Infrastuktur Fisik Itu Tidak Hanya Jalan Raya

0

Saat ini Pak Jokowi sedang getol-getolnya membangun infrastruktur, namun sepertinya masih banyak yang mengartikan infrastruktur itu sekedar pembangunan fisik yang terlihat. Infrastruktur memang bisa saja dibagi sebagai Infrastuktur fisik dan non fisik (aturan, regulasi, sistem dll). Namun kita mendongeng saja infrastruktur fisik untuk pembangunan saat ini adalah :

  1. Transportasi
  2. Air
  3. Perumahan
  4. Energi
  5. Komunikasi
  6. [Bahan baku]
🙁 “Iya Pakde, mendongeng saja, jangan yang rumit dan jangan yang bernuansa poilitik. Bikin perut enegh”
Agak sedikit berbeda dengan yang dilakukan pemerintah saat ini, yang sering diungkapkan Pak Basuki, Menteri PUPR, yang mengatakan ada 5 sektor infrastruktur prioritas (energi, transportasi, jalan dan jembatan, air, dan perumahan), dimana 3 diantaranya dilaksanakan oleh Kementerian PUPR. Sehingga wajar bila dari porsi pembiayaan APBN dan APBD (sekitar 41 persen), alokasi terbesar berada di Kementerian PUPR.
🙁 “Pakde, Jalan dan Jembatan itu sejatinya kan transportasi ?”
😀 “Iya itu, aku mikir beda dikit dengan Pak Basuki, ga apapa kan ?, Juga bisa saja kita menambahkan bahan baku sebagai bagian infrastruktur bila dianggap strategis. Supaya bahan tambang untuk tidak di eksport sebagai bahan mentah” 🙂
Masih banyak yang berpikir kalau membangun infrastruktur fisik itu hanya sebuah jalan raya sebagai sarana transportasi. Nggak salah salah sih, tapi kurang lengkap. Kelima infrastruktur diatas itu diperlukan dalam pembangunan saat ini. Sekali lagi untuk saat ini. Bahwa dulu berpikir lain, itu memang tantangan masa lalu berbeda dengan jaman kini dimana dunia sudah berubah, manusia berkembang dan Indonesiapun juga sudah membangun sampai disini.
Dengan demikian mestinya semua yang berhubungan kelima hal diatas dipikirkan BUKAN lagi untuk meningkatkan pendapatan negara. Berpikir menambah infrastrtuktur tentunya tidak lagi berpikir bagaimana porsi PNBP dalam APBN dari kelima sektor diatas.

Bagaimana dengan MIGAS ?

Migas merupakan bagian dari infrastruktur energi. Tentusaja sebagai menyumbang energi terbesar saat ini bahkan hingga 40-60% kebutuhan energi dipenuhi dari migas. Sekali lagi (hulu) MIGAS saat ini memang hanya menyumbang kurang dari 4% dalam pendapatan APBN.
Namun kalau memang berpikir migas sebagai bagian dari energi dan berpikir sebagai bagian infrastruktur, maka sejatinya tidak perlu lagi berpikir pendapatan yang hanya 4%, namun berpikir berapa VOLUME yang dihasilkan dari (hulu) migas ini sebagai bagian infrastruktur energi. 
 
Seandainya memang migas sebagai infrastrutur dan penggerak ekonomi, bukan pendapatan, maka sudah semestinya kalau pemerintah memberikan kemudahan dan prioritas dalam pembangunan energi ini.
🙁 “Pakde bagaimana dengan Gross Split ?”
😀 “Ya mestinya, apapun bentuk kontrak hulu itu, jangan mikirin berapa perolehan negara dari bagi hasil, tetapi berapa volume migas yang bakalan diproduksikan. Volume not Value!”

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here