Gempa Susulan Sudah Melemah, Tetapi Kewaspadaan Harus Menguat !

3

Gempa Palu-Donggala memang sudah melemah. Semakin lama, proses relaksasi bagian-bagian dari sesar yang baru saja pecah ini semakin stabil. Namun tentusaja ini tidak boleh diartikan bahwa kewaspadaan boleh mengendur. Justru sebuah pelajaran baru ini harus menjadi pembelajaran.

๐Ÿ™ “Iya Pakdhe, katanya Gusti Allah tidak akan menguji manusia diluar kemampuannya”
๐Ÿ˜€ “Iya Thole, If it doesnot kill you, it makes you stronger. Bagi yang meninggal kita doakan dan ihklaskan kepergiannya. Namun bagi kita harus semakin kuat dan semakin waspada.

Saatnya para ahli meneliti.

Sebenarnya para ahli kebencanaan khususnya ahli gempa, tidak tinggal diam saat gempa terjadi. Mereka terus melakukan penelitian, walau dari kejauhan. Karena bagaimanapun prioritas utama adalah penyelamatan (resque).

Memang benar, para ahli harus segera ke lokasi untuk memberikan pengamatan sedini mungkin sebelum dibersihkan. Data kondisi kerusakan selalu memberikan arti tersendiri pada analisa. Dan sejatinya proses kebencanaan gempa itu terjadi tidak hanya saat gempa utama.

Displacement atau pergeseran tanah akibat Sesar Geser Palu. Terlihat perkiraan antara 3-5 meter dengan maksimum ada yang diperkirakan 12 meter.

Pada saat kejadian, semua mata ahli gempa mengamati, hingga bebehari berikutnya sudah muncul analisa data dari satelit yang melihat seberapa besar dampaknya. Dimanasaja terjadi longsor, bagaimana dengan pergeseran tanah (dislokasi dan rupture nya).

Selang beberapa hari setelahnya, para ahli dari Badan Geologi juga segera melihat dampaknya. Dan secara langsung melihat di lapangan. Pergeseran hingga 5 meter lebih pun juga teramati di lapangan seperti gambar diatas.

NAntinya getaran-getaran gempa susulan juga akan diplot untuk melihat dan memetakan kembali Sesar Palu-Koro. Perubahan konfigurasi ini tentunya akan dilanjutkan untuk melihat bagaimana kemungkinan kedepannya.

Tidak hanya di darat, bahkan beberapa kapal survey sudah mulai memetakan bawah permukaan atau memetakan kedalaman laut dengan multibeam bathymeti.

Semoga saja hasil-hasil penelitian ini akan meningkatkan kewaspadaan dan mampu mengurangi seandainya terjadi gempa lagi.

Semoga

3 KOMENTAR

  1. Pusat gempanya kayaknya jauh dari palu kenapa displacementnya paling parahnya dipalu ya pakde? Trus apakah sebenarnya palu koro itu sebenarnya gak lurus ke selat makassar tapi malah berbelok ke leher sulawesinya, makanya lautnya ambles. perumnas balaroa yang didarat aja ambles, apalagi di laut yang lebih banyak airnya. Menarik buat diteliti tapi mengerikan kalau yang mengalami. Update terus pakde.

  2. Padahal pusat gempa jauh dari kota palu, tapi dari peta displacementnya wilayah kota palu yang paling banyak bergeser. Kok bisa pakde? BTW patahan di permukaannya sampai 5 meter. Ngeri sekaligus takjub melihatnya. Lebih baik jangan dirusak atau dilurusin pematang sawahnya. Kalo perlu dikasih tanda gitu, bisa jadi daerah wisata edukasi gempa tuh.

    • Pusat gempa itu titik imajiner untuk keperluan geofisika memperkirakan magnitudonya. Dengan energi yang sama maka displacement itu tidak hanya dikontrol besaran energinya tetapi juga tergantung dari jenis batuan. Batuan yang muda (lunak), relatif lebih enteng untuk digerakkan ketimbang batuan yang muda (berat).
      Mungkin ini menjawab, mengapa di Palu yang batuannya muda (lunak) lebih mudah mengalami goyangan, atau dalam bahasa tehnisnya, mudah teramplifikasi.
      Mirip seperti kalau anda diatas “agar-agar” (lunak), akan gampang digetarkan, ketimbang anda berada diatas meja (keras).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here