogyakarta memperoleh data intensitas akumulatif hujan melampaui 200 mm. Dalam catatan Badan Nasional Penanggulangan Bencana, intensitas 148 mm diantaranya turun hanya pada hari Minggu saja. Maka secara kasar, intensitas hujan selama dua hari itu hampir setara dengan intensitas hujan rata-rata yang mengguyur kawasan selama bulan Maret. Tak terelakkan, air yang berlimpah-limpah dari langit memicu bencana hidrometeorologis yang mengemuka sebagai gerakan tanah (longsor) dan banjir.

Mas Farid Nur ini belajar di Teknik Sipil UMY Yogyakarta sekaligus junior pak Ma’rufin di Jogja Astro Club. Melacak dan mengunduh data satelit menjadi salah satu kegemarannya.

Bencana gerakan tanah menerpa sejumlah titik di Kab. Bantul. Bencana terparah terjadi di Imogiri, dekat kompleks makam raja-raja Yogyakarta dan Surakarta. Tanah longsor menimbuni sejumlah rumah, menyebabkan dua orang meregang nyawa. Tanah longsor yang sama juga membuat sebagian kecil struktur makam raja-raja mengalami kerusakan parah akibat berdiri atas mahkota longsor. Sementara banjir juga menggenangi sejumlah titik di Kab. Bantul terutama yang bertempat di dataran rendah.

Gb 2. Data curah hujan per jam dan intensitas hujan akumulatif yang mengguyur kota Yogyakarta sepanjang Sabtu-Minggu 16-17 Maret 2019 yang diolah mas Farid.
Gambar 2. Data curah hujan per jam dan intensitas hujan akumulatif yang mengguyur kota Yogyakarta sepanjang Sabtu-Minggu 16-17 Maret 2019 yang diolah mas Farid. Sumber: Farid, 2019

Banjir juga menggenangi sejumlah titik dataran rendah di Kab. Kulonprogo. Sejumlah lokasi di sini dikenal sebagai daerah langganan banjir. Namun genangan yang menggetarkan barangkali yang terjadi di jalur lingkar selatan kota Wates. Jebolnya tanggul Kali Serang (Glagah) sepanjang 200 meter di desa Bendungan membuat air sungai dalam volume besar mengalir membanjir tak tertahankan ke pemukiman penduduk. Ratusan orang dipaksa mengungsi karenanya. Sementara genangan di lokasi proyek bandara baru Yogyakarta, yang berada di sisi barat Kab. Kulonprogo, relatif tidak banyak terekspos.

Daerah banjir di Kab. Kulonprogo umumnya berada di dataran rendah yang berdekatan dengan aliran sungai. Dataran rendah ini adalah ciri khas bentang lahan yang mewarnai pesisir selatan pulau Jawa bagian tengah, yakni dari Kab. Bantul di sisi timur hingga Kab. Cilacap di sisi barat. Daerah-daerah ini berbeda dibanding pesisir selatan pulau Jawa umumnya yang berupa jajaran perbukitan dan dikenal sebagai Pegunungan Selatan. Pakdhe Awang Harun Satyana menjelaskan dataran rendah ini merupakan jejak proses indentasi Jawa Tengah yang bekerja berjuta-juta tahun silam.

Indentasi itu lekukan. Jadi pulau Jawa bagian tengah mengalami lekukan di garis pantainya sehingga lebih menjorok ke daratan, baik di pesisir selatan maupun utara, dibandingkan garis pantai pulau Jawa bagian barat maupun timur. Indentasi ini berkaitan dengan aktifnya dua sesar besar berpuluh juta tahun silam dan kini telah mati. Kedua sesar besar yang bekerja berlawanan arah itu masing-masing adalah sesar besar Kebumen-Muria-Meratus dan sesar besar Cilacap-Pamanukan-Lematang.

Pakdhe Chusni Ansori menjelaskan kalau dataran rendah di sepanjang pantai Bantul hingga Cilacap terdiri atas dua bagian : alluvial pantai muda (APM) dan alluvial pantai tua (APT). Alluvial pantai muda tepat berbatasan dengan air laut dan merentang hingga sekitar 4 km ke utara. Di sini terdapat jajaran gumuk (bukit) pasir yang membentuk pematang pantai. Sebanyak 3 hingga 4 buah pematang pantai berdiri berjajar di sini, dengan ketinggian setiap pematang bervariasi dari 1 hingga 3 meter dari dasar lembah di sampingnya.

Di antara pematang-pematang pantai itu memang terdapat lembah-lembah, yang umumnya menjadi lahan pertanian atau perkebunan. Namun ada juga yang tidak dibudidayakan karena menjadi tempat mengalirnya sungai. Sedangkan di sisi utaranya, yakni mulai jarak 4 km hingga maksimum 7 km dari garis pantai, terbentang area alluvial pantai tua. Di sini gumuk-gumuk pasir juga masih ada, namun telah lebih landai dan banyak yang telah diratakan untuk pembangunan pemukiman.

Pakdhe Chusni Ansori ini salah satu sahabat karib alm pakdhe Rovicky. Sama-sama ngangsu kawruh di Jurusan teknik Geologi FT-UGM dan kini beliau menjadi salah satu peneliti senior di Balai Informasi Kebumian Karangsambung (BIKK) Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia di Kebumen.

Gb 3. Peta kawasan rawan banjir di Kab. Kulonprogo dan titik-titik genangan banjir pada kejadian Minggu-Senin, 17-18 Maret 2019.
Gambar 3. Peta kawasan rawan banjir di Kab. Kulonprogo dan titik-titik genangan banjir pada kejadian Minggu-Senin, 17-18 Maret 2019.Sumber : BNPB, 2019

Nah, titik-titik genangan banjir di Kab. Kulonprogo dan sebagian Kab. Bantul terletak di alluvial pantai ini. Demikian halnya lokasi pembangunan bandara baru Yogyakarta. Sisi selatan lokasi bandara baru Yogyakarta itu menempati alluvial pantai muda, sementara sisi utaranya menjadi bagian alluvial pantai tua. Area yang sudah diidentifikasi sebagai kawasan rawan banjir. Sehingga terjadinya banjir di lokasi proyek bandara baru ini sejatinya bukanlah hal yang aneh. Dan layaknya proyek infrastruktur berskala besar lainnya, potensi tersebut telah diantisipasi. Salah satunya dewatering, dengan cara mengoperasikan sejumlah pompa air berkekuatan besar guna menyedot air yang menggenang.

Pada dasarnya setiap titik dimanapun di paras Bumi ini memiliki potensi resiko bencana alamnya masing-masing. Bencana hidrometeorologis yang terjadi di sejumlah titik di Kab. Kulonprogo dan Kab. Bantul merupakan kombinasi dari intensitas hujan yang sangat deras, berkurangnya area resapan air dan kisah klasik tersumbatnya drainase. Hujan yang sangat deras terjadi akibat kombinasi tiga hal sekaligus. Yakni hangatnya suhu paras laut (SST / Sea Surface Temperature) di perairan Laut Jawa dan Samudera Hindia, melebihi nilai klimatologisnya. Lalu ada tiupan angin kuat yang datang dari utara Australia. Keduanya memberikan pasokan uap air berlebih yang memungkinkan tumbuh kembangnya awan-awan konvektif. Dan faktor berikutnya, meski peranannya lebih kecil, adalah aktifnya osilasi Madden-Julian.

Tantangan manusia modern adalah bagaimana mengelola resiko tersebut agar potensinya tidak menjadi kenyataan terutama manakala faktor-faktor pemicunya hadir. Pembangunan bandara baru Yogyakarta, guna menggantikan peran bandara Adisutjipto yang lokasinya sudah tak layak dan tak bisa dikembangkan lagi, telah memperhitungkan potensi bencana alam yang berkemungkinan terjadi. Mulai dari banjir hingga tsunami raksasa. Dalam perencanaan, antisipasinya ditegakkan melalui mitigasi struktural yang derivasikan dalam berbagai bentuk. Mulai dari pemanfaatan kombinasi gumuk pasir dan vegetasi pantai (greenbelt), landas pacu dan apron yang berkedudukan lebih tinggi (elevated) melalui urugan hingga terminal dengan lantai 1 dan lantai 2. Juga mitigasi non struktural lewat simulasi bencana (drill) yang kelak akan dilatih secara rutin bagi petugas-petugas bandara.

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here