Peta Jadoel Kota Palu, Inikah Penyebab Likuifaksi ?

3

Palu memang membuat kita pilu, tapi jangan sampai membuat kita berlarut-larut. Palu harus bangkit. Harus dapat belajar dari peristiwa ini, dan tidak dilupakan. Mempelajari masa lalu mungkin akan membantu kita mengerti mengapa bisa begini ?

Peta jadul, jaman dulu, akan sangat membantu mengerti seperti apa tataguna lahan di Palu jaman dulu.

Peta Palu tahun 1938. Kawasan ini didominasi persawahan diperkirakan tanahnya subur. Perhatikan adanya saluran air. Saluran irigasi Gumbasa, dibuat pada jaman Belanda.

Peta tahun 1938 yang dibuat oleh Kruyt ini menunjukkan bahwa kota Palu masih hanya di pinggir pantai saja. Hampir seluruh kota Palu yang sekarang adalah persawahan.  Ini jelas menunjukkan bahwa kota palu daerah yang subur dan banyak air.

Ada sebuah saluran air di sebelah Timur Petobo, sampai ke Sigi, saluran ini disebut  “Saluran Irigasi Gumbasa”. Saluran ini mirip saluran Mataram yang melintasi Jogja, yang menghubungkan Sungai Progo dan Sungai Opak. Sebagai sebuah saluran irigasi, pengairan sawah.

Ujung Saluran Irigasi Gumbasa di Petobo
🙁 “Nah ini saluran menarik Pakde. Katanya ada yang jebol membuat banjir bandang”
😀 “Iya itu didongengkan selanjutnya ya ?” 

Dengan melihat peta-peta jadul ini kita dapat mengetahui bagaimana perkembangan sebuah kota. Pelajaran khusus bagi kawan-kawan yang bekerja dan belajar tentang tataguna wilayah.

Peta citra satelit pasca gempa memperlihatkan lokasi-lokasi likuifaksi.

Lokasi-lokasi likuifaksi di tega tempat ini sebenarnya hanya menunjukkan lokasi yang berakibat sangat parah. Sangat mungkin banyak lokasi-lokasi lain namun tidak separah tiga lokasi ini.

Dalam skala kecil. likuifaksi atau mudahnya Pembuburan Tanah, ditandai dengan munculnya pasir kepermukaan. Bahkan ukurannyapun hanya kecil.

Likuifaksi tidak selalu muncul dengan fenomena seperti yang ada di Palu, di tiga lokasi itu. Gambar diatas menunjukkan gejala likuifaksi salam magnitud yang kecil. Bahkan dahulu di Saat Gempa 2016 di Jogjapun juga ada gejala ini dengan amblesnya tanah dibawah gedung STIPER.

Ekstraksi – Mitigasi – Konservasi

Pengembangan wilayah dengan dasar sumberdaya alamnya saja (Ekstraksi) tidak cukup, harus mengerti dan memperhitungkan ancaman fenomena alam yang merusak supaya tidak menjadi bencana (Mitigasi), dan juga harus difikirkan pengelolaan supaya tetap langgeng (sustain) dengan konservasi wilayah yang seimbang (Konservasi). Setiap daerah tentunya dapat saja dipakai peruntukan sesuai kondisi ideal, namun alam memberikan peringatan-peringat yang harus dimengerti konsekuensinya.

🙁 “Jadi gimana dengan likuifaksinya ?
😀 “Nah, tunggu di dongengan selanjutnya”

3 KOMENTAR

  1. Gimana dengan keberadaan Selokan Mataran di Jogja yg membentang dari S. Orogo sd S. Opak yg dibawahnya terdapat akuifer top produk vulkanik Merapi. Kelerengan juga tentu ada.. lha daerahnya masuk kaki merapi….

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here