HARI BUMI : Usia Bumi 4.5 Milyar Tahun. Semakin Tua atau Semakin Sempurna ?

Dinamika geologi bumi merupakan ciri planet yang layak untuk menunjang kehidupan manusia. Mitigasi dinamika geologi bumi ini tidak dapat diabaikan. Banjir tidak perlu selalu dimusuhi, longsoran jangan hanya dicaci. Semua dinamika geologi bumi ini perlu dimitigasi, diketahui dan dimengerti untuk menunjang lingkungan yang layak, dan aman

0
Awanpanas Gunung Merapi (Badan Geologi)

Bumi yang dihuni manusia sudah berumur lebih dari 4,5 milyar tahun.  Sudah renta atau justru sedang menuju kesempurnaan? Kita lebih sering mendengar pernyataan bumi sudah renta sehingga perlu perawatan khusus. Ataukah sebetulnya bumi sedang menuju kedewasaan hingga bumi berulah layaknya ABG yang penuh energi ekstra.

Mungkin kita tak akan pernah tahu.
Apakah Bumi semakin tua atau semakin sempurna ?

Apapun yang kita percayai sebagai persepsi tingkat kedewasaan bumi saja mampu membuat manusia lupa akan tugas lengkapnya dalam memanfaatkan isi dan hasil bumi, mengerti perilaku bumi hingga harus menjaga lingkungan di bumi untuk menunjang kehidupan.

🙁 “Pakde, jangan-jangan bumi memang masih memasuki mas ABG. Lagi berperilaku melow, labil. Makanya aktif, banyak kejadian dan banyak bencana ya Pakde ?”

Ekstraksi – Mitigasi – Konservasi

Tiga aspek holistik yang tak terpisahkan.

Mengambil hasil bumi dan sumberdaya alam merupakan salah satu kegiatan manusia sejak mereka diciptakan. Demi bertahan hidup, manusia awalnya memanfaatkan air, buah-buahan, dedaunan, hutan hingga sumber daya pangan dan juga sumber daya energi. Kemajuan ilmu pengetahuan mampu memperkirakan kebutuhan air tawar dan bahan makanan satu individu manusia.  

Ekstraksi sumberdaya alam sudah seharusnya dilakukan manusia dengan bijak, lantaran bila berlebihan akan menimbulkan ketimpangan ekosistem. Tentu kita tidak boleh mengambil semua saat ini, dan memproduksi sebanyak-banyak untuk hari ini. Ekstraksi sumberdaya alam harus dikontrol dengan ilmu, akal dan pengetahuan serta diproyeksikan untuk memenuhi  kebutuhan tidak sekadar masa kini, tetapi harus  memperkiraan kebutuhan anak cucu kita pada masa depan.

Bumi bukanlah sekedar benda mati yang diam. Bumi memiliki siklus aktifitas seolah bernafas. Bumi juga bergerak, bergetar, dan air laut pun terus mengalun. Dinamika bumi juga mengikuti kaidah fisis serta memiliki mahluk lain yang menghuninya selain manusia, yang juga harus kita mengerti. Tanpa pengetahuan akan dinamika bumi, manusia akan memandang seluruh aktifitas bumi yang mengganggu sebagai bencana.

Awanpanas Gunung Merapi (Badan Geologi)

Banjir adalah mekanisme pengaliran air yang juga menjadi agen pengangkut unsur hara penyebar kesuburan. Longsoran merupakan proses stabilitasi lereng secara alamiah, gempa merupakan pelepasan tenaga akibat gerakan tektonik kulitnya. Letusan gunungapi sejatinya kegiatan magma di dalam bumi yang perlu disalurkan.

Dinamika geologi bumi merupakan ciri planet yang layak untuk menunjang kehidupan manusia. Mitigasi dinamika geologi bumi ini tidak dapat diabaikan. Banjir tidak perlu selalu dimusuhi, longsoran jangan hanya dicaci. Semua dinamika geologi bumi ini perlu dimitigasi, diketahui dan dimengerti untuk menunjang lingkungan yang layak, dan aman.  Dengan begitu nafas dan detak-detak bumi tidak hanya dianggap sebagai bencana.

Manusia memerlukan ruang untuk menunjang kehidupan. Namun, tidak semua tempat layak dihuni, dan mampu menunjang seluruh kebutuhan manusia. Ada ruang di bumi yang pas untuk ditinggali, ada ruang yang hanya dapat ditanami.  Selain itu, ada pula ruang yang dapat dimanfaatkan hasil buminya, airnya, mineralnya, minyaknya, gasnya. Dan ada pula yang dapat dimanfaatkan secara bersama dan bergantian.

Ekosistem yang layak huni luasnya terbatas. Ekstraksi sumberdaya alam yang tak terkontrol, dan tanpa usaha  mitigasi dinamika lingkungan akan membahayakan kelangsungan hidup. Manusia dengan ilmu, akal dan pengetahuannya dituntut harus mampu melakukan konservasi ekosistemnya secara bijak. Keterbatasan ruang harus dipelihara.  Singkatnya, konservasi lingkungan hidup perlu dilakukan dengan lebih bijak.

Indonesia itu beragam terdiri dari 17 ribu pulau yang diantaranya 16.056 yg sudah didaftarkan namanya

Keberagaman Indonesia tersebar di lebih dari 17.000 pulau. Keberagaman ini termasuk ragam sumberdaya alam dan ragam dinamika geologinya. Tidak semua tempat mengalami gempabumi, dan merasakan letusan gunungapi.  Namun, kita di Indonesia perlu tahu dimana tempat-tempat yang penuh dengan dinamika bumi yang khas ini. Tidak semua tempat memiliki batubara, emas, minyakbumi, dan air yang layak dikonsumsi. Namun dengan kesatuan negara Republik Indonesia maka rakyat akan terus bertahan, maju dan berkembang secara bersama-sama.

Kondisi spesifik Indonesia ini harus kita kenali. Salah satunya kondisi demografi tahun 2020-2030, ketika terjadi bonus demografi.  Pada saat itu 161 juta diantara 260 juta penduduk Indonesia merupakan usia produktif.  Rakyat Indonesia membutuhkan sumberdaya alam mineral dan energi yang cukup untuk bekerja, serta lingkungan yang aman dari dinamika geologi.  Sangat disadari, manusia memiliki keterbatasan.  Kegiatan ekstraksi, mitigasi dan usaha konservasi  tidak mungkin dilakukan sendiri atau secara sektoral.  Bersatunya para pengelola bumi Nusantara semestinya mampu menjadikan penduduk Indonesia tetap bertahan, berkembang, dan maju bersama saat  terjadi bonus demografi sepuluh tahun lagi.

Dalam rangka Hari Bumi, pemerhati bumi di Indonesia harus BERSATU dalam menyediakan sumberdaya alam dan menyiapkan lingkungan yang sehat dan aman bagi generasi penerus bangsa.

Salam Bumi Lestari

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here