Kalau Semua Peristiwa Alam Berasal dari Sana, Lantas Apa Gunanya Gempa dan Petir ?

0

Sebagai geologist tentunya kita tahu bahwa Global warming merupakan siklus yg pernah terjadi juga pada masa-masa lampau, bahkan jauuuh sebelum ada manusia.Jadi benarkah manusia itu salah satu penyebab bencana ? Kalau peristiwa di bumi ini semua dari sana lantas apa semua ada gunanya ?

Ah, sebegitu kuatnya kah manusia mampu merubah kejadian siklus alam ini ?  Atau sebegitu rapuhnya alam kita yg katanya ciptaan Yang Maha Sempurna ini ?

Pertanyaan diatas sebenernya berhubungan dengan kalimatmu yg sering juga kita dengar ini “Yg buruk-buruk itu datangnya dari manusia, yg baik-baik itu datangnya dari Allah SWT ?”

Lantas apakah yang diatas tidak mempunyai ‘kontrol‘ thd sesuatu yang kita anggap atau kita rasakan salah ? Yang baik dan buruk itu semestinya datangnya “dari sana” juga kan ?

Ada yg percaya dengan Dewa Syiwa sebagai perusak. Ada yg menggunakan istilah takdir buruk.  Namun keduanya tetap menyatakan bahwa yg saat ini dirasakan burukpun berasal juga dari sana. Kepatuhan dan kepasrahan ini mestinya untuk semua hal yg dianggap baik, maupun dianggap buruk. Yang sering membuat kita ini mudah terpeleset adalah terburu-buru menilai sebuah kejadian sebagai hal yg buruk atau hal yg baik.

Apakah benar Gunung meletus itu buruk, padahal kita juga tahu bahwa tanah gunung-api itu lebih subur utk pertanian ?

Apakah benar longsor itu buruk, padahal hanya dengan mekanisme seperti itulah maka lereng bukit menjadi stabil ?

Yang penting adalah mengetahui kapan dan dimana gunung api itu akan meletus, kapan dan bagaimana longsor akan terjadi, bagaimana banjir itu terjadi, kapan gempa bumi itu akan terjadi sehingga kita mempunyai masa untuk menghindarinya.

Banyak juga kejadian serta fenomena alam yg saat inipun mungkin kita tidak ketahui apa fungsinya (misalnya gempa, petir, banjir, gunung meletus), itulah yg menyebabkan kita sering menganggap sebuah kejadian alam sebagai sebuah petaka.

🙁 “Pakde, emang apa gunanya petir ?”

Ada loh gunanya petir (kilat), ia jadi energi kehidupan yang menyetrum zat-zat kaya hidrogen di atmosfer menjadi zat hidup asam amino saat evolusi kehidupan melalui reaksi kimia mulai terbentuk.

Bagi yang sudah pernah dapat belajaran biologi sewaktu SMA mestinya masih ingat, teori sangat terkenal dari Alexander Oparin (ahli biokimia Rusia) Ilmuwan biokimia Soviet terkenal karena teorinya tentang asal usul kehidupan, dan untuk bukunya The Origin of Life. Juga Haldane (ahli biologi Inggris) yang bekerja secara terpisah tahun 1920an. Menurut mereka atmosfer saat itu kaya hidrogen, semua senyawanya (amonia, formaldehide, metan, asam syanida) dengan bantuan energi kilat dan petir akan berubah menjadi asam amino – satuan kehidupan terkecil.

Dan kita tahu bahwa teori diatas pernah dibuktikan kebenarannya melalui serangkaian eksperimen oleh Stanley Miller dan Harold Urey, Tahun 1953. Miller dan Urey memborbardir campuran senyawa metan, amoniak, air, dan hidrogen dengan listrik bertegangan tinggi (mensimulasi kilat/petir). Seminggu kemudian, terbentuklah asam amino dan senyawa sederhana biokimia lainnya- unit kehidupan terkecil.

Eksperiment Miller-Urey tentang asal unsur kehidupan.

Dan, kilat/petir lah yang membawa nitrogen di atmosfer ke Bumi yang lalu bereaksi dengan unsur lain menjadi senyawa organik yang diperlukan kehidupan. Kilat/petir adalah agen dalam siklus nitrogen, suatu siklus penting dalam kehidupan di samping siklus karbon.

Tak diragukan lagi, kilat/petir bermanfaat dalam memulai kehidupan.

🙁 “Jadi apa gunanya Gempa, Pakde ?

Jadi sepertinya jelas bahwa sumber petaka adalah “ketidak tahuan” kita tentang fenomena ini. Bukan sekedar menyalahkan trus nuduh ulah si setan, kan ?

“GeoGathuk”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here