Mengapa Islam memilih penanggalan Lunar Calendar?

1

Sebuah pertanyaan menggelitik dari Mas Hendar disini :

Tapi kenapa Islam memilih penanggalan LUNAR ? Yang lebih menggelitik lagi adalah : Lunar itu penanggalan yang paling bagus untuk posisi geografis antara 60 LU dan 60 LS, Di kutub Lunar tidak kelihatan bagus. Padahal Islam itu agama seluruh umat, Apakah orang kutub tidak mendapatkan rahmat Islam ?

Hallah ini pertanyaan sederhana tapi njawabnya ngga mudah.

Sebenarnya Islam menggunakan kedua benda langit Matahari dan Bulan untuk beribadah. Waktu penanggalan atau kalender menggunakan bulan (Lunar) tetapi waktu sholat menggunakan matahari (Solar). Jadi tidak betul juga kalau Islam hanya menggunakan bulan dalam ibadah ritualnya. Namun juga tidak sederhana menjawab mengapa Islam memilih lunar dalam sistem penanggalannya. Kali ini dongengan hanya mencari apa hikmah dibalik itu. Kalau mengapa-nya ini tentu jawabnya bisa macam-macam. Paling-paling kalau kepepet trus menjawab “ada kok ayatnya” atau “ah, kersaning Gusti Allah“.

🙁 “Tapi kan bener to Pakdhe. Kalau Gusti Allah ngersakke ya manusia manut saja
🙂 “Haiyak, seko ngendi kowe ngerti nek kuwi kersaning Gusti Allah ? Tapekno Nduk, nek kowe manut thok saja kau dapet satu saja, kalau manut trus nambah usaha misale meneliti, walaupun gagal kau dapet dua, kalau usahamu meneliti berhasil kau dapet tiga. Jadi jangan manut thok!

Musim dan peredaran matahari

Okelah kita kembali soal penggunaan bulan dan penggunaan matahari dalam berpuasa. Waktu di SD dulu aku diajari soal iklim di dunia ya dikenal ada zona iklim berdasarkan atas posisi lintang geografis trus dikenal daerah beriklim. Belahan bumi kita ini dibagi menjadi 6 irisan horizontal, iklim tropis, subtropis dan kutub, di belahan bumi utara maupun belahan bumi selatan.

Pembagian iklim berdasarkan letak lintang

🙁  Di sekolahan genduk juga diajarin Pakdhe, daerah tropis cuma mengalami 2 musim saja, karena letaknya di ekuator bumi. Lha, yang asyik itu kalau di daerah subtropis, bisa ngalamin 4 musim. Kok bisa beda ya?

🙂 Wah pinter yo kamu Nduk, .. itu karena bumi ini poros rotasinya ndak jejeg, miring 23,5° Sinar matahari kadang cuma nerangin bumi belahan utara, kadang ke selatan. Jadinya, di daerah subtropis akan mengalami 4 musim.

Kemiringan rotasi bumi ini mengakibatkan adanya perbedaan intensitas panas yang diterima belahan bumi utara dan selatan. Fenomena ini yang menimbulkan adanya perbedaan musim. Pada waktu tanggal 22 Juni belahan bumi di bagian utara lagi panas – panasnya (musim panas) tapi di belahan selatan lagi dingin – dinginnya (musim dingin). Sebaliknya, 22 Desember gantian bumi belahan selatan yang panas dan bumi belahan utara yang dingin.

Gerak revolusi bumi terhadap matahari

Kalau bumi-nya  yang kita anggap diam dan matahari yang bergerak, kita sebut dengan istilah gerak semu tahunan matahari. Gerak semu matahari ini yang juga menyebabkan perbedaan lamanya siang dan malam.

Gerak semu tahunan matahari

Diantara 22 Maret hingga 22 September belahan bumi utara mengalami siang hari yang lebih panjang daripada malam hari, pada 22 Juni akan mengalami siang hari yang paling panjang. Hal ini juga berlaku pada belahan bumi selatan pada bulan 24 September – 20 Maret.

 

🙁 Selain untuk menentukan waktu sholat, perhitungan berdasarkan matahari ini apa ya ada hubungannya sama puasa tho Pakdhe?

🙂 Lha kalau buka puasanya nunggu hilal, kamu keburu pingsan, Nduk.

🙁 walah .. Pakdhe bisa ajaa..

🙂 lamanya puasa dalam satu hari kan ditentukan pakai matahari yang kelihatan jelas kapan terbit dan terbenamnya. Jadi semua aturan ini ternyata tujuannya untuk memudahkan umat Islam dalam menjalankan puasa. Coba kalau buka nya nunggu pengamatan bulan dulu.. repott..

Penanggalan Bulan dan Matahari

Penanggalan kalender hijriah (lunar calendar) didasarkan pada satu periode sinodis bulan atau selama 29,5306 hari. Dari fase bulan sabit  pekan pertama (waxing crescent), bulan separuh -mengembang (half moon first quarter),bulan cembung, bulan purnama (full moon), hingga nantinya kembali menjadi bulan baru (new moon). Pada fase bulan baru menuju ke fase bulan sabit pekan pertama, bulan mengintip malu – malu menandakan terjadinya pergantian bulan. Diwaktu inilah biasanya terjadi sidang isbat untuk menentukan apakah bulan sudah berganti.

Perubahanan kenampakan bulan (fase bulan) dalam 1 bulan penanggalan Lunar

Satu tahun Hijriah memiliki 12 periode sinodis Bulan atau 354,366 hari. Dibulatkan menjadi 354 hari atau 355 hari untuk tahun kabisat. Sedangkan, kalender Masehi didasarkan atas peredaran Bumi mengelilingi Matahari dari satu titik tertentu yang disebut solstis atau equinox kembali ke titik itu yaitu selama 365,2422 hari, selisih 10 – 12 hari dalam setiap tahunnya. Perbedaan inilah yang mengakibatkan pelaksanaan ibadah Ramadhan, perayaan Idul Fitri, dan Idul Adha selalu maju 10-12 hari dari tahun sebelumnya.

🙁 Pantes aja dulu waktu genduk masih SD, Ramadhan nya bareng sama perayaan Natal. Berarti Pakdhe sudah mengalami Ramadhan semua bulan ya?

🙂 Walah.. Pakdhemu ini kan masih muda..

Pergeseran Lunar Calendar terhadap Solar Calendar dalam setiap tahunnya memungkinkan Ramadhan terjadi pada berbagai musim. Hikmahnya sangat dirasakan oleh umat muslim di lintang subtropis. Coba yok kita tengok berapa lama umat muslim di sana tahun lalu berpuasa.

Pada negara – negara di belahan bumi selatan umat muslim berpuasa selama 10 – 11 jam karena pada kawasan ini sedang mengalami musim dingin di mana siang lebih pendek dibandingkan malam. Sebaliknya, di belahan bumi utara umat muslim berpuasa rata – rata selama 17 – 18 jam bahkan Negara Islandia dan kawasan greenland mencapai 21 jam.

🙁 Wah pakdhe, masak buka, tarawih sama sahur cuma 3 jam terus dilanjut puasa lagi 21 jam.. bisa pingsan..

🙂 itu hikmahnya Nduk, coba kalau pakai penanggalan matahari, umat muslim di Islandia bakal puasa 21 jam terus selamanya. Kalau pakai penanggalan bulan kan jadi bisa juga ngerasain puasa 11 jam kayak di Australia. Adil…

🙁 Berarti puasa bulan ini genduk mau pindah Australia, tahun 2030 pindah ke Islandia..

Dulu Pakdhe sudah pernah dongengin Thole, Nduk

https://geologi.co.id/2017/05/18/thole-bertanya-tentang-puasa/

 

 Selamat menunaikan Ibadah Puasa Ramadhan 1439 H 

 

 

1 KOMENTAR

  1. Sebetulnya jawabannya mudah saja
    Untuk menentukan mulai bulan dengan syamsiah (solar) itu susah di lihat dengan gejala alam (coba tentukan permulaan February). Kan permulaan Ramadan bisa dilihat dengan munculnya bulan.
    Juga sholat mudah ditentukan dengan lihat bayangan saja.
    Coba penentukan 1 Januari dengan matahari itu tidak gampang, harus dibangun bangunan seperti Stonehenge.
    Wassalam
    RPK

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here