‘Nyawang’ Global Warming dari Indonesia

0

Isu global warming akan selalu menarik untuk diperbincangkan. Terlebih lagi, banyak fenomena alam yang kini bermunculan memperkuat bahwa dunia benar – benar sedang dan akan menghadapi problematika ini. Salah satu yang paling terasa adalah perubaham iklim yang terjadi timbul karenanya.

Apakah Indonesia  juga merasakan dampak Perubahan iklim?

Beberapa waktu lalu, di sebagian pesisir selatan Pulau Sumatera dan Pulau Jawa terjadi gelombang tinggi. Dan kini, serta musim kemarau panjang di berbagai kawasan Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi menimbulkan  kebakaran hutan. Apakah ini tanda – tandanya perubahan iklim nyata adanya?

Dampak Perubahan Iklim

Sebagai negara kepulauan, ternyata Indonesia turut menghadapi berbagai problema yang ditimbulkan akibat terjadinya perubahan iklim. Kenaikan muka air laut akan menenggelamkan berbagai kawasan di area pesisir. Tak hanya itu, musim kering yang panjang memicu terjadinya peristiwa cuaca yang ekstrem serta berbagai dampak tak langsung diberbagai aspek, perikanan dan agrikultur yang kemudian mengancam ketahanan pangan.

☹ Ternyata ngga cuma Bu Susi yang jago menenggelamkan.. suereem..

Belum lama ini United States Agency for International Development (USAID) memperkirakan bahwa pada 2050 Indonesia akan mengalami kerugian sebesar Rp 132 triliun akibat beberapa dampak dari perubahan iklim yang bisa dikuantifikasikan. Dari besarnya biaya tersebut , 53 persen disebabkan oleh penurunan produksi pertanian, 34 persen dampak kesehatan, dan 13 persen dari kenaikan muka air laut.

Peningkatan suhu

Sumber : PEACE, 2007

Rerata temperatur global telah meningkat sebesar 0,6 oC sejak tahun 1950. IPCC (Intergovernmental Panel on Climate Change) memaparkan bahwa selama abad ini kenaikan terjadi sebesar 1,4 – 5,8oC. Berdasarkan data yang dirilis oleh UNEP pada tahun 2005 yang menggambarkan perubahan iklim di seluruh dunia menunjukkan bahwa Indonesia akan mengalami peningkatan suhu rerata sebesar 2,8oC

Kenaikan muka air laut

Pola perubahan muka air laut pada tahun 2009 – 2012 menunjukkan bahwa fluktuasi grafik memiliki pola yang cenderung meningkat secara gradual. Sumber : (Zikra, 2015, “Climate change impacts on Indonesian coastal areas”)

Sebagai Negara kepulauan, dengan lebih dari 17.000 pulau, Indonesia sangat rentan terhadap peningkatan muka air laut. Terlebih lagi dengan lebih dari 80.000 kilometer garis pantai, kenaikan muka air laut ini akan menenggelamkan berbagai area pada kawasan tersebut. Jika kenaikan terjadi sebesar 1 meter saja, air akan menenggalamkan wilayah pesisir seluas 400.000 hektar. Jika saja kenaikan muka air laut terjadi di jakarta setinggi 50 cm maka wilayah Jakarta Utara akan tenggelam setidaknya 270.000 penduduk di wilayah tersebut akan kehilangan tempat tinggal.

Gelombang Panas

Gelombang panas merupakan panasnya kondisi suhu suatu area secara abnormal dalam jangka waktu hari hingga pekanan. Semakin hari gelombang panas semakin sering terjadi. Pada tahun 2012 kejadian gelombang panas meningkat menjadi 3x lipat dari kejadian rerata sebelumnya. Terjadinya global warming meningkatkan probabilitas dan lamanya peristiwa gelombang panas. Gelombang panas menimbulkan bencana kekeringan.

Kekeringan

Musim kering yang panjang terutama disebabkan karena El Nino, dan merupakan salah satu yang terbesar di Indonesia.  Tingginya suhu memicu peningkatan evaporasi, termasuk air pada permukaan dan  tumbuhan. Air yang lepas melalui tumbuhan akan mengakibatkan berbagai area pertanian tandus sehingga mengancam ketahanan pangan. Dengan hilangnya air pada tanah, panasnya matahari kemudian akan mengevaporasikan air yang terkandung pada udara yang membuat cuaca panas semakin memburuk. Kondisi ini juga memperbesar risiko kebakaran. Kebaran yang pernah terjadi di bulan Juni – Oktober 2015 terhitung telah menyebabkan kerugian sebesar Rp 221 triliun.

Wabah penyakit

Dengan meningkatnya suhu, tak hanya menyebabkan kekeringan, beberapa wilayah akan mengalamai curah hujan yang tinggi. Maka tak hanya menimbulkan kerusakan pada lingkungan, peningkatan suhu juga memperbesar penyebaran penyakit terutama penyakit melalui media air. Selain itu, peningkatan suhu juga menjadi pemicu semakin merebaknya malaria.

Dr. Emily Shuman, seorang ahli penyakit menular di Universitas Michigan, telah meneliti penyebaran malaria didunia. Dari penelitian tersebut ditemukan bahwa pemanasan global membuat berbagai kawasan yang sebelumnya tak pernah mengalami malaria, kini banyak terjangkit malaria.  Nyamuk bergantung pada suhu hangat serta tingginya curah hujan agar mereka bisa bertahan. Dan dalam kondisi tersebut, penularan malaria bisa meningkat jika suhu global meningkat.

☹ Buaanyaak sekali ya bulek dampaknya.. lha apa ya kita sudah siap menghadapi semua itu. Daripada kecapekan ngoprak oprak sesuatu yang belum pasti.. mbok ya mending menyiapkan untuk menghadapi sesuatu yang udah pasti
😊 sssstttt… jangan keras keras ngomongnya thole…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here