Bagaimana Letusan Vulkanik Akan Berdampak Pada Lapisan Ozon Bumi?

0

Seperti yang kita ketahui bahwa letusan gunung berapi dapat memberikan dampak negatif berupa kerusakan lingkungan sekitar. Namun, belum banyak yang mengetahui fakta bahwa letusan gunung berapi juga dapat mengakibatkan lapisan ozon bumi menipis. Perubahan ozon setelah letusan gunung berapi bergantung pada jumlah klorin di stratosfer, yang saat ini masih meningkat akibat dari pelepasan chlorofluorocarbons (CFC) oleh ulah manusia.

Gas dalam jumlah besar dapat diangkut ke stratosfer di dalam kolom letusan yang dihasilkan dari letusan gunung berapi yang eksplosif. Sebuah studi baru oleh para ilmuwan dari Harvard University dan University of Maryland, College Park (UMD) meneliti bagaimana gas dari letusan eksplosif yang besar akan berinteraksi dengan lapisan ozon dalam keadaan iklim di masa depan. (Sumber gambar: NASA)

Letusan besar gunung berapi pada masa yang akan datang bisa memulai reaksi kimia yang akan merusak lapisan ozon yang sudah terkontaminasi di planet ini. Tingkat kerusakan lapisan ozon yang diakibatkan oleh ledakan besar dan eksplosif bergantung pada kimia atmosfir yang kompleks, termasuk tingkat emisi buatan manusia di atmosfer. Dengan menggunakan pemodelan kimia yang canggih, para peneliti dari Universitas Harvard dan University of Maryland mengeksplorasi apa yang akan terjadi pada lapisan ozon sebagai respon terhadap letusan gunung berapi berskala besar selama sisa abad ini dan dalam beberapa skenario emisi gas rumah kaca yang berbeda. Penelitian ini dipublikasikan baru-baru ini di Geophysical Research Letters.

Stratosfer bumi masih pulih dari pelepasan chlorofluorocarbons (CFC) dan bahan kimia perusak ozon lainnya. Meskipun CFC dihapus oleh Protokol Montreal 30 tahun yang lalu, kadar molekul yang mengandung klorin di atmosfer masih meningkat. Letusan gunung berapi eksplosif yang menyuntikkan sulfur dioksida dalam jumlah besar ke dalam stratosfer memudahkan konversi kimiawi klorin menjadi bentuk yang lebih reaktif yang menghancurkan ozon.

Peneliti telah lama mengetahui bahwa ketika konsentrasi klorin dari CFC yang dihasilkan manusia tinggi, penipisan ozon akan terjadi setelah adanya letusan gunung berapi. Bila kadar klorin dari CFC rendah, letusan gunung berapi sebenarnya dapat meningkatkan ketebalan lapisan ozon. Tetapi transisi dari letusan yang menyebabkan ozon menipis menjadi letusan yang meningkatkan ketebalan lapisan ozon tidak diketahui secara pasti. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa rentang transisi tersebut antara tahun 2015 sampai 2040. Namun, peneliti Harvard menemukan bahwa letusan gunung berapi dapat menyebabkan penipisan ozon sampai tahun 2070 atau lebih, meskipun terdapat penurunan konsentrasi CFC buatan manusia.

🙁 Lhoh, kok bisa bulek?

Hal tersebut berdasarkan dari hasil model penelitian yang menunjukkan bahwa kerentanan kolom ozon terhadap letusan gunung berapi yang besar kemungkinan akan berlanjut sampai abad ke-21, lebih tinggi dari perkiraan sebelumnya. Karena perkiraan sebelumnya tidak mempertimbangkan sumber alami tertentu dari gas halogen, seperti bromokarbon berumur pendek yang berasal dari plankton laut dan mikroalga.

Letusan gunung berapi dapat menyebabkan penipisan ozon sampai tahun 2070 atau lebih, meskipun terdapat penurunan konsentrasi CFC buatan manusia (Sumber : © malexeum / Fotolia)

Sumber alami bromin ini menjadi sangat penting di stratosfer bawah setelah konsentrasi CFC yang dipancarkan manusia telah menurun. Peneliti menemukan bahwa konsentrasi bromin dari senyawa organik alami dan sangat pendek ini sangatlah penting

Para peneliti kemudian mengeksplorasi bagaimana peristiwa vulkanik seukuran letusan Gunung Pinatubo, yang menghasilkan sekitar 20 juta metrik ton sulfur dioksida ke stratosfer pada tahun 1991, akan berdampak pada lapisan ozon pada tahun 2100. Tim tersebut memodelkan empat skenario emisi gas rumah kaca yang berbeda, mulai dari yang sangat optimis dengan apa yang biasa dianggap skenario terburuk.

Tim menemukan bahwa proyeksi paling optimis terhadap konsentrasi gas rumah kaca di masa depan menghasilkan penipisan ozon paling banyak dari letusan gunung berapi. Sebaliknya, dalam skenario pesimis di mana emisi gas rumah kaca terus meningkat dengan cepat sepanjang abad ke-21, letusan Gunung Pinatubo sebenarnya akan menyebabkan sedikit peningkatan ozon. Para peneliti menemukan bahwa suhu stratosfer yang lebih dingin dan tingkat metana yang lebih tinggi dalam skenario ini akan mengurangi reaksi kimia perusak ozon yang penting.

Tapi, ada yang menggelitik nih. Semua skenario di atas berasumsi bahwa letusan gunung berapi hanya akan menyuntikkan belerang ke stratosfer, seperti letusan Gunung Pinatubo tahun 1991 di Filipina. Jika letusan itu juga menyuntikkan bahan kimia yang mengandung halogen seperti hidrogen klorida (HCl) ke stratosfer, hasilnya bisa sangat mengerikan.

🙁 Tapi letusan besar seperti itu kan jarang sekali terjadi bulek?
😊 Benar Thole. Letusan ini adalah peristiwa yang sangat tidak biasa namun kemungkinannya ada, sebagaimana dibuktikan dalam catatan sejarah. Jadi tidak ada salahnya untuk dipelajari dan dilakukan penelitian.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here