Berbincang-bincang Bencana, Mengenang Pakdhe

0
Dari kiri - kanan Bapak Roni (kakak Pakde), Ibu Nur (Ibunda Pakde), Bapak Budi Susanto (Ketua MDMC), Bapak B.Wisnu Widjaja ( Deputi Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan BNPB)

Satu acara spesial digelar di Yogyakarta dalam rangka mengenang pakdhe. Bertempat di Ruang Amphiteater Perpustakaan di Lantai 4 Gedung D Universitas Muhammadiyah Yogyakarta, Jalan Lingkar Selatan Tamantirto Kasihan Bantul, digelarlah acara bertajuk Bincang-Bincang Bencana. MDMC (Muhammadiyah Disaster Management Centre) menjadi penyelenggaranya bekerja sama dengan BNPB dan program pascasarjana UMY.

Mengenang Bincang – Bincang Bencana ala Pakdhe

Bincang-Bincang Bencana sesungguhnya telah digelar beberapa kali, sebagai sebuah acara untuk mendiskusikan fenomena dan bencana alam sebagai dasar pengetahuan yang harus dipahami relawan MDMC sebelum berangkat ke medan bencana. Pakdhe Rovicky menjadi pembicara untuk yang terakhir kalinya pada Oktober 2018 silam, memaparkan bagaimana dinamika gempa bumi Palu beserta dampak ikutannya. Mulai dari tsunami hingga likuifaksi dalam skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Tak dinyana berselang setengah tahun kemudian Bincang-Bincang Bencana kembali digelar, namun kali ini untuk mengenang sosok pakdhe yang juga adalah salah satu penasehat MDMC.

Di antara hadirin dan tamu undangan terdapat keluarga besar pakdhe yang tinggal di Yogyakarta, diwakili paklik Ronny Primanto. Paklik Ronny, dengan suara tercekat dan tersendat-sendat, memaparkan betapa gaya mendongeng yang menjadi ciri khas pakdhe Rovicky ternyata berakar menancap kuat dalam keluarga. Semasa kecil, baik paklik maupun pakdhe terbiasa didongengi sang ayah sebelum tidur. Kebiasaan yang kelak membentuk cara bertutur pakdhe. Sekaligus menginspirasi lahirnya Dongeng Geologi, sebagai cara pakdhe (yang seorang geologist) untuk bertutur akan fenomena alam dan bencana di tanah air Indonesia (dan juga dunia) kepada masyarakat luas dalam bahasa sederhana, mudah dimengerti, cepat dicerna dan cepat diakses. Paklik Ronny sekaligus mohon pamit di tengah acara, karena sang ibu (yang hadir dan ternyata sedang berulang tahun ke-80) kondisi kesehatannya tidak memungkinkan duduk lama.

Pak Wisnu Widjaja dari BNPB juga mengenang pakdhe tak hanya sebagai sesosok saudara seperguruan kampus, namun juga kemampuan komunikasi dan jalinan persaudaraannya yang luas. Dongeng Geologi telah sangat membantu tugas BNPB, baik secara langsung maupun tak langsung, dalam mengkomunikasikan bencana dan fenomena alam kepada masyarakat luas. Paparan pakdhe melalui Dongeng Geologi seringkali adalah penjelasan pertama yang muncul dari sosok geosaintis kebumian. Ini sangat membantu, mengingat dengan keterbatasan sumberdaya manusia di BNPB (yang hanya ada sekitar 500 orang), tidak semua hal bisa dicakup BNPB sendiri.

😊”Jadi penanganan bencana termasuk pengurangan resiko bencana bukan semata tugas pemerintah lho. Tapi tugas bersama komponen bangsa Indonesia !”

InaRISK, Solusi Edukasi dan Informasi Risiko Bencana

Pak Wisnu juga memperkenalkan salah satu hal yang sudah dikerjakan BNPB. Dalam bentuk portal InaRISK, yakni portal kajian resiko bencana yang menampilkan informasi ancaman bencana, kerentanan (populsi, kerugian fisik, kerugian ekonomi dan kerugian lingkungan), kapasitas dan resiko bencana.

InaRISK dikembangkan lewat kolaborasi bersama antara BNPB dengan kementerian dan lembaga terkait penanggulangan bencana di Indonesia. Kata pak Wisnu, dengan InaRISK maka kita bisa mengetahui apa resiko bencana di wilayah kita dan apa langkah yang sebaiknya dilakukan untuk mengurangi resiko bencana tersebut. Selain dalam bentuk Web (yang beralamatkan di http://inarisk.bnpb.go.id), InaRISK juga dapat diakses melalui aplikasi Android & IOS yang sudah diunggah di Playstore dan Appstore.

Dongeng Geologi Media Informasi Millennials

Senada, pak Heru Hendrayana dari Departemen Teknik Geologi UGM (saudara seperguruan pakdhe juga) mengenang pakdhe lebih personal. Sekaligus berbincang tentang bagaimana dinamika paparan informasi terhadap generasi demi generasi. Pak Heru membagi ke dalam empat generasi, mulai dari generasi baby boomer, generasi X, generasi Y dan generasi millenial. Pengguna terbesar jaringan internet (sekaligus pengakses terbanyak Dongeng Geologi) adalah generasi Y dan millenial, generasi yang telah tercelup dunia digital sejak lahir.

Menurut beliau, Dongeng Geologi lahir dan tumbuh pada saat yang tepat. Dirintis sejak 1998 (saat itu masih memanfaatkan server dan domain bebas seperti Tripod), Dongeng Geologi tumbuh pesat seiring munculnya platform weblog (atau disingkat blog). Sehingga pakdhe tinggal menulis dan menambahkan gambar yang cocok, tanpa dipusingkan oleh kode-kode html yang harus digunakan. Munculnya media sosial, yang saat ini didominasi Facebook, Instagram dan Twitter semakin memperluas cakupan Dongeng Geologi. Dan di tengah kecepatan informasi yang ditampilkannya, nilai informasi itu sendiri tetap tergolong valid dan bernilai secara ilmiah. Karena sebelum menuangkannya dalam konten, pakdhe selalu berkomunikasi dan berkonsultasi intensif dengan para pakar di bidangnya.

😊”Luar biasanya, pak Heru sampai memilih membatalkan acara lain yang lebih penting di Jakarta lho. Hanya untuk berpartisipasi mengenang pakdhe, membabar Dongeng Geologi!”

Kenangan akan pakdhe juga disampaikan pak Sri Atmaja, direktur pascasarjana UMY. Pak Sri juga memberi penekanan bagaimana pengalaman negara tetangga seperti India dalam mengkomunikasikan bencana. Termasuk dalam tahap pengurangan resiko bencana. Bagaimana penyuluh / relawan di sana beranjangsana ke sekolah-sekolah secara rutin. Mengomunikasikan resiko bencana setempat mulai dari gempa bumi hingga banjir dan angin topan. Sekaligus menekankan bagaimana dampak bencana tersebut sesungguhnya bisa direduksi.

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here