Belajar dari Gempa Selatan Jogja Semalam (29/08).

0

Adanya gempa tengah malam (29/8) membuat hari ini banyak sekali berita dan juga terutama medsos saling berbagi rasa dan perhatian pada gempa. Gempanya sendiri memang tidak membahayakan, selain kekuatannya tidak tergolong sangat kuat, hanya seperti getaran truk tronton sedang lewat depan rumah, tidak merusak dan berada di laut jauh dari lokasi pemukiman.

Namun semua merasakan “getarannya” menyebar dengan cepat, dan kewaspadaanpun menyebar tidak kalah cepatnya. Hampir semua WA Group dan mainstream media membicarakan di artikel pagi ini.

Tidak munculnya kepankan dan kericuhan pagi ini, menunjukkan sebuah gejala baik dan perlu dikelola dengan benar. Konsen, perhatian, cepetnya informasi serta “alert” ini harus dimengerti sebagai hal positip dan mesti dekembangkan terus sebagai bagian dari mengurangi risiko kebencanaan.

NETWORK, JARINGAN dan KONEKTIFITAS menjadi salah satu kunci dalam mengurangi riisiko saat kebencanaan terjadi. Kalau jaman dahulu dengan teriakan dan ketongan, di era moderen ini internet, dan jaringan komunikasi.

Tentunya kondisi seperti ini juga tidak dapat dibiarkan menjadi liar sehingga justru menjadi sarana penebaran HOAX. Mental OPTIMIS, WASPADA, dan khsuusnya PENDIDIKAN dan PENGETAHUAN perlu menjadi pilar-pilar utama dalam mengurangi risiko bencana saat terjadi.

Education can not stop disaster, but it will reduce the risk and lost.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here