Apa Iya, Global Warming karena Ulah Manusia

0

Perubahan iklim menjadi persoalan komplek bagi peradaban manusia. Meningkatnya karbon (CO2) di atmosfer beiringan dengan peningkatan suhu rerata bumi yang kemudian menjadi sumber dari berbagai problema baru. Menyadari fenomena ini, dunia terbagi menjadi dua haluan. Pasalnya, sebagian beranggapan bahwa Global Warming (GW) disebabkan oleh aktivitas manusia, sebagian lainnya berpendapat bahwa GW merupakan fenomena yang muncul secara natural.

Protokol Kyoto – Persetujuan Perancis

Peningkatan suhu semenjak revolusi industri mendasari diadakannya berbagai konferensi negara-negara di dunia, terutama negara maju di belahan benua Eropa. Protokol Kyoto memberikan target pada setiap negara yang tergabung dalam gerakan tersebut untuk berkomitmen mengurangi gas CO2 – sebagian besar dihasilkan karena pembakaran energi fosil, yang dilepaskan ke atmosfer. Artinya, berbagai teknologi yang digunakan pada bidang industri harus dikonversi menggunakan energi yang ‘ramah lingkungan’. Mengestafetkan visi yang sama, Persetujuan Perancis sebagai upaya untuk memperlambat laju pertambahan suhu dunia dan mengatasi problematika yang muncul karenanya. (Selengkapnya silakan kunjungi di sini

Amerika Serikat Hengkang

Konferensi ini meski diikuti oleh banyak negara namun belum benar – benar merepresentasikan suara dunia. Terlebih lagi, pada Perjanjian Paris tahun lalu, Amerika Serikat dibawah pimpinan D. Trump memutuskan untuk menghentikan komitmennya dalam upaya tersebut. Trump menilai bahwa upaya tersebut tidak significant, hingga kemudian ia lebih memprioritaskan untuk menumbuhkan perekonomian yang akan terhambat dengan diterapkannya komitmen tersebut.

Mahalnya Upaya Menghijaukan Dunia

Keputusan Trump bukan berarti tak berdasar. Mengurangi penggunaan bahan bakar fosil akan menimbulkan kerugian terutama bagi negara industri dan negara – negara yang masih berkembang. Pertumbuhan ekonomi, industri dan infrastruktur membutuhkan energi yang besar. Mengkonversi menjadi energi ramah lingkungan tak semudah membalikkan telapak tangan, Upaya ini membutuhkan biaya dan sumber daya yang ‘mahal’. Sedang upaya tersebut hingga kini tidak (belum) menunjukkan hasil yang significant.

☹ mending kepanasan dari pada kelaparan

Film Terbaru Algore, An Inconvenient Truth

Tahun 2006 lalu, sebuah film dokumenter, An Inconvenient Truth, yang mengulas tentang permasalahan Global Warming sempat menjadi begitu populer. Algore, mantan wakil presiden Amerika serikat (tahun 1993 – 2001) mengkampanyekan idenya untuk mengatasi fenomena perubahan iklim yang terjadi melalui pembatasan produksi CO2.   Tahun 2017 lalu, Algore kembali merilis film dokumenter yang seirama, sekaligus menjadi sekuel dari film sebelumnya.

Algore ingin membuktikan keberadaan GW dengan berbagai bencana alam yang muncul. Seperti, terjadinya pelelehan es di Greenland, banjir di Miami, badai di Filipina, ataupun kebakaran yang melanda Chili dan Kanada, serta kekeringan akibat gelombang panas yang terjadi di Asia dan Afrika. Algore mengkampanyekan bahwa penggunaan bahan bakar energi fosil harus segera dialihkan menjadi energi terbarukan, terutama bagi negara- negara berkembang.  Langkahnya pun menuai banyak kontroversi. Sulit dan terlalu mahal untuk merealisasikannya.

Sayangnya, dalam film ini ulasan secara saintifik tidak terbahas secara mendalam. Film ini lebih menonjolkan sisi humanis dari bencana dan konflik yang terjadi karenanya. Sehingga ada berbagai pentanyaan fundamental tidak terjawab. Apakah benar penambahan CO2 dan perubahan iklim dipicu oleh kehadiran manusia? Ataukah ini hanya satu bagian dari pemanasan global yang telah dialami berulangkali oleh bumi kita?

Global Warming karena Manusia?

Perubahan iklim yang pernah dialami oleh Bumi

Faktanya, rekaman naik turunnya muka air laut menunjukkan bahwa bumi telah mengalami berulangkali global warming – cooling. Putusan pengaruh manusia sebagai penyebab utama global warming agaknya kurang bijak, karena hanya memperhitungan dinamika yang terjadi dalam beberapa dekade atau abad, sedangkan fluktuasi temperatur bumi berubah dalam skala ribuan bahkan jutaan tahun lamanya. Dinamika yang terjadi kini hanyalah bagian kecil dari pola yang telah dialami oleh bumi ini.

Terlebih lagi, trend peningkatan CO2 yang dihasilkan oleh aktivitas produksi minyak dan gas bumi tak sepenuhnya berkolerasi dengan peningkatan suhu. Pada tahun 2000-an saat produksi minyak bumi dunia menurun secara significant, ada sebuah data menarik yang menunjukkan bahwa laju peningkatan suhu tetap terjadi. Artinya, aktivitas dari penggunaan energi fossil belum tentu menjadi sumber utama dari peningkatan karbon dan terjadinya global warming. Peningkatan temperatur yang beriringan dengan peningkatan CO2 apakah betul merupakan hubungan kausalitas? Apakah benar penambahan CO2 dan perubahan iklim dipicu oleh kehadiran manusia. Benarkah manusia mampu turut merekayasa siklus iklim yang telah berlangsung selama milyaran tahun?

Produksi minyak dunia vs perubahan suhu

☹ haiyah kok mbingungi bulek.. tapi kan yaa nggak ada jeleknya kita membatasi produksi CO2

😊 lhaa itu ya kayak dokter ngasih obat pusing ke pasien demam berdarah. Pasiennya emang kadang ngerasa pusing, tapi kan penangannya kurang tepat..

☹ Bulek kayak ngerti ajaa masalah kesehatan.. hihihihi..

Ada temuan baru thole !

Fakta baru menunjukkan bahwa gas Metana (CH4) yang dihasilkan pada aktivitas peternakan secara significant dilepaskan ke atmosfer, ternyata mengabsorbsi cahaya matahari lebih besar dibandingkan CO2. Artinya, Gas Metan lebih berpotensi sebagai greenhouse gas.

Apakah temuan ini kemudian akan menghentikan aktifitas peternakan sapi di berbagai belahan dunia?

☹ Hedeuuh..

Polusi dan Pemanasan Global

Seandainya Pemanasan Global memang tidak disebabkan oleh manusia, namun polusi lingkungan yg sering disebabkan oleh polah tingkah manusia sudah pasti menganggu. Asap kenalpot bukan menganggu manusia karena pemanasan globalnya tetapi menganggu udara yang kita hirup. Demikian juga polusi air sungai atau air tanah, jelas akan menganggu kehidupan manusia serta binatang dan tumbuhan.

😆 Jadi kamu tetep ga boleh buang sampah sembarangan. Itu menganggu pemandangan dan merusak lingkungan

😒 Njih Bulek

Menjaga lingkungan hidup itu tidak sekedar karena alasan global, tapi justru alasan lokal

Artikel terkait :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here