Kondisi Geologi Toba Jadi Kendala Evakuasi KM Sinar Bangun

0

Lokasi karamnya KM Sinar Bangun di perairan Danau Toba menjadi persoalan baru dalam proses evakuasi 164 korban hilang. Hingga hari ini, setelah 13 hari melakukan berbagai upaya, tim Basarnas belum bisa melakukan evakuasi. Pasalnya, lokasi jenazah korban berada pada kedalaman 450 meter. Pada kedalaman ini jangankan manusia bahkan teknologi canggih sekalipun hanya pernah melakukan kegiatan evakuasi pada kedalaman 100 meter.

☹ Kok bisa  dualem banget tho Pakde? Lha laut Jawa saja cuma 50 meter..

Dalamnya Danau Toba

Danau Toba merupakan kaldera yang terbentuk karena proses letusan dahsyat 70.000 tahun yang lalu. Kubah  gunung api ini meletus, mengeluarkan lava, piroklastik dan semua material yang berada di dalam dapur magma sehingga membuat dapur magma kosong. Kosongnya dapur magma mengakibatkan amblesnya daerah di atasnya dan membentuk cekungan dalam yang terisolasi. Hujan yang turun selama puluhan ribu tahun tertampung dalam cekungan ini sehingga terbentuklah Danau Toba. Pulau Samosir yang berada di tengah danau juga merupakan bagian dari badan Gunung Toba.

Aktivitas Danau Toba

☹ Denger denger katanya masih terjadi pergerakan tanah di sana.. Apa betul masih ada aktivitas geologi di sana ?

Berdasarkan beberapa penelitian yang pernah dilakukan, Pulau Samosir pernah mengalami pengangkatan. Bayangkan saja Danau Toba ini seperti Gunung Tengger di Jawa Timur. Kaldera Tengger yang ditengahnya terdapat Gunung Bromo, hanya bedanya padang pasir di Kaldera Tengger ini terisi air. Artinya, dibawah Danau Toba ini masih ada pergerakan akibat aktivitas vulkanisme ataupun pergerakan dari zona-zona lemah yang terbentuk saat proses terjadinya amblesan. 

Anomali Gravitasi Danau Toba

☹ Kok jenazah korban nggak muncul ke permukaan yaa.. biasanya kalau sudah beberapa hari jenazah korban terapung.. apa ada hubungannya dengan anomali gravitasi Pakde?

Penyebabnya bukan karena anomali gravitasi yang ada pada kawasan Danau Toba melainkan karena sifat fisik airnya yang tawar. Tawarnya air danau menyebabkan densitasnya lebih kecil dibandingkan dengan air laut yang mengandung garam dan berbagai mineral. Akibatnya, tubuh yang tenggelam di Danau Toba tidak lebih mudah mengambang jika dibandingkan di perairan laut. Posisi jenazah di kedalaman hingga ratusan meter tentunya juga mengalami gaya tekan yang sangat besar dari tubuh air itu sendiri jika dibandingkan dengan peristiwa korban tenggelam di sungai.

Evakuasi korban

☹ Terus apa masih ada kemungkinan dan cara untuk mengevakuasi korban? Apa ada alatnya? Lha kalau manusia yo nggak berani sampai kedalaman segitu ya De..

Manusia meski dipaksa menyelam sampai 100 meter misalnya, mungkin fisik tubuhnya masih sanggup menahan tekanan air, namun kondisi volume udara di paru-parunya hanya menyisakan 1/3 dari volume normal. Maka, untuk membawa manusia hingga kedalaman tersebut tentu membutuhkan supporting system. Solusi lainnya adalah dengan mengirimkan alat seperti ROV (Remotely Operated Vehicle) namun memiliki lengan yang berfungsi melakukan pekerjaan fisik. Hingga kini, ROV yang telah digunakan tim Basarnas terbatas hanya mampu merekam data visual saja.

Alat / robot semacam ini telah digunakan pada perusahan – perusahan migas. Hanya saja untuk saat ini tidak ada perusahaan di Indonesia yang sedang melakukan pengoperasian pada deep water area. Kita bisa saja meminjam alat di  Luar Negeri. Namun perlu diingat bahwa mengangkut alat – alat berat ke kawasan yang tinggi dan terjal bukan pekerjaan yang mudah.

🙁 Tapi kan Basarnas sudah dan siap bekerja secara optimal. Apa masih tidak ada bisa diupayakan?

😊 Bukan hanya soal upaya ataupun biaya thole, tapi juga soal keterbatasan waktu yang kita miliki.

Meski secara biologis jenazah korban tidak rusak, bisa jadi kondisi fisik (tekanan air) dapat merusak jaringan tubuh. Maka kita berkejaran dengan waktu. Kita bisa saja menggunakan alat dan teknologi seperti crane misalnya. Bisa saja dilakukan secara cepat dengan menggunakan transportasi udara. Tapi kemudian bagaimana supporting system selama pengoperasian alat. Tentu membutuhkan fasilitas yang dapat terapung dalam bentuk kapal. Berapa lama merancang fasilitas semacam ini. Bisa jadi memakan waktu berbulan bulan lamanya.

Maka dengan berbagai kendala teknis yang dihadapi saat ini. Salah satu solusi yang bisa dilakukan oleh Basarnas dan pemerintah adalah melakukan komunikasi dengan keluarga korban terkait dengan kendala dalam proses evakuasi. Kemudian melakukan identifikasi terhadap jenazah secara visual menggunakan ROV, setidaknya memberi kelegaan dan menjadi kenangan bagi keluarga korban.

Meski demikian kita semua berharap agar Basarnas dapat bekerja secara optimal melakukan evakuasi terhadap 164 korban. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberikan kekuatan dan ketabahan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here