Apakah nasionalisme sudah menjadi barang jadul ?
“Mengapa tertarik ke Malaysia, mengapa tidak ke Uni Eropa atau ke AS? Apa keuntungan/ kemudahan bekerja di Malaysia?? Apa keinginan atau harapan terhadap Indonesia sebagai tanah air, terutama dari pemerintah dimana ternyata banyak sekali ahli-ahli Indonesia yang memilih bekerja di luar negeri dan membangun negara orang lain karena mendapat imbalan ekonomi yang sangat menyejahterakan dibandingkan dengan membangun negeri sendiri ?”
Ya, itu sebuah pertanyaan sangat mendasar yang konon katanya ditulis oleh seorang wartawan yang ditujukan kepada kaan-kawan IATMI-KL (Ikatan Ahli Teknik Perminyakan di Kuala Lumpur).
🙁 “Whalllah, Pakdhe niku. Itu pertanyaan atau tuduhan ?”
😀 “Lah anggap saja itu pertanyaan wartawan tanpa koran, bisa saja to ?“
Pertanyaan diatas muncul dalam mailist IATMI-Kuala lumpur selama sepekan kemarin. Pak Hari Primadi sebagai ketua IATMI-KL akhirnya merangkum jawaban yg berupa essai itu seperti dibawah ini. Lebih dari 80 responden menjawab berdasarkan atas pemikiran apa yang paling utama ketika mereka menentukan tempat bekerja (terutama di Malaysia).
Gaji & Benefit: 11 responden = 14%- Kualiatas hidup (fasos, fasum, keluarga): 10 responden = 12%
- Dekat (dengan kampung halaman): 10 responden = 12%
- Kultur (makanan, bahasa pengantar, culture shock): 9 responden = 11%
- Dihargai (sebagai Duta bangsa, ekspatiat): 8 responden = 10%
- Peluang (tidak diterima saat melamar di Indonesia): 8 responden = 10%
- Pahlawan devisa: 5 responden = 6%
- International exposure: 4 responden = 5%
- Skill development (coaching, mentoring, training): 3 responden = 4%
- Job related (load, environment): 3 responden = 4%
- Batu Loncatan: 3 responden = 4%
- Sekolah Anak (pergaulan, kesinambungan ke jenjang Universitas): 3 responden = 4%
- Pajak: 2 responden = 2%
- Lain-lain (berobat, program “my second home”): 2 responden = 2%
Nah, kalau hanya angka mungkin tidak menarik. Perlu dicari sisi-sisi pembelajarannya. Mari kita coba kalau dikelompokkan berdasarkan klasifikasi lebih kecil maka terlihat bahwa ada fakta lain yang bisa diambil.
🙁 “Wah pakdhe selalu saja menjadikan angka sebuah cerita dongeng ya ?”
😀 “Thole, angka itu menjadi dasar dalam berpikir dan mengambil keputusan. Yang penting bagaimana memahami arti dari angka !”
Ternyata
Ternyata alasan serta pemikiran profesionalisme dan karier mendominasi diantara 29 responden atau sekitar 33%. Sedangkan faktor sosial budaya mendapat respons dari 19 orang, atau sekitar 23%. Sedangkan Gaji dan segalanya yang berhubungan dengan uang mendapatkan 18 responden atau kira-kira menduduki rangking ketiga 22%. Sedangkan Kehidupan keluarga bukan yang terutama walaupun hal penting terbukti dipilih oleh 15 responden atau 18% saja.
Wah ini data-data sungguh penting dan berharga terutama buat pengamat human resources dalam industri migas di Jakarta. Bahwa ternyata mereka-mereka yang bekerja di Luar Negeri tidak harus disebabkan atau di drive oleh gaji (remunerasi) atau masalah uang. Uang ternyata bukan segalanya bagi mereka. Ini sebuah berita bagus yang menunjukkan bahwa profesionalisme saat ini menjadi menjadi titik tolak para pekerja-pekerja Indonesia di Luar negeri khususnya di Malaysia (Kuala Lumpur).
Tentusaja fakta diatas dapat menjadi tantangan bagi pengelola tenaga kerja di Indonesia.
Bagaimana peran IATMI ?
Pak Kuswo mempresentasikan bagaimana kebutuhan tenaga GGE di Pertamina, yang dilanjutkan dengan diskusi yang juga berisi tanya jawab cukup hangat dengan Pak Fauzi. Tentusaja diskusinya juga masih berbicara soal ketenaga kerjaan dan hal-hal lain yang menarik.
Bagaimana HR-HR Migas di Jakarta ?
Sepertinya apa yang diungkapkan Pak Kuswo waktu itu dengan kurangnya tenaga GGE adalah benar. Dan juga fakta yang diungkap Pak Kardaya tahun lalupun sudah benar ketika mengindikasikan kekurangan hingga 16 ribu posisi yang lowong di lingkungan migas. Nah bagaimana dan apa yang mesti diperbuat supaya tidak terjadi hengkangnya profesional dan juga potential GGE – Geoscientist dan Engineer yang ada di Indonesia ini ?.
“There is no silver bullet to kill all enemies”
Yang pasti Kalau diterjemahkan dalam sebuah program kerja ini sangat jelas pesan diatas. Tidak ada “satu” langkah yang bisa dipakai sebagai “sapu jagad” dalam menyeleseikan masalah yang kompleks, multi dimensional dan merupakan dampak dari “globalization phenomena“.
Pertanyaan “wartawan” untuk menyinggung rasa nationalisme sudah bukan hal mudah dipergunakan lagi. Nasionalism barang abstract yang hanya perlu ditunjukkan dengan sebuah “semangat” yang abstrak pula. Nationalisme saat ini harus mampu ditumbuhkan dan ditunjukkan dalam sebuah bentuk realitas dan cenderung material dan kasat mata.
Semoga menjadi perenungan bersama.
Tantangan human resources masih akan menjadi issue mungkin hingga 5-10 tahun lagi ketika gap, kesenjangan tingkat keahlian, yang terindikasi dalam tulisan The workforce challenge disini akan terisi.
—————————————————
Catatan lepas atas pertanyaan Sigit dibawah “Apa itu nasionalisme ?”
Sebenernya menghubungkan nasionalisme dengan “brain drain” tidaklah sederhana. Tidak ada salahnya kita mengerti dahulu apa itu nasionalisme. Wiki memberikan definisi sederhana begini.
Nasionalisme adalah satu paham yang menciptakan dan mempertahankan kedaulatan sebuah negara (dalam bahasa Inggris “nation”) dengan mewujudkan satu konsep identitas bersama untuk sekelompok manusia.
Memang ini hanyalah faham yang mengatakan bahwa “nation” harus didahulukan, dan ini merupakan bagian dari landasan berpikir dan bertindak demi kepentingan eksistensi sebuah negara. Jadi awalnya nationalism hanyalah untuk negara. Dalam perkembangannya ada Nasionalism budaya, Juga ada Nationalism etnic (misal china, etnic melayu, etnic India, caucasian dll).
Dalam nationalism etnic ini misalnya orang melayu yang berpikir “yang penting untuk orang melayu”, ini banyak terdengar di Malaysia. Sehingga ketika nationalism etnic ini muncul maka Malaysia akan mungkin bersatu dengan Kaum Melayu di Indonesia Barat, dimana nationalisme negara akan pudar.
Apakah nationalism itu penting ? Yang jelas faham nationalism itu ADA ! dan beragam !
View Comments (36)
di negeri para bedebah,rakyatnya jadi kuli di negara orang,upahnya sumpah serapah dan bogem mentah
Semakin banyak warga negara kita yang bekerja di luar negeri, semakin besar pula devisa yang diterima negara
nasionalisme.patriotisme.dan isme2 sejenis lainnya, pentingkah??
kalo bagi saya, nasionalisme hanya lah sekat "transparan" diantara umat manusia, ujung2nya y memecah belah manusia...hiks!
klo nasionalisme bisa ngisi perut, gue dukung nasionalisme (ini kata para caleg,capres,cagub,dll)
rakyat biasa ga penting nasionalisme..
luar biasa, tak kira kerja di luar negeri cuma karena nyari duit tok, hehe..
merdeka!!
pakdhe rovicky ini mustinya sudah pulang saja ke indonesia. seperti kata ki hajar dewantoro, yg sudah merasa sepuh ya harus ing ngarso sung tulodho - di depan dan memberi teladan, menciptakan trend baru. kalau masih merasa mid-level - ing madyo mangun karso. kalau masih baru ya tut wuri handayani.
berkat perjuangan pendekar migas indonesia, sekarang para profesional migas dari indonesia sudah diakui kehandalannya hampir di seluruh penjuru dunia. jadi sekarang sudah cocok lah untuk yang masih baru sampai ke tingkatan menengah.
jadi kalau sudah jadi pendekar kayak mbah rovicky akan lebih banyak kiprah yang bisa dilakukan di tanah air. misalkan 1) meningkatkan renumerasi profesional migas di indonesia (pakai sistem re-grading, lump-sum exercise, fast-track career development, production bonus etc.), 2) mengelola kawah candradimuka untuk melahirkan pendekar-pendekar baru di belantara migas dunia, dan 3) mengembangkn bisnis migas indonesia.
ijin kopi-paste komentarnya...
Ya iya lah. Mau di mana pun namanya hujan emas lebih mengasyikkan dari hujan batu. Dan kalau yang cerdas, mengumpulkan emas di negeri orang, lalu dibawa ke negeri sendiri supaya di negeri sendiri isinya bukan batu doang. :) . Dengan pepatah lama yang berbau mbok-mboken itu (takut jauh dari rumah) akibatnya devisa kita nggak bertambah. Sementara hujan emas yang di sini sudah diboyong ke negeri lain.
ternyata hujan emas di negeri orang lebih mengasyikkan daripada hujan batu di negeri sendiri
musim memang udah berganti.. :?
istilahnya sekarang, ada uwang abang
sayangnasiyonalis, nggak ada uwang abangtendangkapitalis :lol: