HARI KESADARAN TSUNAMI SEDUNIA (5 November)

0

5 November – HARI KESADARAN TSUNAMI SEDUNIA
(WORLD TSUNAMI AWARENESS DAY)

Tsunami memang termasuk jenis bencana alam yang jarang terjadi, namun jika peristiwa itu terjadi bisa sangat mematikan. Dalam 100 tahun terakhir, lebih dari 260.000 orang tewas dalam 58 bencana tsunami yang terpisah atau rata-rata 4.600 kematian setiap kejadian bencana tsunami, jumlah tersebut telah melampaui jumlah korban bencana alam lainnya. Jumlah kematian tertinggi dalam periode tersebut terjadi pada tsunami Aceh (Samudra Hindia) pada Desember 2004. Hal ini menyebabkan sekitar 227.000 korban tewas di 14 negara, dengan Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand yang paling parah terkena dampaknya.

🙁 “Looh ada peringatan hari Tsunami Ya Pakde ?”

😀 “Iya Thole, supaya kita mengerti bagaimana tsunami itu merupakan salah satu bencana yang paling banyak menelan korban hingga saat ini”

Tsunami memang tidak mengenal batas, sehingga menjadikannya sebagai kunci untuk kerjasama internasional dalam pemahaman yang lebih mendalam tentang langkah-langkah pengurangan risiko bencana tsunami. Hasilnya, Majelis Umum PBB telah menetapkan 5 November sebagai Hari Kesadaran Tsunami Sedunia dan meminta kepada seluruh dunia agar menandainya.

Hari Kesadaran Tsunami Sedunia ini pada awalnya adalah gagasan dari Pemerintah Jepang yang mempunyai pengalaman pahit selama bertahun-tahun menghadapi bencana tsunami di negaranya sehingga mereka membangun keahlian di berbagai bidang seperti membuat sistem peringatan dini tsunami, dan me-recovery infrastruktur kembali guna mengurangi dampak bencana tsunami di masa yang akan datang. Tanggal 5 November sendiri dipilih untuk menghormati kisah nyata dari Jepang “Inamura-no-hi”, yang berarti “api dari tumpukan padi”.

Kisah ini bercerita tentang bencana tsunami yang disebabkan oleh gempa bumi di Ansei-Nankai, Jepang pada tahun 1854. Tsunami itu menerjang sebuah kampung kecil di Peninsula Kii (sekarang Hirokawa), sebelah barat Jepang. Seorang kepala kampung di daerah tersebut yang bernama Hamaguchi Goryo, berhasil menyelamatkan seluruh warganya. Cara yang dilakukan Hamaguchi ini terbilang unik. Saat ia melihat arus laut tiba-tiba surut, suatu pertanda bahwa tsunami akan datang. Tanpa berpikir panjang ia rela membakar lumbung padi miliknya yang berada di atas bukit. Melihat lumbung padi milik kepala kampung terbakar, warga desa berhamburan berlarian naik ke atas bukit untuk membantu memadamkan api tersebut. Tanpa disadari mereka telah terselamatkan dari gelombang tsunami yang datang beberapa saat kemudian. Setelah itu, ia membantu komunitasnya untuk membangun kembali desanya agar menjadi lebih baik dan lebih kuat dalam menahan guncangan gempa di masa depan, serta membangun tanggul dan menanam pohon sebagai penahan tsunami.

Pengamatan hari itu akan membantu menyebarkan kesadaran di antara orang-orang di seluruh dunia dalam hal-hal yang berkaitan dengan bahaya tsunami dan harus menekankan pentingnya sistem peringatan dini untuk mengurangi kerusakan dari bencana alam yang sering merusak. Ini juga bertujuan untuk menghidupkan kembali pengetahuan tradisional (kearifan lokal) tentang tsunami.

_______________

FAKTA TENTANG TSUNAMI

Apa itu tsunami dan di mana saja tsunami bisa terjadi?

Kata “tsunami” berasal dari bahasa Jepang, “tsu” artinya pelabuhan dan “nami” artinya gelombang. Jika diterjemahkan secara umum berarti “gelombang besar di pelabuhan“.
Tsunami adalah perpindahan badan air berupa gelombang pasang yang disebabkan oleh perubahan/gangguan permukaan laut secara vertikal yang besar dan tiba-tiba.

Gelombang tsunami sering terlihat seperti dinding air dan bisa menyerang garis pantai dan berbahaya selama berjam-jam, dengan ombak datang setiap 5 sampai 60 menit. Gelombang pertama mungkin tidak begitu berbahaya, seringkali gelombang susulan ke 2 atau ke 3 yang merupakan gelombang terbesar yang lebih mematikan. Setelah satu gelombang menerpa daratan, gelombang tersebut akan mundur dari tepi pantai sejauh yang bisa dilihat mata, dan membuka dasar lautan. Gelombang susulan berikutnya kemudian akan bergerak ke daratan dalam hitungan menit dan membawa banyak material mengambang yang telah hancur oleh gelombang sebelumnya.

Penyebab tsunami yang paling umum dan paling utama adalah gempa bawah laut yang termasuk jenis gempa bumi tektonik, namun tanah longsor, aktivitas vulkanik, jenis cuaca tertentu, dan jatuhnya meteorit juga dapat menyebabkan tsunami.

Sebagian besar gelombang tsunami tingginya kurang dari 10 kaki (3 meter). Dalam kejadian ekstrim, mereka bisa melebihi 100 kaki (30 meter). Tsunami besar bisa membanjiri lebih dari satu kilometer ke arah daratan. Gelombang pertama mungkin bukan yang terbesar atau paling merusak, dan bahayanya bisa berlangsung selama berjam-jam atau berhari-hari. Tsunami adalah ancaman serius bagi kehidupan dan properti. Bahkan tsunami kecil pun bisa berbahaya, terutama bagi perenang, peselancar, dan perahu di pelabuhan.

Tsunami bisa menyerang pantai apa saja. Daerah dataran rendah seperti pantai, teluk, laguna, pelabuhan, muara sungai dan daerah sepanjang sungai adalah area yang rawan dilanda tsunami. Sedangkan sungai yang mengarah ke laut adalah area yang paling rentan. Tsunami dapat terjadi kapan saja, setiap musim, dan dalam cuaca apa pun. Tsunami dapat terjadi jauh di seberang lautan atau secara lokal. Tsunami lokal bisa tiba hanya dalam beberapa menit setelah terjadinya gangguan.

Bagaimana kita diperingatkan bahwa akan terjadi tsunami?

Ada dua jenis peringatan tentang akan terjadinya tsunami, yaitu peringatan tsunami secara resmi dan peringatan tsunami secara alami. Keduanya sama-sama penting. Kita mungkin tidak akan bisa mendapatkan keduanya. Tetapi yang harus segera kita lakukan adalah mengambil tindakan jika ada peringatan bahwa akan terjadi tsunami, baik itu resmi maupun alami.

Peringatan tsunami secara resmi

Peringatan ini disiarkan melalui radio, televisi, dan peringatan darurat nirkabel. Peringatan juga dapat datang melalui sirine luar ruang, pejabat, pemberitahuan pesan teks, dan pemberitahuan telepon.

Di Indonesia, lembaga pertama yang mendapatkan informasi terkait bencana gempa bumi adalah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG). BMKG dalam memberikan informasi peringatan dini tsunami didukung dengan Sistem Pendukung Keputusan (Decision Support System) dengan 170 ribu skenario dan saat ini BMKG telah menggunakan TOAST (Tsunami Observation And Simulation Terminal) sebagai bagian dari Sistem Peringatan Dini Tsunami di Indonesia (Indonesia Tsunami Early Warning System = InaTEWS)

Pemodelan Tsunami Oleh Tsunami Research Group ITB.

Melalui permodelan tersebut, BMKG dapat mengolah basis data dengan cepat dan dapat menentukan potensi ancaman. Kalaupun terdapat buoys, hanya untuk membantu mengkonfirmasi terjadinya tsunami karena Indonesia sangat rentan dengan tsunami lokal, tetapi tidak akan menjadi komponen utama faktor penentu dari sistem peringatan.

Sistem buoy tidak terhubung secara langsung dengan sistem peringatan dini. BMKG pun dapat memantau informasi ketinggian laut ini, baik dari Buoy atau dari tide gauge (alat pengukur pasang surut). Sistem peringatan dini tsunam yang diresmikan sejak 2008 ini mampu memberikan informasi peringatan dini dalam waktu kurang dari 5 menit. Bahkan, dalam waktu kurang dari 3 menit, informasi peringatan dini gempa bumi dan tsunami disebar kepada masyarakat melalui moda komunikasi yang berbeda-beda (WRS, email, SMS, faks, GTS, website, dan media sosial).

BMKG dalam menyampaikan peringatan dini tsunami kepada masyarakat, melalui 3 tahapan berikut ini :

– Saat terjadi gempa bumi, alat yang bernama seismograf akan merespons dan mengirimkan data melalui satelit komunikasi ke BMKG Pusat. Data ini digunakan untuk mencari pusat, kekuatan, dan kedalaman gempa, juga untuk menentukan apakah gempa itu berpotensi tsunami.
Bila gempa dinyatakan berpotensi tsunami, petugas BMKG akan segera mengirimkan pesan peringatan dini pertama. Pesan itu diteruskan ke instansi terkait seperti Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Badan Penanggulan Bencana Daerah (BPBD), TNI, dan Polri untuk ditindaklanjuti sesuai perannya masing-masing. Pesan peringatan dini ada potensi tsunami juga akan disiarkan melalui televisi dan radio.
Petugas BMKG akan menganalisis parameter gempa yang dicocokkan dengan skenario model tsunami. Melalui model ini, petugas bisa memperkirakan waktu dan tempat terjadinya tsunami serta tinggi gelombang tsunami.

– Usai mendapat informasi-informasi tersebut, petugas BMKG akan menyiapkan peringatan dini kedua dengan status ancaman masing-masing daerah. Melalui informasi data kelautan, BMKG bisa mengonfirmasi terjadinya tsunami dan memastikan daerah-daerah yang diterjang tsunami.

– Setelah itu, BMKG akan menyiapkan peringatan dini ketiga dan memperbaharui informasi status ancaman. Jika sudah merasakan gempa, masyarakat harus segera menyelamatkan diri, dan tidak perlu ke pantai untuk mengecek air laut yang surut. Hal ini dikarenakan, tsunami bisa datang dalam waktu singkat.

Peringatan tsunami secara alami (tanda-tanda alam)

– Terjadinya gempa yang kuat atau panjang
– Terdengar suara raungan keras (seperti kereta api atau pesawat terbang) dari arah lautan
– Perilaku samudra yang tidak biasa (laut terlihat seperti banjir yang naik cepat atau terbentuknya dinding air yang tinggi atau air laut yang mengalami surut secara tiba-tiba hingga sangat rendah)
Jika kita mendapatkan salah satu dari peringatan alami ini, meskipun hanya satu, kemungkinan tsunami akan segeradatang.

Bagaimana kita menanggapi peringatan tsunami tersebut?

Jika kita berada di zona bahaya tsunami dan menerima peringatan tsunami yang resmi:
– Tetap keluar dari air dan menjauh dari pantai dan perairan.
– Dapatkan lebih banyak informasi dari radio, televisi, atau perangkat seluler kita (teks atau data).
– Jika petugas meminta kita untuk mengungsi, segera pindah ke tempat yang lebih aman. Ikuti tanda-tanda evakuasi atau menyelamatkan diri ke tempat setinggi mungkin atau sejauh mungkin dari pantai.

Jika kita berada di zona bahaya tsunami dan menerima peringatan tsunami yang alami, segeralah bertindak karena tsunami bisa saja tiba dalam beberapa menit :
– Dalam kasus gempa bumi, selamatkan diri kita. Tiarap, lindungi kepala, dan bertahanlah. Bersiaplah untuk gempa susulan. Setiap kali bumi bergoncang, segera tiaraplah, berlindunglah, dan bertahanlah.
– Segera ambil tindakan secara cepat dan tepat. Jangan menunggu peringatan resmi atau instruksi dari petugas.
– Setelah kita dapat bergerak dengan aman, segeralah pindah ke tempat yang lebih aman. Ikuti tanda-tanda evakuasi atau menyelamatkan diri ke tempat setinggi mungkin atau sejauh mungkin dari pantai.
– Jika ada kerusakan akibat gempa, hindari kabel listrik yang terjatuh, dan jauhi struktur bangunan yang lemah/hampir ambruk.
– Ketika kita berada di tempat yang aman, dapatkan lebih banyak informasi dari radio, televisi, atau perangkat seluler kita.

Jika kita berada di pantai atau di dekat perairan dan masih merasakan gempa, setelah kita dapat bergerak dengan aman, segeralah pindah ke tempat yang lebih tinggi atau sejauh mungkin dari pantai. Dapatkan lebih banyak informasi dari radio, televisi, atau perangkat seluler kita.

Jika kita berada di luar zona bahaya tsunami dan menerima peringatan, tetaplah di tempat kecuali petugas mengatakan sebaliknya kepada kita.

Apa yang harus kita lakukan setelah tsunami?

– Jauhi zona bahaya tsunami sampai petugas menyatakan aman. Pembatalan peringatan tidak berarti bahaya telah berlalu.
– Jauhi gedung-gedung yang rusak atau dikelilingi air sampai petugas menyatakan aman.
– Dapatkan informasi terbaru dan instruksi keamanan dari radio, televisi, atau perangkat seluler kita.

______________

Diterjemahkan dan ditulis kembali oleh :
Sinung Baskoro (Badan Geologi KESDM, Anggota IAGI & MAGI).

Sumber: Tsunami Awareness and Safety by National Tsunami Hazard Mitigation Program (NTHMP) dan berbagai sumber lain.

🙁 “Pakde, Om Sinung itu yang mendapat penghargaan IAGI kemarin ya Pakdhe ?”

😀 “Iya Thole, beliau sudah bertungkus-lumus dengan sosialisasi ilmu kebumian dan bertugas sehari-hari di Badan Geologi Bandung. Hebat kan !!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here