Meramal Letusan Gunung Api

0
Kenampakan letusan G. Etna pada tahun 2015 lalu (sumber : daily mail)

Susahnya meramal letusan

Letusan Gunung api kerap kali terjadi secara tiba – tiba. Gunung Sinabung, misalnya. Siapa yang mengira gunung api yang telah beristirahat 1600 tahun lamanya kembali aktif dan begitu agresif. Ataupun, Gunung Agung yang jauh hari sudah memberi tanda-tanda tapi tak jua kunjung erupsi hingga berselang 2 bulan lamanya.

🙁 kok bisa beda – beda bulek? kan sama – sama gunungapi gitu

Meramal letusan gunung api menjadi begitu kompleks. Sebab, setiap gunung memiliki kondisi bawah permukaan yang berbeda. Begitu pula dengan aktivitas dan sifat magma yang terkandung di dalamnya. Meski begitu, meramal letusan memiliki peranan yang begitu penting dalam mengurangi dampak kerugian yang ditimbulkan saat erupsi. Maka, para ahli vulkanologi dengan berbagai penelitian dan teknologi terus berupaya mengembangkan pendekatan untuk mengetahuinya secara presisi.

Tanda – tanda letusan

Tanda – tanda yang terjadi sebelum letusan :

  • aktivitas seismik dari getaran yang ditimbulkan oleh pergerakan dan pengisian magma yang dapat memicu letusan.
  • hembusan SO2 dan CO2 yang dapat dipantau oleh satelit
  • Deformasi yang terjadi pada permukaan

Prediksi juga dapat dilakukan dengan mempelajari pola letusan melalui sejarah erupsi yang terekam dalam karakteristik material vulkanik yang dihasilkan. Meski tidak dapat memberikan jawaban waktu secara pasti.

🙁 Walah kalau berubah – ubah prediksinya, bikin warga pada kecelik yaa bulek

Memang bukan pekerjaan yang mudah untuk mengetahui secara pasti terjadinya letusan. Jalur magma yang begitu rumit dan khas pada setiap gunung menjadikannya sangat sulit untuk mengetahui kapan magma akan menemukan jalan keluarnya, meski tanda-tanda aktivitas vulkanik sudah terdeteksi.

🙂 Nah iyaa, makanya kita butuh prediksi yang lebih presisi waktunya. Seperti yang dilakukan Bude Ubide dan Pakdhe Kamber inii

Temuan Terbaru : Kristal peramal

Beberapa bulan lalu, Dr Teresa Ubide dari University of Queensland, dan Profesor Balz Kamber dari Trinity College Dublin merilis hasil temuannya terkait dengan kristal klino-piroksen yang dapat merekam perubahan kondisi magma di sekitarnya. Rekaman tersebut, layaknya sebuah cincin pohon yang merekam perubahan musim kemarau dan penghujan, dapat mencatat proses yang terjadi sejak kristal terbentuk pertama kali, ribuan tahun silam,  hingga tumbuh kembangnya di bawah permukaan bumi. Sebelum nantinya muncul ke permukaan.

Memprediksi Pola Letusan G. Etna

Penelitian ini dilakukan di Gunung Etna. Gunung api yang berlokasi di Sisilia, Itali ini, merupakan salah satu yang paling aktif di dunia dan menyimpan berbagai tragedi bencana letusan yang dahsyat. Penelitian dilakukan selama 40 tahun (1974 – 2014) dengan mengumpulkan sampel kristal klino-piroksen pada lava yang kemudian dikenal dengan sebutan Antecrysts. Dari penelitian ini, para ahli dapat mengetahui berapa lama pergerakan magma saat meninggalkan dapur magma hingga kemudian muncul di permukaan.

Pengkayaan Kromium

Pada fase awal magma, kristal klino-piroksen akan mengalami pengkayaan Kromium (Cr). Maka pada fase awal erupsi (1974), letusan G. Etna menghasilkan kristal yang menunjukkan Cr-rich yang melimpah hingga 93% dari keseluruhan produk letusan. Pada letusan tahun 2001 dan 2002-2003 cincin Cr yang terbentuk lebih tebal dari yang terbentuk pada letusan 1974. Hal ini mengindikasikan bahwa magma telah mengalami pengisian ulang (injeksi) oleh magma yang lebih mature.

Capsule timescale

Secara umum, ketebalan cincin Cr-rich  dapat mengindikasikan lamanya fase intrusi magma hingga mobilisasi. Sedangkan ketebalan cincin Cr-poor dapat mengindikasikan lamanya fase bergeraknya magma menuju ke permukaan (kiri). Dengan mengombinasikan data ini menggunakan peristiwa seismik yang terekam, rekonstruksi aktivitas vulkanik dapat dipaparkan secara lebih presisi (kanan). Pada letu san G. Etna tahun 1974, menunjukkan bahwa magma membutuhkan waktu 12 hari untuk mencapai permukaan sejak terekamnya aktivitas seismik yang intens untuk pertama kalinya.

Dengan penelitian ini bukan tidak mungkin kita seolah bisa menyayat perut bumi untuk mengetahui proses dan perjalanan magma untuk mencapai permukaan. Sehingga kita dapat meramal kapan munculnya magma dengan kedetailan hingga hitungan hari, seperti halnya yang dilakukan pada G. Etna.

Berdasarkan pada berbagai data yang direkam selama penelitian berlangsung, dihasilkan sebuah pola letusan G. Etna selama 40 tahun terakhir (kiri) dan skema interpretasi dari proses munculnya magma (kanan). Pada fase pertama, setelah magma dari mantel bergerak ke atas, pada kedalaman 20 km magma akan mengalami kristalisasi sebagian sehingga terjadi perubahan densitas yang mentenagai magma untuk terus bergerak mendekati permukaan. Hingga pada kedalaman 10 km, magma akan membentuk kristal Cr-rich (zona 2 / kuning) dan semakin mendekati permukaan akan terbentuk pula kristal Cr-poor (zona 3/ biru).

 🙂 Temuan ini menjadi langkah besar dalam perkembangan penelitian kegunungapian. Harapannya, dikemudian hari setiap gunung api memiliki rekam jejak seperti yang dilakukan pada G. Etna

🙁 Besok meramal kapan terjadinya letusan bisa jadi akan semudah meramal kapan turunnya hujan ya bulek

🙂 Coba baca lagi link di bawah ini ya thole, biar kita makin paham tingkah laku gunung api

Dinamika Gunungapi di Cincin Api

Penelitian Bude Ubide dan Pakdhe Kamber bisa diakses melalui

https://www.nature.com/articles/s41467-017-02274-w

 

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here