Longsoran Anak Krakatau Sudah Pernah Diprediksi

3

Erupsi G. Anak Krakatau terpantau masih terjadi hingga Minggu sore lalu (23/12).Aktivitas erupsi yang semula diduga menjadi penyebab terjadinya tsunami terbantahkan dengan berbagai temuan dan saksi mata yang menyatakan bahwa berkisar pada pukul 8 malam terjadi longsoran tubuh Anak Krakatau, yang memicu tsunami gelombang setinggi 12 meter pada sabtu malam lalu (22/12). Meski begitu, tidak menutup kemungkinan bahwa  aktivitas vulkanisme yang hingga kini masih berlangsung  menjadi salah satu pemicu dari longsoran dan tsunami Anyer – Lampung.

DINAMIKA MORFOLOGI ANAK KRAKATAU

Meski baru muncul di permukaan pada tahun 1928, G. Anak Krakatau sudah terbentuk sejak paska terjadinya erupsi dahsyat sang induk, G. Krakatau pada tahun 1883, muncul tepat di tepian kaldera Krakatau 1883, antara G. Perbuatan dan Danan yang turut dihamburkan saat letusan 1883. G. Anak Krakatau, yang terus tumbuh, pada tahun 1959 tercatat mencapai ketinggian 152 meter dan kini puncaknya berada pada ketinggian 338 meter.

Lokasinya yang berada di tepian kaldera membuat Anak Krakatau memiliki lereng yang sangat curam pada sisi barat-daya. Lereng curam mengakibatkan material tubuh Anak Krakatau sangat rentan mengalami longsor, bahkan hanya dengan sedikit guncangan : aktivitas vulkanik, kegempaan, ataupun sekadar penambahan beban.

LONGSORAN 22 DESEMBER

Pengamatan dari satelit menunjukkan bahwa sebagian dari gunung Anak Krakatau longsor ke arah barat. Ini sesuai dengan modeling yang dilakukan oleh Giachetti, tahun 2012. Tetapi belum seluruhnya longsor.

Longsoran Anak Krakatau salah satunya dipicu oleh curah hujan yang tinggi. Keterdapatan air yang berlebih menambah beban material hasil erupsi yang membentuk tubuh gunung api. Apalagi material tersebut masih bersifat lepas – lepas atau belum terkonsolidasi. Maka, mudah saja longsor terjadi.

Ibarat melempar batu di tengah kolam yang akan menghasilkan gelombang, material longsoran yang tercelup di lautan juga menimbulkan hentakan gelombang yang akan menjadi gelombang tsunami sesampainya di daratan.

Perlu diperhatikan bahwasanya longsoran yang terjadi pada sisi barat mengindikasikan  gelombang yang mengarah ke kawasan lampung akan lebih besar dibandingkan dengan sisi yang mengarah ke kawasan Banten. Beruntungnya, jarak tempuh gelombang menuju daratan relatif jauh sehingga gelombang semakin melemah saat mencapai daratan.

LONGSORAN PERNAH DIPREDIKSI 

Ternyata enam tahun lalu, Pakde Budianto (BPPT) bersama dengan tim peneliti asal Perancis, Pakde Giachetti telah menggambarkan proses terjadinya longsoran Anak Krakatau yang dapat menyebabkan tsunami di Selat Sunda.

☹ Maksudnya gimana bulek, jadi Pakde Budianto bisa nerawang masa depan gitu yaa?

😊 Pakde Budianto coba ngawang – ngawang, seandainya dengan bentukan anak krakatau yang seperti itu, kira kira seberapa banyak material longsoran dan setinggi apa gelombang yang ditimbulkan karenanya

 

Giachetti dkk tahun 2012 melihat potensi longsor ini dengan melihat morfologi (bentuk gunung) dan juga lithologi atau batuan yang terbentuk akibat aktifitas vulkanisme G Anak Krakatau sejak 1928-1960. Volume yang diperkirakan 0,28 Km3.  Dan jika kita bandingkan dengan longsoran yang terjadi dua hari lalu, maka masih ada bagian tubuh Anak Krakatau yang berpotensi mengalami longsor.

🙁 “Pakde mbok jangan nakut-nakuti”
😀 “Nakut-nakuti itu kalau tidak ada dasarnya trus membuat seolah-olah menakutkan. Kalau ini hanya untuk kewaspadaanya”
🙁 “Iya Pakde tetap berdoa dan waspada ya, Pakde?”
😀 “Kalau terus tidak ada longsor lagi begini, dan tumpukan material lepasnya itu terkena air hujan trus akhirnya terbatukan, mengeras, Nantinya aman Thole”

🙁 “Aamiin Pakde”

Namun, jika berdasarkan pemodelan tersebut, dan jika longsoran terjadi tsunami diprediksi akan mencapai Sertung, Panjang dan Rakata dengan ketinggian 15 – 30 meter dalam kurun waktu kurang dari 1 menit. Dan mencapai beberapa kota seperti Carita dan Labuhan dengan ketinggian amplitudo gelombang sekitar 3 meter, sedangkan pada sisi barat gelombang dengan ketinggian amplitudo 2,7 meter menuju Kalianda dan hanya sekitar 0,3 meter mencapai Bandar Lampung, dengan jeda waktu berkisar 40 – 60 menit terhitung masuknya material longsoran ke tubuh air.

☹ haduuh bulek, mbokyaa dibikin pemecah gelombang gitu.. aku ikut deg – degan jadinya

😊 Yaa harusnya begitu, thole.. semoga pemerintah jadi lebih perhatian dan memprioritaskan instalasi teknologi mitigasi tsunami

☹ harus bulek, sebelum nasi kadung jadi bubur seperti kemaren itu


Simak informasi terbaru melalui instagram Dongeng Geologi 

 

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

3 KOMENTAR

  1. Pakdhe, tsunami sunda diduga krn ada longsor yg salah satunya akibat curah hujan yg tinggi. Kalau gitu juga bisa dikaitkan adanya fenomena topan kmrn baratnya?

    • Longsornya bukan karena curah hujan tinggi. Kalau di darat memang cuah hujan menyebabkan longsor. Kalau di laut karena goyangan gempa atau erupsi gunungapi.

  2. Karena gunung anak krakatau sudah semakin tinggi, maka longsornya lereng ini akan menjadi sering di kemudian hari. Semakin tinggi gunung nya, semakin besar energi nya jika terjadi longsor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here