Diatom: “Mikrofosil” Kunci Longsoran Bawah Laut Pemicu Tsunami

0
Data refleksi seismik longsor bawah laut Cap Blanc (Sumber gambar: Morelia Urlaub, dkk. 2017)
Diatom (Sumber gambar: D. P. Lyle, 2016)
Tanah longsor terbesar di planet Bumi ini tidak terjadi di daratan loh, tapi di dasar laut. Longsoran raksasa ini bisa menggerakkan ribuan kilometer kubik material dan terkadang menyebabkan tsunami. Namun, yang mengejutkan, longsoran ini terjadi di lereng yang hampir rata, dengan kecenderungan kurang dari tiga derajat.
🙁 “Wah bulek, bagaimana mungkin bisa meluncur di lereng yang begitu datar?
😊 “Nah, ini dia thole si biang keladinya >>> DIATOM!!”
Morelia Urlaub dari Pusat Penelitian Kelautan Geomar Helmholtz (Jerman) dan rekan-rekannya mungkin telah menemukan jawaban atas pertanyaan di atas, yaitu: lapisan mikrofosil silika dari alga uniseluler yang disebut diatom.
Studi Urlaub, dkk. (dipublikasikan secara online sebelum dicetak untuk Geologi Society of America’s journal Geology) adalah yang pertama mengidentifikasi lapisan lemah yang bertanggung jawab atas submarine mega-slide (longsor raksasa bawah laut). Meskipun sifat lapisan kritis yang lemah ini telah banyak diperdebatkan, namun mempelajarinya hampir tidak mungkin karena secara umum bekasnya dihancurkan bersamaan dengan kejadian longsoran.
🙁 “Kalau bekasnya sudah hancur, lalu bagaimana cara menelitinya bulek?”
Urlaub mengumpulkan data pengeboran laut sejak tahun 1980an ketika dia menyadari bahwa sebagian besar datanya adalah sampel dasar laut di tepi tanah longsor Cap Blanc, sebuah “mega-slide” berusia 149.000 tahun di lepas pantai barat laut Afrika. Dia mengkorelasikan data ini dengan data refleksi seismik resolusi tinggi yang tercatat di area yang sama di tahun 2009. Dari data ini menunjukkan adanya lapisan yang kaya akan diatom, setebal sepuluh meter, yang dilacak langsung dari inti ke dasar lapisan geser di kompleks longsoran besar ini.
Data refleksi seismik longsor bawah laut Cap Blanc (Sumber gambar: Morelia Urlaub, dkk. 2017)
Selain itu, setiap lapisan diatomi memiliki lapisan sedimen yang kaya akan tanah liat di atasnya. Kehadiran tanah liat ini adalah kunci yang mengarahkan peneliti menuju solusi untuk masalah ini. Lapisan diatomnya sangat kompresibel dan kaya akan air, karena adanya tekanan, air akan “diperas” dari lapisan diatom ke tanah liat. Pada akhirnya, tanah liat atau antarmuka antara tanah liat dan diatom runtuh, yang menyebabkan sedimen di atas meluncur meski lerengnya sangat kecil.
Seperlima dari semua tsunami mungkin berasal dari mega-slide bawah laut
Di tanah longsor Cap Blanc, dasar laut memiliki kemiringan hanya 2,8 derajat. Namun, ketika lepas, tanah longsor tersebut bergerak lebih dari 30 kilometer kubik material (setara dengan 30.000 kali volume interior stadion Santiago Bernabéu) dan diperpanjang setidaknya 35 kilometer. Mega-slide bawah laut lainnya pada 8.500 tahun yang lalu di lepas pantai Norwegia menggerakkan 3.000 kilometer kubik yang mengejutkan, menyebabkan tsunami yang mengerikan. Dan beberapa ilmuwan berspekulasi bahwa tsunami Tohoku (Jepang) 2011, yang menyebabkan bencana Fukushima, mungkin telah diperkuat oleh mega-slide bawah laut ini.
Meskipun slide/longsoran semacam itu tidak terlalu sering terjadi, ukurannya membuat mereka cukup signifikan. Dipercaya bahwa seperlima dari semua tsunami mungkin disebabkan oleh mega-slide bawah laut. Jika lapisan diatom merupakan faktor utama, maka pemahaman di mana kondisi paleoclimate yang mungkin mendukung pertumbuhan diatom dapat membantu mengungkap potensi lokasi mega-slide.
🙁 “Menarik sekali bulek, jadi pengen tahu detailnya seperti apa.”
😊 “Tunggu saja publikasi versi full papernya Thole. Ini bulek juga nulis ulang dari tulisan pakdhe Siwo (Prakosa Rachwibowo), jadi kalau Thole mau tanya-tanya bisa tanya ke beliau juga.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here