Hati – Hati ! Longsor Akibat Goyangan Gempa

0

Berada di lempeng tektonik aktif, Jepang merupakan salah satu negara dengan sistem mitigasi bencana terbaik di dunia, terutama gempa bumi. Edukasi terhadap tindakan yang dilakukan saat dan setelah gempa sudah diperkenalkan sejak dini. Perkembangan ilmu pengetahuan kegempaan dan teknologi konstruksi yang ramah gempa sudah terealisasi.

Namun, mengapa gempa bumi Hokkaido 6 September lalu menewaskan setidaknya 41 korban jiwa dan 1600 warga diungsikan. Gempa bumi Hokkaido ternyata tak hanya sekadar gempa biasa. Tak cukup meluluhlantahkan konstruksi dan bangunan, gempa bumi ini disertai peristiwa longsor di mana material longsoran menimbun pemukiman pada lembah – lembah sekitar kawasan lereng perbukitan. Pada tahun 2007, Jepang pernah mengalami hal yang sama, longsor terjadi saat gempa berkekuatan M 6,8 SR  terjadi di Hijrigahana, Niigata.

Gempa Hokkaido, Jepang yang terjadi pada 6 September 2018 mengakibatkan longsor

Tragedi bencana alam seperti ini bukan yang pertama, sudah berulangkali terjadi pada beberapa negara di berbagai belahan dunia. Salah satu yang paling melegenda adalah tragedi Gempa Haiyuan, China pada tahun 1920. Gempa berkekuatan M 8,5 SR ini mengakibatkan 3700 titik longsor yang terkonsentrasi pada bagian barat sesar haiyuan. Tahun 2008, Gempa Wenchuan, China, M 8 SR, juga mengakibatkan lebih dari 50.000 longsor yang meruntuhkan material lebih dari 100 juta m3.

Ternyata tak hanya gempa – gempa besar yang dapat mempengaruhi kestabilan tanah. Berdasarkan penelitian yang dilakukan di Polandia, aktivitas kegempaan di bawah M 5 SR juga dapat mengakibatkan longsor. Peristiwa ini terjadi pada sepanjang 20 – 30 km zona lemah/rentan di Holowiec dan Kamien, Carpathians Barat, Polandia di mana gempa terjadi hanya berkekuatan M 4,4 SR. Menariknya, pada penelitian ini tak hanya gempa, tingkat presipitasi juga meningkatkan kerentanan terhadap bencana longsor.

Indonesia pernah mengalaminya

Beberapa waktu lalu, tsunami Palu diduga terjadi juga karena adanya peristiwa longsor saat terjadinya gempa bumi. Tak hanya itu, Indonesia pernah mengalami peristiwa yang tak kalah memilukan. Pada tahun 2009, bencana longsor saat Gempa Padang berkekuatan M 7,9 SR, menimbun setidaknya 5 dusun di kawasan Gunung Tandikek. Gempa tersebut menelan lebih dari 1000 korban jiwa, ratusan diantaranya hilang karena tertimbun oleh material longsoran. Ditambah lagi, peristiwa ini terjadi saat curah hujan di kawasan tersebut sangat tinggi, sehingga air yang terkandung dalam tanah mempermudah luncuran material menuruni lereng.

Baru- baru ini, Gempa Lombok juga disertai dengan peristiwa longsor di Sembalun, kaki Gunung Rinjani. Peristiwa ini terekam oleh salah seorang (unknown) yang berada pada lokasi kejadian.

Mekanisme Longsor

Faktor utama kerentanan longsor saat terjadinya gempa adalah keterdapatan daerah yang berelief terjal yang relatif tidak stabil jika terjadi goncangan. Apalagi apabila area tersebut merupakan zona sesar / patahan. Kedua hal ini sebenarnya saling berkorelasi karena keterdapatan sesar pada bawah permukaan terepresentasi dengan adanya gawir / lereng / tinggian yang menerus di permukaannya, bahasa gaulnya gawir sesar.

Mekanisme longsor serupa dengan peristiwa longsor pada umumnya yang diakibatkan oleh gaya gravitasi. Pakde pernah menceritakan sebelumnya :

Jenis – jenis longsoran

Hanyasaja jika gempa terjadi, gelombang gempa akan lebih mudah menjalar di sepanjang gawir sesar. Kekuatan yang berasal dari guncangan gempa memicu adanya pergerakan pada daerah yang stabil sekalipun dan menambah ketidakstabilan / gaya luncur pada kawasan yang sudah berada diambang batas kestabilannya. Maka kekuatan dorongan dan jangkauan dari material longsoran lebih besar dibandingkan longsor pada umumnya yang diakibatkan oleh gaya gravitasi. Hal ini lah yang membahayakan, meski kawasan tersebut tampak stabil pada kondisi normal, belum tentu menjadikannya kawasan yang aman saat gempa terjadi.

Perbandingan dampak longsor yang disebabkan oleh gravitasi dan gempa bumi (sumber : Huang, 2011, dengan modifikasi)

Bagi masyarakat yang tinggal di daerah lembah yang dikelilingi tinggian, coba caritahu apakah daerahmu rentan terhadap bencana longsor saat terjadinya gempa?

  1. Apakah lereng / tinggian tersebut merupakan zona sesar aktif atau pernah memiliki sejarah kegempaan?

Daerah yang pernah mengalami gempa merupakan indikasi dari aktivitas sesar. Daerah ini  memiliki kerentanan yang lebih tinggi. Berdasarkan peristiwa longsor yang terjadi di China ataupun Jepang, bencana longsor terkonsentrasi pada sepanjang zona sesar.

  1. Bagaimana stabilitas batuan penyusunnya?

Selain faktor eksternal sebagai pemicu terjadinya longsor, kekuatan internal juga mempengaruhi. Jika penyusun batuannya merupakan batuan sedimen atau material lepas (lapisan tanah hasil pelapukan) tentu akan jauh lebih muda mengalami longsor meski hanya dipicu oleh gempa yang berkekuatan lemah.

  1. Apakah terdapat bidang ketidakselarasan seperti sesar minor atau perlapisan batuan?

Keterdapatan zona ketidakselarasan berpotensi menjadi bidang gelincir terjadinya longsor dari material diatasnya.

😊 Kalau kamu tinggal di kawasan semacam itu, pertimbangkan untuk cari hunian dilain tempat, thole

☹ Gimana cara taunya tho bulek?

😊 Maka perlu sekali membuat peta kerentanan longsor dengan mempertimbangkan kerentanannya apabila gempa bumi terjadi. Mulai sosialisasikan mitigasi gempa bumi yang sekaligus disertai bencana longsor.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here