Kesedihan “Ifan Seventeen” Menggugah Penelitian Tsunami Selat Sunda

1
Ditinggalkan teman sahabat juga team-mate, kelompok band, dan bahkan istri tercinta tentunya sangat menyedihkan buat Ifan Seventeen. Sangat bisa dimengerti bagaimana pilu yang dirasakannya. Kesedihannya mempertanyakan mengapa hal ini terjadi tentunya tidak mudah dipahami dan dirasakan oleh para ahli kebumian yang melihat fenomena ini sebagai fenomena alam.
 
Bagi Ifan Seventeen, dan juga “Ifan-Ifan” yang lain, yang merasakan kehilangan kawan, sahabat atau istri tercinta sudah tidak dapat ditolerir, entah siapapun dan apapun adalah sebuah kekeliruan yang semestinya dapat dihindari. Dan mereka menunggu jawaban mengapa hal ini terjadi.
 
Kalau menengok kejadian bencana yang cukup unik, bahkan diantara para ahli kebencnaan peristiwa ini saja masih menjadi teka-teki. Masih banyak pertanyaan. Apakah benar ada longsoran sebesar itu, wong Gunung Anak Krakatau itu justru yang ukurannya paling kecil diantara gunung2 sekitarnya ? Mengapa yang kecil dan rendah yang longsor ?
 
Apakah longsoran yang terjadi harus terpicu sebuah goyangan gemap besar seperti di Palu, Apakah memerlukan sebuah letusan erupsi besar ? Bagaimana dengan saat pasang purnama, apakah air pasang ini memicu atau malah memacu potensi longsoran batuan-batuan lepas yang sudah terkumpul sejak lama ?
 
Pertanyaan-pertanyaan masih terus bergelayut juga diantara para saintis. Semua hipotesa-hipotesa saintis ini tentunya perlu dibuktikan. Ya, dibuktikan.
 
Sebagai sebuah pembelajaran, sebagai sebuah data yang dapat dipergunakan untuk menentukan tindakan selanjutnya dalam memonitor potensi dan bahkan dengan mengetahui pemacu dan pemicu proses longsoran penyebab tsunami ini akan membantu dalam mendisain alat-alat yang akan dipergunakan dalam pembuatan sistem peringatan dini.
 
Peringatan dini untuk tsunami akibat gempa seperti di Palu tentunya berbeda dengan tsunami akibat longsoran gunungapi dilaut. Apalagi dengan adanya aktifitas gunungapi di dekatnya. Longsoran akibat hujan seperti di daratan tentunya juga berbeda dengan terjadinya longsor dilaut, berbeda pula dengan di Palu. Dan ini akan menentukan desain pembuatan sitem peringatan dini.
 
Tentunya semua perlu bukti-butki fakta sains supaya dapat menjadi pembelajarn dalam mengurangi risiko bahaya bencana selanjutnya.
 
Jawaban-jawaban itu memang tidak dapat ditemukan sekarang. Perlu survey bathymetri untuk melihat kedalaman laut dalam mencari dimana batuan kemarin yang longsor, perlu penelitian geokimiawi batuan-batuan mana saja yang kemarin ikutan longsor. Dan juga mana saja batuan baru yang baru saja dimuntahkan Gunung Anak Krakatau. Disinilah perlunya para saintis mengerti dan meneliti apa yang sebenarnya terjadi.
 
Jawaban-jawaban pertanya apa yang sebenarnya telah terjadi ini ditunggu oleh masyarakat, ditunggu oleh Ifan Seventeen, dan juga Ifan-Ifan lain yang menjadi korban tsunami ini.
 
Mudah-mudahan aktifitas Gunung Anak Krakatau ini segera reda, dan penelitian-penelian ilmiah dapat dilaksanakan. Bukan untuk mencari siapa yang salah, tetapi untuk mencari jawaban apa yang sebenarnya terjadi. Sehingga kerugian serta kesedihan ini juga memiliki arti yang bermanfat buat kita yang selamat, dan menambah amal bagi almarhum-almarhumah yang telah meninggalkan kita.
 
🙁 “Pakde, saya jadi kut sedih kalua inget yang dialami Ifan Seventeen. Aku kan fansnya Seventeen, Pakde”
Team Dongeng Geologi turut berbela sungkawa pada Ifan Seventeen khususnya, dan juga “Ifan-Ifan” yang lain. Mudah-mudahan himbauan Ifan Seventeen untuk segera mencari tahu apa yang terjadi ini juga mamacu para ahli segera meneliti setelah aktifitas Gunung Anak Krakatau ini mereda.
 
🙁 _“Pakde, aku usul, mbok nanti Ifan Seventeen diajak sosialisasi kebencanaan. Kan fans Ifan banyak Pakde. Supaya semua maysrakat sadar bencana itu menjadi gerakan bersama para artis juga”_
 
😀 _”Iya Thole, Teruskan tulisan ini ke Ifan dan kawan-kawan lainnya, nanti kita ajak untuk sosialisasi kebencanaan”_
Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

1 KOMENTAR

  1. Pade, kenapa postingannya jadi beginian? Padahal, masih banyak fenomena geologi yang menarik untuk ditulis.

    Saya sebagai pembaca hanya berharap bahwa blog ini tetap mengedepankan postingan berkualitas tentang kajian geologi populer, bukan cucokologi a la jurnalisme termehek-mehek begini.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here