Sekelumit Lapangan Gas Arun : Semakin sulit ditemukan atau semakin malas ?

1

Tahun 1971, 46 tahun yang lalu, kita dapat menemukan lapangan gas raksasa (giant field) bernama Arun. Hanya dengan seismic yang masih seperti diatas ini. Saat itu jelas belum ada komputer yang dapat dipakai untuk membantu ahli geologi untuk melakukan interpretasi. Masih menggunakan mata secara manual, masih menggunakan pensil warna dalam interpretasi, dan bahkan masih belum ada teori dan tehnologi pengeboran yang super canggih seperti sekarang.

Lapangan ini merupakan lapangan yang memiliki cadangan no 5 terbesar di dunia yg ditemukan saat itu. Dan hanya memiliki cadangan sebesar 17 TCF gas. Lapangan Arun ini akhirnya menjadi lapangan pertama penghasil LNG di dunia, ya Indonesia berhasil memiliki instalasi pemrosesan gas menjadi LNG hanya dalam waktu 6 tahun kemudian.

Saat ini kita sulit menemukan lagi sebesar itu. Bahkan kita sulit mengembangkan lapangan yang ada isi cadangannya gasnya lebih dari 20 TCF (Abadi Field), dan bahkan tidak mampu berkutik dengan lapangan yang memiliki 40 TCF gas (Natuna D-Alpha). Semestinya bukan sebagai alasan kita mengatakan kasusnya berbeda. Setiap pengembangan lapangan migas akan memiliki tantangannya sendiri-sendiri. Abadi Field berada di laut yang terpisahkan palung dalam, Lapangan Natuna D-Alpha memiliki 70% gas CO2 sebagai pengotor.

Geologi Lapangan Arun

Lapangan Arun ini berada di bagian tengah Cekungan Sumatra Utara yang secara geografis berada di antara Kota Medan dan Pangkalan Brandan. Cekungan Sumatra Utara, dibatasi oleh
Busur Asahan di bagian selatan, dan dibatasi oleh Rangkaian Bukit barisan di sebelah barat. Ke arah timur menyatu dengan Paparan Sunda, sedangkan ke arah utara menerus dan mendalam ke arah Andaman.

Cekungan Cekungan Sumatra Utara terdiri dari beberapa “Dalaman” yaitu Tamiang Deep, Jawa Deep, Paseh Deep, dan beberapa tinggian: Bireun High, Lhok Sukon High, Alur High, Arun High dimana Lapangan Arun berada.

Dua pola konfigurasi batuan dasar (basement), yaitu pola utara-selatan dan pola tenggara-baratlaut (NE-SW) pada saat sekarang tercermin dalam bentuk tinggian (horst) dan rendahan (graben).

Stratigrafi Cekungan Sumatra Utara.

Kolom stratigrafi North Sumatera ini cukup menarik. Sejak dahulu sering berubah. Nah ini kolom stratigrafi jaman baheula.

🙁 “Gambarnya item-putih, kuno banget Pakdhe”
😀 “Disinilah pentingya Thole. Jaman dahulu dapat menemukan dengan pengetahuan yang masih sangat terbatas. Jaman sekarang dengan tehnologi maju kenapa nggak bisa ?”
🙁 “Berarti hambatannya bukan tehnologi ya, Pakde ?

Menjadi fasilitas yang pertama.

Lapangan Arun saat ini sudah menurun produksinya bahkan fasilitas eksport  LNGnya juga sudah berubah menjadi regasifikasi. Ya, karena kita tidak mampu lagi menemukan lapangan-lapangan baru untuk menjadi sumber bahan bagu fasilitas LNG arun.

Tantangan bagi eksplorationist memang selalu ada. Saat ini tertantang tidak hanya menemukan lapangan yang besar cadangannya, namun juga yang berada pada lokasi yang tepat sehingga mudah dikembangkan.

🙁 “Pakdhe, lah kok kayak property, yang penting lokasi, lokasi, dan lokasi
😀 “Bener thole bagaimanapun bukan hanya besar dan kualitas, tapi juga ada dimana?

Lapangan dan Fasilitas LNG Arun ini akhirnya menjadi yang pertama didunia. Dikembangkan dalam waktu yang relatif singkat kurang dari 10 tahun sudah dapat menjadi LNG pertama di dunia. Bandingkan bila saat ini kita mengembangkan lapangan rata-rata memerlukan waktu 15 tahun. Juga fasilitas eksport ini menjadi terminal regasifisikasi yang pertama yang merupakan modifikasi dari fasilitas eksport LNG.

Future and challenge to oil and gas exploration is to improve market forecasting to better determine “where” exploration and production could be viable. (RDP, 2017)

Saat ini banyak oportunity untuk mengejar dan mencari migas di dunia ini. Namun tantangan kedepannya bukan hanya sekedar menemukan namun juga perlu berpikir dimana migas ini akan dimanfaatkan. Apakah masih tetap untuk dibakar sebagai energi, atau dipakai sebagai bahan dasar industri (petrokimia).
Menemukan migas selalu saja dijadikan target utama. Namun lebih tepatnya saat ini adalah harus segera dapat segera dimonetasi, diproduksi dan dijadikan uang. Buat apa menemukan migas walau besar sekali namun ditempat yang sulit dijangkau atau bahkan sulit dijual, terutama gas.
Eksplorasi pada prinsipnya mencari lokasi, lokasi terdapatnya minyak, namun saat ini mengangkut, membawa, dan menyebarkan hasil penemuan migas menjadi penting karena transportasi energi itu sendiri memerlukan biaya dan juga energi. Di Indonesia banyak dijumpai lapangan-lapangan yang hingga saat ini belum dapat dimonetasi karena berada pada daerah yang sulit (remote). Sehingga tidak mudah untuk mengembangkannya secara ekonomis.
🙁 “Belum lagi direcokin kepentingan politis ya Pakde?”
😀 “Wis wis, nanti kebablasan ngomongin yang nggak penting”
Tahukah kamu bahwa 2 tahun sebelum penemuan lapangan ini Pak Prof Koesoemadinata pernah mengatakan di AAPG buletin 1969 ?
“I believe that the greatest oil potential in western Indonesia Tertiary basins is in reservoir beds of the transgressive facies, especially in basinal areas where extensive exploration has not been conducted (e.g., NE Sumatra, …)”  “Outline of the Geologic Occurrence of Oil in Tertiary Basins of West Indonesia” (R.P. Koesoemadinata, AAPG Bulletin, 1969)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here