Jenjang karier pekerja profesional … kayak apa sih ?

30

Tadi pagi aku mendengar dua sahabat saya memutuskan untuk mengajukan resign, tentunya dari tempat kerja yang lama dan masuk menuju ke kantor yang baru. Memang ngga istimewa tetapi keduanya mengingatkan aku akan kelangkaan pekerja di perminayakan saat ini. Ya kelangkaan pegawai perminyaan saat ini. Okelah, semoga kedua sahabat saya itu menemukan tempat kerja yang lebih baik untuk menunjang impian mereka mengejar karier.

๐Ÿ™ “Pakdhe, karier itu yang dikejar apanya sih ?”

๐Ÿ˜€ “Thole cita-cita manungsa itu kan bisa sangat pribadi. Tetapi secara mudah kalau kita lihat ada dua yang utama. Pertama mengikuti jenjang menajerial atau menjadi profesional yg sering disebut juga kerja teknikal. Walaupun bisa juga looh jadi investor atau entrepreneur, tapi itu sudah dongengan lain”

Nah kayaknya kok menarik juga untuk mendongeng seperti apa karier professional.

Dua jalur karier sebagai pekerja itu bisa dibagi dua, manajerial dan profesional (teknikal). Kalau kemarin mendongeng adanya office politics kali ini salah satu aspek yang perlu diketahui untuk mengejar karier professional.

Salah satu contoh jenjang profesi geosaintist

Secara umum jenjang karier profesional di perusahaan itu bisa dibagi dua. Yaitu sebagai pekerja profesional yang khusus atau yang general.

Disebelah ini salah satu contoh saja untuk seorang geoscientist (Geologist-Geophysicist) tetapi nantinya akan terlihat bahwa ini sebenarnya akan bersifat generik yang mungkin dapat dterapkan juga untuk berbagai disiplin ilmu atau jenis profesi.

Secara umum ada tiga jenjang yang terbagi dalam perjalanan karier profesi. Yaitu, masa training di awal, masa pengkayaan pekerjaan, masa lanjut atau sebagai seorang senior.

Pada saat awal ketika masuk kerjasemua yang baru masuk kerja akan masuk program pelatihan (training) bagaimanapun yang namanya lulusan baru itu ndak akan bisa langsung memegang “obeng”. Tetap harus ada program pelatihan. Entah dalam waktu dua hari, seminggu atau bahkan bisa saja hingga beberapa bulan. Walaupun diketahui nantinya hanya berperan 20% saja dalam perjalanan kariernya, training masih tetap diperlukan.

Bentuk training memang tidak harus dalam kelas, dapat saja berupa job-training atau formal mentoring bekerja dengan pengawasan ketat. Atau boleh juga dianggap bekerja sambil belajar. Seringkali status si pekerja masih dalam fase percobaan (probation period).

Spesialis vs Generalis

Secara mudah dalam jenjang profesional geosaintis di perminyakan itu bisa dibagi dua yaitu profesi spesialis dan profesi generalis. Memang jarang profesi geologist yang generalis dalam dunia migas, karena profesi generalis ini lebih banyak dalam eksplorasi. Sedangkan kegiatan eksplorasi hanya ada pada awal (hulunya hulu) kegiatan industri migas.

Ada juga looh seorang geosaintist yang sangat suka dengan pekerjaan khusus misalnya mengevaluasi data sample-sample batuan baik dari “core” (inti bor, sample batuan permukaan, sampai ‘cutting’ hasil pengeboran. Dalam dunia engineering mungkin ada juga engineer yang suka sekali dengan katup / klep. Mungkin nanti spesialisasi pompa. Dalam dunia human resources (HR) ada yang suka dengan itung-itungan benefit, yaitu soal gaji, remunerasi, ngitung tunjangan jabatan dll. Namun di HR ada juga yang lebih suka dengan HR-Relation yaitu hubungan industrialis dengan pegawai dsb.

Seoarng yang generalis memang akan cenderung mengerti banyak hal tetapi tidak terlampau dalam. Pengetahuan yang dimilikinya sangat lebar, sehingga memiliki kemampuan mengintegrasikan beberapa hasil pekerjaan orang lain. Dalam menentukan prospektifitas sebuah daerah, seorang eksplorasionis harus mengerti bagaimana perkembangan sebuah cekungan (basin analisis), juga harus mengerti pengetahuan tentang geokimia untuk melihat ‘petroleum system’, di daerah itu.

๐Ÿ™ “Pakdhe petroleum system itu seperti tulisan pakde tentang terbentuknya minyak bumi itu ya ?

Seorang insinyur sipil yang bersifat integrator misalnya sorang field project coordinator. Dia harus tau banyak hal (segalanya) walupun bukan “expert”. Tugasnya koordinasi. dalam profesi yang lain tentunya ada juga.

Nah kau pingin jadi spesialis atau integrator ? Tuliskan saja di komentar dibawah ini. Ntar terus boleh ambil hadiahnya donlod lagu sini The Place Mixdown – By Irsha Primanda:

Liked it? Take a second to support Dongeng Geologi on Patreon!

30 KOMENTAR

  1. Sampai sekarang saya gak tahu mau pilih atau malah sudah berada di posisi mana … mungkin semua jenjang itu mesti dilalui, generalist, trus specialist baru integrator … lengkap dech….!!!

  2. pgnnya sih lebih ke managerial yah.krn dlm bayangan ku tuh di bidang itu lebih terlibat dgn bnyk orang yah,daripada spesialis yg kyknya berkutat sendiri dgn kerjaannya. bener ga sih pakdhe?
    tp saat ini tuh pekerjaan aku malah lebih ke spesialis,sedangkan aku masih bingung dengan keinginan pgn krj dibidang apa hehehehe

    –> Pinginan apa aja boleh lah yaw.
    Spesialist tidak harus bekerja sendiri, tetapi disiplinnya saja yang khusus. Dalam bekerjanya specialist-pun masih memerlukan kawan lain (teamwork) untuk membantunya. Spesialist memang lebih memerlukan ketekunan dan konsentrasi. Apalagi saat ini banyak spesialist yang memerlukan ilmu hitung (math) yang lebih. Karena dari angka inilah yang akan diterjemahkan kawan sekerja yang lain
    .

  3. kalau aye sih pilih generalist… jelas dunk, kan aye pinginnya jadi bos. apalagi aye lulusan teknik fisika yang belajar kulit2nya doank (pak lik bilang menguasai semua bidang kecuali bidangnya haha..), jadi kagak perlu tahu detil, yang penting bisa nyambungin omongan orang mesin dengan orang elektrical, bisa lobying dan banyak kenalan karena diajak ngomong apa aja nyambung lak nggih to pak dhe hiihii

  4. Yg paling menguntungkan sepertinya specialist yg generalist. Maksudnya ahli dibidangnya tetapi memiliki general knowledge yg solid di technical, business, leadership, dll. Contoh: Masternya Business atau Finance atau lainnya yg berbeda dengan background yg BSc ato BEng. Dengan ini options tetap terbuka tuk pergi ke managerial atau technical expertise.

    Met lebaran tuk semua…

  5. Salam kenal pakdhe,

    Kalau jadi profesional kelihatannya gampang pindah-pindah perusahaan. Tapi kalau jadi managerial atawa struktural gampang pindah-pindah kumpeny gak pakdhe?? ๐Ÿ˜€

    –> Dalam satu perusahaan jumlah manajer tentunya jauuuh lebih sedikit ketimbang jumlah profesionalnya. Sehingga dalam satu persuahaan persaingan untuk menjadi manajer semakin sulit. Namun kalau pasaran diluar, karena jumlah menajer juga sedikit, kalau mau pindah juga sedikit saingan walaupun sedikit lowongan juga. Jadi tergantung “musim” saja. kalau banyak perusahaan memangkas jumlah pekerja maka persaingan juga semakin sulit untuk keduanya

  6. “emang jarang profesi generalis, karena profesi generalis ini lebih banyak dalam eksplorasi” maksudnya apa pakde?


    –> Agak jarang geologist yang berprofesi generalis. Karena generalis seringkali hanya pada kegiatan eksplorasi. Sedangkan kegiatan ini dalam dunia migas hanya pada awal. Mungkin hanya 10% dari total waktu Explorasi-Produksi. Tahap produksi yang cukup lama ini lebih banyak spesialisnya.

  7. aku juga mo pindah kerja. tapi yang sesuai dengan bakat dan minat. gak berdasarkan besar kecilnya gajih. Hal-hal yang tulus membuat sesuatu menjadi profesional. tapi kalau pekerjaan yang anda tulis di atas sepertinya tidak sepadan dengan kapasitas otaku yang melompong ini hehe

    RDP –> secara pribadi saya lebih memilih pekerjaan yang disukai. Kemampuan itu bisa diasah atau dipelajari. Tapi kalau jenis pekerjaannya tidak disukai, walaupun mampu, memang mengerjakannya ogah-ogahan. Ini menyebabkan performance kerja juga kurang

  8. Salam kenal Pak Dhe…,tulisan yang sangat menarik, dunia kerja kita sering terbentuk oleh situasi dan lingkungan dimana tempat kita bekerja, apa yang menjadi cita2 diawal kerja dapat bergeser bahkan sangat bertolak belakang. Menjadi spesialis atau generalis kadangkala terbentuk bukan dari sebuah perencanaan awal namun tuntutan “tugas” dan “jabatan” yang mempengaruhinya. Sukses ditempat kerja tidak semata oleh “skil” yang kita miliki, menurut saya keahlian lain adalah : leadhership, managerial, emotional, komunikasi dan relationship yang baik. Karir yang terus meningkat idaman setiap pekerja. Saya yakin “rejeki, fasilitas dan kesempatan” akan mengikuti Karir bukan sebaliknya.

    Salam

    –> David, memang jenjang karier itu bisa saja karena hanya nurut karena tugas (loyalitas). Tetapi pada saat di era ‘kebebasan’ ini, karier di perusahaan moderen lebih ditentukan oleh diri sendiri. Perusahaan lebih banyak memfasilitasi saja.

  9. Kemarin ada yang bertanya kepada saya ‘De, kalo dah kelar S2 mau kerja dimana’ lalu saya jawab ‘saya mau menjadi Istri dan Ibu, berkarir dirumah’ lalu sang penanya bilang ‘kalo gitu ngapain loe sekolah tinggi tinggi’

    ehm … saya gak tahu lagi harus jawab apa.

    –> Bude Laras ( http://yuenda.blogspot.com ) yang jadi Ibu rumahtangga, juga ambil S2. Sekarang malah masih kursus Bahasa Inggris di Britist Council. Kalau ditanya ngapain sekolah tinggi, dia bilang “untuk memberi contoh ke anak-anak bahwa sekolah itu tidak pandang profesi maupun usia” ๐Ÿ˜›

  10. Kalau pakdhe sendiri sekarang kerjanya sebagai spesialis atau integrator?

    –> Aku lebih banyak sebagai integrator di explorasi (new Ventures). Tugasnya menggabungkan hasil kerjaan para spesialist untuk dibuat program explorasi selanjutnya ๐Ÿ™‚

  11. mau jadi spesialis saja pakdhe.. Eh pakdhe, saya request dong.. tolong dibahas tentang pembentukan gunung baru (yg katanya akibat gempa) yg di Tanimbar kemarin. Makasih sebelumnya.

  12. Kayaknya, yang paling menguntungkan di masa depan yakni sebagai spesialis. Karena generalis biasanya mengenal “kulitnya” saja. Kalo ada masalah lebih kompleks, mungkin ia tak sanggup mengatasinya. Tapi PAKDE,ada yang lebih penting lagi. Yakni sebagai versatilis, yang katanya Om Romi di “Arah SDM TI: Dari Spesialis ke Versatilis”, mampu memberikan solusi komprehensif dalam permasalahan teknis
    CMIIW, Sumonggo

  13. Kayaknya, yang paling menguntungkan di masa depan yakni sebagai spesialis. Karena generalis biasanya mengenal “kulitnya” saja. Kalo ada masalah lebih kompleks, mungkin ia tak sanggup mengatasinya. Tapi PAKDE,ada yang lebih penting lagi. Yakni sebagai versatilis, yang katanya Om Romi di “Arah SDM TI: Dari Spesialis ke Versatilis”, mampu memberikan solusi komprehensif
    CMIIW, Sumonggo

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here