Merapi Batuk Sebentar

0

Merapi yg Gagah Sedang Dehem

ehm .. ehm

Gunung Merapi mengalami erupsi freatik pada Jumat pagi, 11 Mei 2018. Letusan ini disertai suara gemuruh dengan tekanan sedang hingga kuat dan tinggi kolom 5.500 meter dari puncak kawah. Letusan akibat tekanan uap ini mampu melontarkan abu vulkanik, pasir dan material piroklastik hasil erupsi sebelumnya. Menurut BPPTKG letusan yang ketujuh sejak erupsi besar 2010.

Apa itu letusan freatik ?

Letusan freatik terjadi karena dorongan tekanan uap air yang terjadi akibat kontak massa air dengan panas di bawah kawah Gunung Merapi. Jenis letusan ini memang seolah tidak berbahaya dan dapat terjadi kapan saja pada gunung berapi aktif. Biasanya letusan ini terjadi hanya beberapa saat saja, tidak sampai beberapa hari. Gunung Merapi beberapa kali sebelumnya pernah terjadi letusan jenis ini.

Bagaimana tenaga uap ini terjadi ?

Letupan atau erupsi ini akibat adanya pelepasan tekanan uap air bertekanan tinggi dalam jumlah besar secara mendadak, setelah uap air tersebut berhasil mendobrak sumbat yang menghalanginya.

Erupsi ini punya tekanan cukup tinggi, karenanya uap air yang dihasilkan sanggup menggerus dan melepaskan butir-butir kerikil, pasir dan debu di sepanjang dinding saluran magma (diatrema) yang dilintasinya. Tingginya kolom letusan hingga 5500 meter. Diperkirakan tidak hanya tekanan uap, namun sangat mungkin ada gas-gas lain yang terperangkap sebelumnya dibawah sumbat.

Apa bahayanya ?

Selain mengagetkan munculnya tanpa tanda-tanda yg dikenali selama ini, letupan ini membawa material pasir, kerikil, debu serta abu vulkanik yg sudah kita kenal sangat berbahaya bila kena mata. Juga abu vulkanik ini membayakan penerbangan pesawat. Dan kali ini membuat Bandara Adisucipto, Yogyakarta, ditutup beberapa jam.

abu vulkanik yang terekam oleh citra satelit cuaca Himawari menunjukkan penyebaran ke arah tenggara-selatan

Besarnya letusan freatik kali ini juga ditengarai membawa gas-gas beracun yang menyebabkan beberapa pendaki gunung yg berada didekat kepundan pingsan.

Seperti pada letusan freatik pada umumnya, letusan kali ini secara cepat menurun, berkurang dan akhirnya kembali normal setelah beberapa jam.

Gunung Merapi yg erupsi besar terakhir tahun 2010. Gunungapi yang sangat aktif ini sebelumnya erupsi setiap dua hingga tiga tahun sekali. Namun erupsi tahun 2010 itu diperkirakan merupakan awal perubahan perilakunya. Para ahli sangat terpicu dan terpacu untuk menelitinya.

Merapi yang gagah !!

Gunung Merapi memang banyak yg menganggap memiliki misteri, hidupnya Merapi adalah hidupnya kota disekelilingnya. Kesuburan tanah disekitar Merapi tidak dipungkiri. Abu vulkanik Merapi merupakan pupuk penyubur alami yang tidak tertandingi. Itulah sebabnya Gunung Merapi merupakan gunung yg memiliki pedesasaan dan pemukiman yg paling dekat dengan kepundan hingga kurang dari 3km. Rata-rata gunung di Jawa memiki pemukiman berjatak 5-10 km dari kepundan.

Kalau dibandingkan gunung-gunung yang lain, geometri Gunung Merapi sangat runcing. Gagah berdiri tegak dengan warna puncak putih abu-abu. Keindahan dan kegagahan Merapi memang tak tertandingi. Membuat para pendaki sangat senang menikmati pemandangan ini.

Bagaimana dengan anda ?

Semoga kita juga semakin mengerti, semakin dekat dengan alam dan dapat memanfaatkan karuniaNya.

🙁 “Whadoh, Pakde, dehemnya Merapi ngagetin eh.. Berbahaya mboten niki Pakdhe?”

🙂 ”Ya letupan kecil ini kan mengurangi sumbat. Kalau sumbat ini semakin lama semakin kokoh, susah didobrak. Bila didobrak dg tekanan besar berati harus dengan erupsi sangat kuaat … Nah erupsi kecil begini mengurangi kekuatan bila ada letusan magmatik, Nduk..”

🙁 ”Berarti letusan-letusan kecil seperti ini juga ada gunanya nggih?

🙂 ”Weeelah, ya ada dong nduk. Selain untuk mengurangi kekuatan jika ada letusan magmatik, akan ada penyebaran abu volkanik penyubur tanah. Salaknya jadi gak sepeeet…. Manis kayak pakdhemu ini loh”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here