Pembelajaran Gempa Jogja 27 Mei 2006

0
Data gempa-gempa susulan setelah gempa Jogja.
Eyang Dr. Amin Widodo, Dosen ITS
🙁 “Pakde ini ada dongengan dari Eyang Amin, yang dosen ITS itu looh !”
😀 “Iya Thole, Eyang Amien dosen yang menjadi ahli kebencanaan di ITS.

Indonesia Rawan Gempa

Sejak jutaan tahun yang lalu tekanan lempeng tektonik sudah bekerja bergerak dan menekan Indonesia dengan kecepatan rata 2 cm/tahun kecepatan lempeng 6 cm/tahun dekat ujung utara Sumatra sampai 7,8 cm/tahun di dekat pulau Sumba.. Batas tumbukan Lempeng Samudara Hindia-Australia dan Lempeng Benua Eurasi berada sekitar 300 km selatan pantai selatan Jawa dan membentuk palung yang dikenal dengan Palung Jawa. Palung Jawa, panjang total sekitar 5600 km, terbentang mulai dari kepulauan Andaman-Nicobar di barat sampai ke Sumba di timur.

Pada batas lempeng ini terjadi akumulasi energi sampai suatu batas tertentu atau dengan selang waktu tertentu kekuatan lapisan litosfer terlampui sehingga terjadi pelepasan energi yang dikenal dengan gempa bumi. Gempa ini bisa terjadi tiap tahun, bisa tiap 10 tahun, bahkan bisa 100 tahun atau lebih. Pelepasan energi sesaat ini menimbulkan goncangan (ground shaking) dan pergeseran (displacement). Gempa (lindu) akan menyebabkan hancurnya bangunan-bangunan dan infrastruktur lainnya serta sering sekali dapat memicu longsor, likuifaksi, dan gelombang pasang tsunami.

Peta awal kerusakan Gempa Jogja

TSUNAMI akan terjadi kalau terjadi pergeseran arah vertikal episentrum gempa di laut, magnitude kekuatan > 6.5 skala Richter dan kedalaman pusat gempa dangkal < 50 km, tapi kalau pergeseran mendatar tidak menimbulkan tsunami. Sampai saat ini gempa merupakan fenomena alam yang belum bisa diprediksi, datang tiba-tiba dengan goncangan yang mengejutkan, tidak bisa dihindari dan tidak bisa dijinakkan. Getaran dan goncangan selama terjadinya gempa tidak langsung menyebabkan kematian, sebagian besar karena tertimpa tembok yang runtuh, kaca dan benda-benda yang tergantung.

Gempa Yogya dan Jawa tengah dengan magnitud 5,9 skala Richter mengakibatkan banyak korban meninggal lebih dari 5000 orang, luka-luka puluhan ribu orang dan telah menghancurkan ribuan rumah serta ribuan orang menjadi tidak punya rumah. Banyak orang di Indonesia menanyakan kenapa di Yogya ada gempa sebesar itu?. Ternyata itu bukan yang pertama tapi kata beberapa orang tua di zaman Jepang tahun 1943 pernah terjafi gempa dan menurut Kepala badan Geologi Bandung tahun 1867 pernah terjadi gempa besar melebihi dari gempa 2006 silam.

Kerusakan parah terutama pada jalur gempa di sepanjang K.Opak (Pleret-Piyungan-Prambanan-Gantiwarno Klaten) yang dikenal dengan Patahan Opak dan dataran Bantul mengarah ke barat. Kerusakan di dataran Bantul ini disebabkan karena lapisan tanah di bawahnya didominasi lapisan aluvial yang tidak terkonsolidasi dengan baik sehingga gelombang gempa mengalami amplifikasi Energi gelombang gempa sangat tergantung media yang dilewatinya, kalau melewati media lapisan batuan, frekuensi gelombang gempa lebih banyak tapi amplitudo kecil sehingga energi kecil, sebalikanya kalau melewati endapan aluvial maka amplitudo akan membesar sehingga energi gempa juga besar. Saat gempa di Jogja th 2006 sebagian besar melewati endapan aluvial sehingga energi yang terjadi sangat besar dan merusakkan ribuan bangunan di Bantul.

🙁 “Pakde, itu gempanya kok datangnya mendadak ya ?”
:-D”Ya ini pembelajaran yang dibicarakan Eyang Amin.”

Gempa Jogja juga menimbulkan kepanikan massal akibat isu tsunami. Hal ini menunjukkan bahwa (1) sedikitnya pengetahuan tentang gempa dan tsunami yang dimiliki masyarakat, sehingga mereka lebih percaya ISU daripada ILMU (2) kita diajari bahwa segala bencana itu peringatan dan ujian bagi kita agar lebih mendekat pada Allah (pasrah saja, “wis wayahe”) dan selama ini kita juga diajari atau tepatnya ditakut takuti “jangan ngomong itu (gempa) nanti terjadi sungguhan”, dan (3) penayangan dahsyatnya TSUNAMI Aceh secara terus menerus oleh hampir semua media televisi, kesemuanya mempengaruhi persepsi hampir seluruh rakyat Indonesia sehingga saat terjadi isu ada tsunami 4 jam setelah gempa maka terjadi kepanikan massal di Jogja. Peringatan polisi dan ilmuwan tidak digubris, semuanya bergerak ke utara termasuk dalam kondisi luka parahpun ikut panik.

Pelajaran yg bisa diambil

Peta mikrozonasi kegempaan Sekitar Patahan Opak. Dibuat oleh UGM, AUNSEED dan JICA

Kita semua, masyarakat Indonesia harus belajar dan mengenal gempa dan tsunami dengan baik dan benar sehingga saat terjadi gempa kita tidak panik, tahu tata cara menyelamatkan diri dan kita tahu/bisa menyelamatkan orang lain. Anak saya yang terlahir dan besar di Surabaya juga harus tahu itu dan harapnnya kalau sedang travelling di pantai selatan tahu tentang tsunami. Salah satu contoh adalah seorang anak Inggris bernama Tilli Smith yang bisa menyelamatkan banyak orang karena dia tahu tentang tsunami yang diperoleh waktu di sekolah dasar, padahal semua orang tahu Inggris belum pernah terkena tsunami. Tilli Smith tahu dan bisa menyelamatkan orang.

Peta Geologi Lembar Yogyakarta (Wartono Rajarjo)

Kita semua, masyarakat Indonesia masih UNTUNG, karena gempa dan tsunami yang beberapa tahun ini terjadi pada saat belum jam istirahat, bukan terjadi pada saat jam sibuk, jam masuk sekolah dan masuk kerja. Andai terjadi pada jam kerja dan jam sekolah maka korbannya akan sangat banyak dan mengerikan. Ribuan gedung sekolahan dan kantor rusak berat saat terjadi gempa Yogya dan Jawa Tengah, sehingga bisa dibayangkan kalau terjadi pada saat jam sekolah dan jam kerja. Ingatlah bahwa Gusti Allah masih menyayangi kita, masih menyentil kita, berfikirlah, berbenahlah untuk masa depan lebih baik.

🙁 “Pakde, Eyang Amien ini pasti orang Jogja ya. Apapa selalu untung terus”

Kita semua, khususnya yang bermukim di kawasan pantai selatan yang rawan gempa dan tsunami, mulailah belajar gempa dan tsunami sehingga kita bisa selamat karenanya. Kalau kita amati bangunan yang ada sebagian masih banyak bangunan yang ”un-engenered” (boto ditumpuk, tanpa tulangan) baik itu rumah tinggal, sekolahan dan kantor sangat rentan terkena gempa. Apalagi berita terakhir ada bangunan sekolah yang roboh dengan sendirinya.

Kita semua, masyarakat yang berpengetahuan lebih mempunyai tanggung jawab moral memberi dan meningkatkan kapasitas masyarakat yang ada di sekitar kita di semua tingkatan termasuk juga para birokrasi. Pernahkah kita terpikir melatih masyarakat difable, bagaimana melatih masyarakat tuna netra, tuna wicara dan lain lain. Mestinya akan sangat baik kalau juga dilakukan dan ditunjang penelitian terkait dengan gempa dan tsunami.

🙁 “Wah Eyang Amien banyak memberi pelajaran ya Pakde. Tapi itu patahannya kok masih ada 8 model apa semua masih valid pakde ?”
😀 “Ya begitulah Tuhan memebrikan pelajaran. Kalau masih penasaran silahkan baca yang lama ya Thole “

Kalau masih juga penasaran tentang uniknya patahan di Jogja ini silahkan dilanjut di dongengan terkait kegempaan dan Sesar Opak  :

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here