Degradasi Kualitas Air – Jakarta Terancam Kehabisan “AIR BERSIH”

0
Kualitas Air Sungai setiap Provinsi di Indonesia (Sumber: Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012)

Pencemaran air tanah dangkal hampir terjadi di semua kota besar di Pulau Jawa. Di Jakarta, 45% air tanah terkontaminasi oleh tinja dan 80% oleh Escherichia coli. Sumber utama pencemaran air tanah adalah kontaminasi tangki septik, pembuangan air limbah rumah tangga, lindi dari tempat pembuangan akhir, dan kontaminasi limbah industri. Bahkan, Jakarta merupakan kota ke 5 di dunia yang terancam kehabisan air bersih.

🙁 “Waduuuh kok bisa bulek?”

Di Jakarta, PAM hanya mampu menghasilkan 17.100 liter air per detik, dari kebutuhan air bersih yang mencapai 26.100 liter per detik. Dengan jumlah penduduk yang tinggal di Jakarta mencapai sekitar 10 juta orang, konsumsi air bersih yang dibutuhkan mencapai 100 liter/hari/orang. Akses air bersih hanya 73,23 % dengan cakupan pelayanan 60 %. Dari keseluruhan total air bersih, sumber air baku yang berasal dari sungai Jakarta hanya 5,7 % (Sungai Cengkareng Drain 1,7% dan Kali Krukut 4%). Sementara dari luar kota sebesar 94,3% (dari Waduk Jatiluhur 62,5%, membeli dari PDAM Tangerang 31,8%).

“Sudah jatuh tertimpa tangga”

Mungkin ini peribahasa yang tepat untuk Jakarta. Selain adanya degradasi kualitas air, salah satu problemnya adalah ancaman kenaikan permukaan air laut. Kelangkaan air bersih di Jakarta juga diperparah oleh ulah manusia. Praktik penggalian sumur secara illegal telah menguras air tanah. Bank Dunia juga menyebutkan bahwa 40% wilayah Jakarta sekarang berada di bawah air laut. Kondisi ini juga semakin buruk karena akuifer di bawah tanah tidak terisi kembali akibat lahan kosong telah ditanami bangunan, penuh struktur beton dan aspal.

Sebanyak 13 sungai yang ada di Jakarta, hanya dua sungai yang dapat digunakan sebagai air baku, yaitu Kali Krukut dan Sungai Cengkareng Drain. Itupun dalam kondisi kualitas yang semakin lama semakin berkurang. PENUH POLUTAN. Kadar amonia yang tinggi, tercemar deterjen, mangan, dan limbah rumah tangga, membuat kualitas air sungai menjadi jelek.

Kualitas Air

Kualitas air dapat dibagi menjadi empat kelas, yaitu:

  1. Kelas I, air yang bisa digunakan sebagai air baku untuk keperluan minum.
  2. Kelas II, air yang bisa digunakan untuk rekreasi air, pelestarian ikan segar, ternak, air untuk irigasi, dan penggunaan lain yang membutuhkan kualitas yang sama.
  3. Kelas III, air yang dapat digunakan sebagai alat / fasilitas pelestarian ikan segar, ternak, air untuk irigasi, dan / atau penggunaan lain yang membutuhkan kualitas yang sama dengan keuntungan.
  4. Kelas IV, air yang bisa digunakan untuk irigasi, dan penggunaan lain yang membutuhkan kualitas serupa.
🙁 “Lalu bagaimana dengan kualitas air sungai dan danau di Indonesia bulek?”
😊 “Hadduuuh, kualitasnya buruk Thole. Dalam dekade terakhir, kualitas air telah menunjukkan penurunan yang stabil. Meskipun beberapa laporan mungkin menunjukkan stabilisasi atau bahkan perbaikan kecil pada lokasi tertentu.”

 

Status sungai dan danau

Kualitas air sungai dan danau di Indonesia itu….. BURUK! Hasil pemantauan menunjukkan bahwa lebih dari 50% parameter, seperti kebutuhan oksigen (baik secara biologi maupun kimiawi),  tidak memenuhi standar yang ditetapkan untuk kualitas air Kelas I. Lebih dari separuh sampel air sungai tidak memenuhi kriteria Kelas II. Gambaran umumnya, dari 44 sungai besar di seluruh Indonesia menunjukkan bahwa hanya empat yang memenuhi standar Kelas II sepanjang tahun.

Status Kualitas Air Sungai di Pulau Jawa (Sumber: Kementrian Lingkungan Hidup Republik Indonesia. Status Lingkungan Hidup Indonesia 2012)

Sebagian besar air sungai di Jawa sudah berada di Kelas III atau bahkan status Kelas IV. Hilir Sungai Ciliwung (wilayah Jakarta) sebagai contohnya, air sungainya telah jauh melampaui standar Kelas IV. Itu merupakan kombinasi limbah domestik yang tidak diolah, pembuangan limbah padat, dan limbah industri yang menyebabkan krisis kesehatan masyarakat.

🙁 “Lalu apakah ada dampak ekonomi dari degradasi kualitas air ini bulek?”
😊 “Tentu saja ada Thole, dampak negatifnya terutama adalah pada kesehatan, pariwisata, rekreasi, keanekaragaman hayati, perikanan, pertanian, produksi air minum, biaya real estat di dekat daerah perairan permukaan, dll.”
🙁 “Waduuuuh, ngeri sekali yaa bulek
😊 “Iyaa Thole, makanya perlu perhatian khusus untuk pengelolaan air di Jakarta ini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here