Mungkinkah Terjadi Tsunami 57 meter ?

2
Mungkinkah Tsunami 57 meter?

Benarkah Mungkin Tsunami 57 meter?

Berita tinggi tsunami 57 meter bikin heboh. apalagi lagi beritanya dari ahli BPPT. Saya juga inget bagaimana ahli BPPT membuat perkiraan migas di Aceh lebih besar yang dari migas yang sudah diketemukan di Arab.

🙁 “Iya Pakde. BPPT suka dengan berita bombastis ya ?”

😀 “Ya supaya kamu terbangun Thole”

Mungkin perlu dilihat step-stepnya saja, bagaimana perkiraan itu bisa muncul. Kita coba menggabungkan beberapa diskusi di WAG maupun mailist yang mungkin dapat menjadi beebrapa acuan.

Sumber Gempa

Sumber gempa bumi pada dasarnya didasarkan pada perhitungan slip sebuah bidang sesar yang memiliki geometri 4 persegi panjang. Jika kita tahu batas-batasnya & tahu seberapa besar nilai slip deficit dalam 4 persegi panjang itu (keduanya bisa diketahui dg GPS), maka magnitudo maksimum gempa di lokasi itu bisa diketahui dengan menghitung panjang x lebar x potensi slip yg lantas diinput ke dalam persamaan gempabumi standar.

🙁 “Ooh cuman begitu saja Pakde ?”

😀 “Hust, bukan cuman, ini cara mudahnya biar kamu nggak panik”

Dari seismic gap dan juga peta strain/stress mungkin diketahui seberapa besar tenaga yang tersimpan siap dilepaskan. Kalau magnitudo maksimum sudah diketahui dan lokasinya semuanya ada di dasar laut, prakiraan tsunaminya juga bisa didapatkan dengan menghitung seberapa tinggi pengangkatan dasar laut di atas sumber gempa akibat patahan penyebab gempa ini bergerak naik.

Kemungkinan prakiraan potensi tsunami setinggi 57 m di pesisir Pandeglang (dan pesisir selatan Jawa Barat pada umumnya) dibangun atas dasar asumsi sumber gempa seukuran 800 km * 200 km yg membentang dari P. Enggano hingga selatan Pangandaran. Pada sumber ini diasumsikan terjadi slip maksimum 20 m. Sehingga magnitudo maksimum gempanya ~9 atau setara Gempa Aceh 2004.

Nah diatas itu adalah “perhitungan maksimum”, dengan berbagai asumsi tentunyanya. Saya kira hasil perhitungannya bukan angka yang semestinya dipakai untuk dikomunikasikan ke masyarakat. Ini bisa kita anggap sebagai “angka hasil komunikasi antar dewa di langit”.

Mengapa ?

Nah, “Worse case scenario” gempa kekuatan 9 itu masih hasil hitungan dengan kalkulasi fisis (mekanis), menurut saya, bukanlah angka yang semestinya dipakai dalam mengkomunikasikan sebuah prakiraan besaran kekuatan gempa. “Worse case scenario” masih harus dikontrol dengan factual data, sebagai “fact boundary”. Fakta-fakta peninggalan ini harus dicari dari peninggalan, sejarah, serta jejak-jejak tsunami masa lampau.

Dalam distribusi data nantinya akan diketahu berapa maksimum, beratap retata (P50, dan Mean). Nah yang dikomunikasikan dalam tataran ilmiah mestinya membicarakan P50 (probability 50%), kemungkinan terjadinya 50%. Mungkin bisa saja P10, tetapi jelas bukan memberikan angka P1 (1% probability).

Model tsunami itu meliputi pemodelan gempanya, data morfologi dasar lautnya dan bagaimana menisme lainnya. Kalau toh terjadi, pasti akan banyak persyaratan yang harus dipenuhi. Pemodelan yang telah dilakukan belum dikontrol dengan data faktual yang pernah menjadi catatan sejarah. Baik catatan sejarah manusia maupun catatan sejarah geologi (tsunamigenic sediment).

Nah perlu kita tanya nanti ke ahlinya, apakah angka 57meter ini angka maksimum P1 atau P50 ?

Nah kalau ke masyarakat, sebaiknya diberitahukan saja most probable (P50), tentunya setelah dilakukan realisasi dengan Fact Recorded Data (Data Geologi/Stratigrafi Quarternary) atau Paleo Tsunamigenic sediment.

Fact boundary ini harus diakui masih merupakan “PeeR”-nya ahli geologi di Indonesia, khususnya Qartenary Geology. Analogi mudahnya. kenapa Quartenary, karena kondisi bumi ini selama jaman Quater sudah jauh berbeda dengan jaman-jaman sebelumnya. Ingat saja tulisan tentang sedimen pencatat tsunami ini dimasa lalu

Tentunya data-data gempa saat ini, harus dipakai. Misal gempa Aceh yang faktanya bisa tercatata hingga 9 M. Nah apakah gempa 9 M tercatata juga di Selatan Jawa (Sunda) ?

😀 “Thole, Kamu punya paper/artikel hasil riset Paleo Tsunami di Selatan ? Lama ngga mengikuti riset ini eh 😀

🙁 “Iyadeh Pakde, saya emang malas membaca paper. Tapi aku rajin baca WA kok”

Mungkinkah tsunaminya lebih rendah ?

Nah ini mungkin perlu dilakukan juga penelitian atau penjelasan untuk “menenangkan” masyarakat. Namun masih dalam koridor ilmiah.

Misalnya yang pernah disinggung oleh Danny H, ahli kegempaan, sebagai adanya “Slow Earthquake”, Pelepasan tenaga sebesar 9 Magnitude, dengan slipnya sebesar 20 meter, tapi bergerak dalam waktu 2 jam atau lebih. Sehingga tidak menyebakan “kejutan” seperti layaknya gempa yang slipnya bergerak dalam waktu sekian menit atau sekian detik saja. Kalau memang memungkinkan terjadi “slow earthquake”, maka akan memungkinkan terjadinya pelepasan potensi seismic gempa dengan kekuatan 9 ini ini tidak menyebabkan tsunami sebesar yang ditakutkan.

Jadi perlu penelitian lebih lanjut dan juga penjelasan lebih membumi tidak dengan bahasa dewa di langit.

🙁 “Ntar dulu Pakdhe. Slow Earthquake itu apa dan bagaimana ceritanya ?”

😀 “Besok didongengkan lagi. Yang penting jangan panik dulu”

Salam Waspada

“Mengawali pagi dengan berita menyenangkan dan optimis akan lebih baik untuk penambah semangat”

2 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here