Normalisasi atau Naturalisasi Sungai

0

Beberapa hari belakangan ini warga Jakarta dibuat bingung, lagi – lagi seputar persoalan banjir. Tapi polemik kali ini bisa dibilang unik, karena perdebatan yang muncul ialah persoalan perbedaan makna dari dua buah kata: “Normalisasi atau Naturalisasi”

🙁 Bagus dong pakdhe, netizen jaman now mulai aware dengan sastra dan penggunaan tata bahasa

😀  Laah iya, tapi bukan cuma soal sastra atau pemilihan diksi bahasa thole, dua kata yang serupa ini bisa menimbulkan dampak yang jauh berbeda.

Perbedaan makna normalisasi dan naturalisasi barangkali cukup terepresentasikan dengan dua perbandingan gambar di atas, di mana normalisasi merupakan upaya rekayasa sipil untuk mengoptimalkan pemanfaat sungai sesuai dengan fungsinya. Dengan tujuan yang sama, naturalisasi memiliki pendekatan yang berbeda di mana fungsi sungai dikembalikan secara keseluruhan beserta dengan penyesuaian kondisi ekosistemnya. Pokok inti perbedaanya terletak pada pemanfaatan lahan flood plain. Pada konsep normalisasi, flood plain akan dibuat tanggul vertikal yang memisahkan fungsi sungai dengan pemukiman. Sedangkan pada konsep naturalisasi, flood plain akan dimanfaatkan sebagai lahan hijau sebagaimana kodratnya ekosistem sungai.

🙁 Jadi kita pilih yang mana nih Pakdhe, normalisasi atau naturalisasi?

😀 Kita coba amati pola yang terjadi di daerah lain ya thole, contohnya di area sepanjang Sungai Bengawan Solo yang jauh lebih dulu telah mengalami modifikasi.

Belajar dari Sungai Bengawan Solo

bengawansolo1.jpg
Bengawan Solo

Skalian untuk mengklarifikasi bahwa bukan soal salah-bener untuk memanfaatkan Flood Plain, tetapi bagaimana menyiasati perilaku alam ini mestinya juga diketahui sebelum memanfaatkan dengan tepat. Dibawah ini juga ada komentar Mas Watonmuni yang menarik.

Komentar:
Ok pakde, daerah-daerah itu memang floodplain. Tapi tetap harus ada solusi dong pakde biar warga-warga disitu ndak kebanjiran. Apa kita hanya diam, biarin lah…disitu kan floodplain, ndak bisa diapa-apain. Atau malah nyalahin orang-orang. Salahe nggawe omah neng floodplain…Wis wong susah malah disalahke ki py.
Menurutku, solusi membuat dam atau storage area sangat masuk akal pakde. Tiap 2 atau 3 kabupaten bikin 1 storage area. Gimana menurut pakde? Feasibilitynya masuk ndak kalau bikin proyek kayak gitu?

Sebenarnya manusia ini diberi karunia otak untuk melakukan rekayasa (tapi bukan rekapaksa) untuk mampu hidup di alam yang bisa dibilang jinak-jinak singa ini. Bisa lutju waktu masih kecil, bisa galak kalau lagi marah.

Dibawah ini ada beberapa rekayasa sungai di Jawa yang sukses dan yang sedang dicoba kekuatannya. Kenyataan memang masih ada saja gagalnya, tetapi kalau dilihat keberhasilannya juga patut diacungi empat jempol !!!!

Floodplain – Dataran yang penuh karunia

sungai.jpgMemang tidak salah manusia memanfaatkan floodplain. Karena pada kenyataannya floodplain itu daerah yang subur karena tempat ini sering diberi pupuk hara secara alami. Hanya saja proses pemupukannya ini dengan mekanisme yang disebut banjir. Banjir bukan bencana kalau dari sisi “penyuburan” dengan distribusi unsur hara ini. Tetapi manusia ini seringkali tidak adil dalam menilai fenomena alam, ketika airnya dirasakan terlalu berlimpah dan menganggu, barulah manusia menyebutnya bencana. Seperti hujan sering dimaknai karunia, tapi kalau kebanyakan jadi dimaknai badai yang berarti bencana juga kan ?

Sejak jaman dahulu kehidupan manusia selalu berdekatan dengan air, salah satunya berada pada sepanjang sungai. Itulah sebabnya secara arkeologis kalau melihat perkembangan kebudayaan manusia tidak pernah terlepas dari “sungai”. Tidak hanya untuk bercocok tanam saja, namun juga untuk kebutuhan tempat tinggal, kebutuhan transportasi dll, semua tersedia di sepanjang sungai.

Yang lebih paling mudah sebenarnya adalah lebih mengenali seluruh produk alami ini dan menggunakannya sesuai dengan proses-proses alamiahnya. Misalnya menggunakan dataran banjir untuk persawahan, menggunakan sungai untuk sumber air dan transportasi, juga memanfaatkan lereng gunung utk tempat wisata dengan membangun villa dll. Namun ketika jumlah manusia meningkat maka diperlukan usaha tambahan manusia, untuk tidak hanya menggunakan atau mengeksploitasi alam secara berlebihan dan meninggalkannya, selanjutnya mencari yang lain lagi.

🙁 “Wah Pakdhe, sungai itu dibiarkan seperti apa adanya saja sudah bermanfaat ya Pakdhe ?”
😀 “Lah hiya, tapi kalau jumlah manusia Indonesia kan juga selalu bertambah, maka fungsi sungai perlu direkayasa, asalkan jangan di rekapaksa 🙁 ”

Konsekuensi menggunakan dataran banjir tentusaja ada tersendiri, misalnya banjir tahunan, lima tahunan dll. Dengan memanfaatkan teknologi manusia mulai merekayasa sungai ini (meluruskan aliran, meninggikan tanggul, mengatur besar kecilnya aliran dan sebagainya).

Perlunya Sedikit Rekayasa

Rekayasa merupakan salah satu usaha manusia untuk memanfaatkan alam ini dengan lebih baik, lebih efisien serta tidak membahayakan eksistensi atau kehidupannya (less-disaster). Alam ini apa adanya saja juga sudah baik, tetapi manusia fitrahnya selalu punya keinginan untuk menuju ke yang lebih baik. Maka diperlukanlah usaha dalam bentuk rekayasa (engineering). Salah satunya dalam memanfaatkan sungai ini adalah merekayasa alirannya.

Jangan dikira bahwa rekayasa sungai dan produk-produk alami itu monopoli jaman sekarang looh. Jaman dahulu di Mesir koeno juga sudah ada pemanfaatan dan mengubah aliran Sungai Nil. Juga pemanfataan dan mofikasi Sungai Gangga di India.

Bengawan Solo yang dimodifikasi

Kalau modif motor mungkin semua sudah tahu, tetapi kalau modifikasi bengawan solo … hmm menarik juga kan ? Benar looh Sungai besar atau lebih dikenal dengan Bengawan Solo ini sudah mengalami modifikasi besar-besaran. Hampir seluruh bagian dari Bengawan Solo ini sudah mengalami modifikasi. Bagian hulu, aliran dan hilir sungai ini sudah dimodif habiss.

Modifikasi Bengawan Wonogiri Solo secara alami

bengawanpurba.jpg
Modifikasi alamiah pembalikan arah aliran Sungai Solo

Tahu ngga kalau Bengawan solo ini sejak awalnya sudah dimodifikasi oleh alam ? Ya, modifikasi alamiah ini bukan sembarangan, yang dimodifikasi adalah arah alirannya. Dahulu aliran sungai Bengawan Solo ini keselatan dan sekarang mengalir ke utara. Perubahan aliran sungai bengawan solo ini diperkirakan terjadi sekitar 2 atau paling tidak sejuta tahun lalu. Coba tengok gambar sebelah yang menujukkan sungai purba Bengawan Solo yang sudah menjadi sebuah lembah yang berkelok-kelok. Klick Gambar sebelah kiri !

Bagaimana bisa berbalik arah aliran ini ?

terangkat1.jpg Sebelumnya arah aliran sungai Bengawan Wonogiri Solo ini mengalir ke arah selatan. Sungai ini bermuara di Samodra Hindia Indonesia. Proses tektonik tentunya sejak dulu juga ada. Lempeng Ustrali di sebelah kanan (selatan) ini menabrak dan menghunjam ke bawah Pulau Jawa.

terangkat2.jpgKarena adanya kerak Ustrali menghunjam kebawah tentunya bagian pinggir (bag selatan) Pulau Jawa ini akan terangkat terus menerus kan ? Sehingga lama kelamaan aliran air permukaan yg melalui sungai akan terganggu.
terangkat3.jpg Sampai akhirnya ketika pengangkatannya sudah cukup tinggi, maka airpun tidk dapat mengalir ke arah selatan, dan “berbalik” ke utara. Saat ini kita hanya dapat mengamati adanya endapan-endapan sungai Bengawan Wonogiri Solo purba.

Pengangkatan ini masih terus berlangsung hingga saat ini. Pengangkatan ini terjadi bersamaan pula dengan proses terjadinya gempa.

🙁 “Wah dari mendongeng aliran sungai kok bisa menyambung ke gempa juga ya Pakdhe”
😀 “Proses alam itu tidak ada yang berdiri sendiri thole, semua proses alam itu saling terkait. Mengenali alam jangan sepotong-sepotong, Thole”

Modifikasi sungai Bengawan Solo ini juga dilakukan oleh manusia mulai darihulu hingga hilir.

Bendungan Gajah Mungkur

waduk_gajahmungkur.gifWaduk Gajah Mungkur berada 3 KM di sebelah selatan Kota kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Bendungan atau waduk ini dibangun mulai tahun 1970-an dan mulai beroperasi pada tahun 1978. Waduk dengan wilayah luas genangan kurang lebih 8800 ha. Beberapa fungsi dari waduk ini antara lain : untuk mengairi sawah seluas 24 000 ha di daerah Sukoharjo, Klaten, Karanganyar hingga ke Sragen. Selain itu juga untuk memasok air minum Kota Wonogiri. Fungsi lainnya adlah menghasilkan listrik dari PLTA yang awalnya di design untuk sebesar 12,4 MegaWatt.

Waduk yang didesign berusia 100 tahun ini ternyata mengalamipendangkalan yang sangat cepat. Sehingga usia waduk ini menjadi lebih pendek dari yang diperkirakan sebelumnya. Pendangkalan ini sangat mungkin merupakan akibat dari kesalahan dari pemeliharaan. Ketika sebuah waduk dibuat, maka tentusaja akses ke jalan-jalan disini semakin berkembang.

Solo Baru dengan aliran sungai yang lurus !

bengawansolo2.jpg
Modifikasi manusia

Manusia memang banyak membutuhkan karunia dari alam, namun manusia masih selalu ingin lebih dari sekedar yang disediakan alam. Bukan karena nafsu saja, namun karena keterbatasan penyediaan alam karena jumlah manusia yang bertambah. Salah satunya adalah pemanfatan dataran untuk pemukiman, pertanian dan kebutuhan lain (rekreasi dll).

Salah satu modifikasi aliran sungai telah dilakukan pada Sungai Bengawan Solo. Hal ini dilakukan untuk mempermudah mengontrol sungai yang alirannya akan menjadi “sederhana” (lurus). Secara alami diketahui aliran sungai itu akan selalu berkelok-kelok karena terjadinya proses pengendapan. Pengendapan ini memerlukan tempat baru sehingga proses pengendapan akan selalu terjadi ketika aliran sungai menjadi perlahan, salah satunya saat berkelok.

Sungai yang diluruskan ini secara sepintas memang menjadikan alirannya sederhana namun kalau dilihat dari perilaku sungai dan perilaku aliran air, maka kita tahu bahwa yang lurus seperti ini belum tentu lebih mudah dikontrol. Dalam waktu tertentu sangat mungkin aliran lurus ini akan berkembang menjadi aliran alami. Akan terjadi pengendapan-pengendapan juga pada bagian-bagian tertentu dari sungai yang harus dipelihara supaya tidak terjadi pedangkalan. Pendangkalan kanal inilah yang mengurangi kemampuan kanal dalam mengalirkan air.

Delta Pangkah (Delta buatan)

ujungp.jpg Tidak hanya bagian tengah saja Bengawan Solo ini dimodif, bahkan bagian hilir atau bagian ujung sungai inipun sudah direkayasa (dimodifikasi). Delta Pangkah merupakan salah satu hasil modifikasi sungai Bengawan Solo di bagian hilir.

Salah satu tujuan dimodifikasinya bagian hilir dari Bengawan Solo ini adalah untuk mengindari pendangkalan di selat Madura. Coba tengok warna biru muda (turqioise) ini, ini memperlihatkan bagaimana endapan sungai di mulut Bengawan Solo. Endapan ini dibawa oleh aliran Bengawan Solo dari ujung hingga hilir. Delta buatan yang merupakan hasil rekayasa yang berada di sebelah utara kota Gresik. Kali ini saya tampilkan delta yang ada dengan lebih detil lagi. Kita sebut saja Delta Pangkah.

Apa saja yang dapat kita pelajari dari gambar disebelah ini ?.

Warna biru muda (turquoise) menunjukkan pola penyebaran sedimen yg diangkut oleh aliran air laut yg melalui Selat Madura. Batuan yg keluar dari lubang semburan di Porong ini juga sama secara genetika (pembentukannya). Jadi warna biru muda (turquoise) itu adalah endapan-endapan halus berukuran lempung yg menyebar dan terendapkan didasar-dasar laut. Kalau saja endapan ini selain dari anak-anak sungai dan merupakan sebagian besar berasal dari ujung sungai Bengawan Solo, dimana merupakan daerah erosi sungai, maka tentusaja jumlah endapan yang tertahan oleh Bendungan Gajamungkur bukanlah sedikit. Apalagi ditambah penggundulan hutan yang merusak dan mempercepat erosi, itulah sebabnya usia bendungan Bengawan Solo sangat pendek dari yang diduga sebelumnya.
Perhatikan skala pembanding yang ada. Dimensi dari kanal buatan yg konon dibuat sekitar 100 tahun yang lalu ini memiliki panjang 15 Km.

Sungai Bengawan Solo ini sudah tidak seperti yang dulu. Sungai ini sudah dan akan selalu mengalami perubahan bentuk fungsi serta perilakunya sepanjang jaman. Sehingga perlu dilakukan penelitian khusus mengenai Bengawan Solo Moderen.

Jakarta, Maunya Normalisasi atau Naturalisasi?

Mengikuti bentuk naluriah alam adalah pendekatan yang paling ideal, meski upaya merekayasa sebagai bentuk penyesuaian kemaslahatan hidup manusia memang tak bisa terelakan. Hingga kemudian alam sering dipaksa untuk mengidealkan diri dan menimbulkan berbagai efek samping yang kita sebut bencana.

Tentu saja, idealnya, Jakarta sebaiknya memilih untuk menaturalisasikan ekosistem sungai agar sesuai dengan kegunaannya, sesuai kodratnya. Hanya saja pasti perlu penyesuaian dengan lahan pemukiman yang kini sudah terlebih dulu ada. Solusinya, adalah dengan berkomunikasi kepada masyarakat yang tinggal pada area relokasi, karena amukan masyarakat yaa juga bisa semengerikan dengan amukan alam. Atau tidak ada salahnya, mencoba konsep normalisasi yang sebelumnya telah dikembangkan, asalkan rekayasa tersebut disertai dengan solusi lain terhadap efek samping yang nantinya muncul. Maka, penelitian tentang dinamika sungai perlu terus dilakukan secara temporal, baik efek percepatan sedimentasinya ataupun kontrol debit alirannya dari hulu hingga hilir.

Jadi mau normalisasi atau naturalisasi, keduanya perlu penelitian dan perancangan yang komprehensif dengan mempertimbangkan efek jangka panjangnya. Jangan sampai solusinya malah menambah panjang masalah ibu kota nantinya.

😀 “Hayoo syapa mau meneliti ? ”
🙁 “Maksudte jadi proyek gitu ya Pakdhe ?”
😀 “Hust !!”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here