Harry Edyarso : Adu Argumentasi “Bencana Alam” vs “Dampak Operasi Pengeboran”

0

Kasus pelik itu akhirnya mengundang banyak ilmuwan. Salah satu yang kali ini memberikan komentar adalah Pak Harry Eddyarso seorang Dri lling engineer(ahli pengeboran). Komentar beliau cukup fair, kritis dan membuka wawasan professional perminyakan.

๐Ÿ™ “Wah dugaan Pakdhe benar lagi. Memang yang paling pas memberikan ulasan keterlibatan sumur adalah ahli pengeboran itu sendiri. Bukan geoscientist. Jadi Pakdhe diem aja ya? Jangan crewet !”
๐Ÿ˜€ “Hust, Thole ! Geoscienctist ya mengkaji semburannya tetapi bukan menghubungkan dengan pengeboran secara langsung. Kompetensinya sendiri-sendiri”

Akhirnya untuk pertama kalinya dalam sejarah (setau saya), tim Lapindo (yang berpendapat bahwa semburan Lumpur adalah “bencana alam”) dipertemukan – head to head – dengan tim oposisi yang berpendapat bahwa semburan lumpur adalah dampak dari operasi pengeboran di sumur Banjar Panji #1. Pertemuan tsb difasilitasi oleh Forum Komunikasi Masyarakat Jawa Timur, bertempat di Sheraton – Surabaya, pada hari Kamis, tanggal 28 March February 2008.

Tim Lapindo terdiri dari:

1. Mas Edi Sutriono – VP Drilling EMP
2. Dr. Ir. Agus Guntoro – Geologist (Univ. Trisakti)
3. Prof. Sukendar Asikin – Pakar geology tektonik dan dosen senior ITB
4. Dr. Ir. Dody Nawangsidi – Pakar dan dosen Teknik Perminyakan ITB
5. Dr. Adriano Manzini – Geologist dan pakar mud volcano dari Norwegia (?)

Tim oposisi terdiri dari:

1. Dr. Ir. Rudi Rubiandini – Pakar pengeboran dan dosen Teknik Perminyakan ITB
2. Ir. Kersam Sumanta – Pakar pengeboran yang berpengalaman dalam mematikan semburan liar (Pertamina)
3. Prof. Koesoemadinata – Pakar geology dan dosen senior ITB
4. Dr. Ir. Andang Bachtiar – Pakar geology dan mantan ketua IAGI
5. Harry Eddyarso – Tukang Ngebor

Secara substansi, isi presentasi dari kedua tim tidak banyak berbeda dari pertemuan2 sebelumnya, namun kali ini dengan tambahan data yang semakin melengkapi data2 sebelumnya. Justru yang terbaru (pertama kali saya liat) adalah presentasi tentang drilling dari Mas Edi Sutriono yang menyampaikan presentasi dengan berapi-api, mungkin udah lama menahan diri (bahasa Jermannya: “ngampet“) untuk muncul ke permukaan karena mungkin belum dapat “green light” dari manajemen Lapindo. Inti dari presentasi Mas Edi itu pada dasarnya adalah untuk menangkis pendapat tim oposisi yang mengatakan semburan itu akibat dari kelalaian pengeboran. Beliau sekaligus menegaskan bahwa secara konsep dan procedural tidak ada yang salah dalam operasi pengeboran sumur Banjar Panji #1. Jadi, semburan itu keluar dari “lubang lain” yang direkahkan oleh gempa Yogya (gak ada hubungannya dengan lubang sumur Banjar Panji #1) – jadi murni bencana alam.

Case 1Adapun argumentasi yang digunakan Mas Edi Sutriono di antaranya adalah:

* Di annulus yang keluar adalah air dengan berat 8.9ppg (ada di daily drilling report), sehingga dengan casing pressure 1054psi masih di bawah tekanan rekah formasi di 13-3/8″ casing shoe @ 3580ft, jadi tidak mungkin
merekah.
* Casing design dibuat dengan menggunakan Landmark software dengan kick tolerance = 0.5ppg –> jadi tetap aman dengan 6000ft open hole section
tanpa memasang casing 9-5/8″. Padahal program asli mengatakan bahwa casing 9-5/8″ harus di pasang di kedalaman 8500ft.
* Ditambahkan lagi: data2 drilling yang dipakai oleh Pak Rudi Rubiandini tidak factual (statement ini ditulis lagi di harian Kompas besoknya – Jumat, 29 Maret 2008)

Case 2Sedangkan dari tim oposisi, semakin banyak data yang kami sempat “intip” dan semuanya semakin mengarahkan (memperkuat dugaan) pada kemungkinan merekahnya formasi akibat dampak dari aktifitas pengeboran. Bahkan kami bisa memperkirakan tanggal dan jam serta pada tindakan apa, formasi tsb mulai rekah berdasarkan data2 drilling tsb. sebelum semburan itu terlihat ke atas secara kasat mata oleh drilling crew di lokasi dan oleh masyarakat di hari berikutnya.

Adapun untuk ketiga argumentasi Mas Edi di atas, saya menanggapinya sbb.:

* Selain pressure di casing annulus, orang2 drilling selalu memakai patokan pressure di drill pipe sesuai dengan kaidah2 ilmu “well control“. Kenapa? Karena kita tau pasti bahwa yang di drill pipe adalah semuanya lumpur bor (homogen) dengan berat 14.7ppg (ini juga ada di daily drilling report) sehingga bisa dihitung dengan tepat tekanan hidrostatik di setiap kedalaman. Sedangkan di casing annulus, fluidanya (influx) pasti campuran air formasi, gas, lumpur formasi dan lumpur pengeboran dengan proporsi perbandingan yang hanya Tuhan yang tau. Influx selalu berasal dari bawah ke atas, gak bisa langsung ujug2 ada di atas / permukaan. Dalam ilmu “well control“, pressure di casing casing dipakai sebagai data penunjang, tapi bukan sebagai patokan utama untuk menghitung tekanan hidrostatik dan “kill mud weight“.

Case 3* Dalam drilling practice, idealnya Kick Tolerance yang dipakai adalah at least 1 ppg. Bila kick tolerance antara 0.5ppg dan 1 ppg, kita harus sangat hati2 (ini menurut drilling manual Mobil Oil yang menjadi referensi teman2 Lapindo). Padahal menurut hitungan kami, kick tolerance yang dipakai Lapindo adalah 0.49ppg. Amankah? Ya aman2 aja bila operasi drilling berjalan dengan normal tanpa gangguan, tapi bila ada kick, semuanya bisa menjadi berantakan.

* Tentang data2 drilling: Setelah melihat sendiri data2 tsb, data2 yang dipakai Pak Rudi SESUAI dengan fakta yang ada. Justru data2 yang dipakai / dilaporlkan oleh Lapindo lah yang perlu dipertanyakan. Misalnya: data casing pressure maximum yang 1054psi, cuma dilaporkan 450psi. Juga tekanan rekah yang dilaporkan = 16.4ppg EMW, sementara di drilling report nya PT. Medici (kontraktor pengeborannya) tekanan rekah dilaporkan cuma 15.7ppg EMW (atau MASP = 277psi). Lalu yang mana yang benar?

RDP notes : Sepertinya dispute diatas inilah yang menjadi kunci dari koneksitas pengeboran dengan semburan.

Secara umum, pertemuan di Sheraton Surabaya antara kedua tim itu cukup bagus, setidaknya sebagai langkah awal untuk pertemuan2 berikutnya. Kekurangannya tentu ada, di antaranya jangka waktu presentasi yang sangat terbatas serta audience yang mixed. Banyak juga warga korban lumpur Lapindo yang hadir dan mereka terpaksa nonton perdebatan antara kedua tim tanpa memahami masalah2 teknis. Sehingga saya mengusulkan untuk diadakan pertemuan lanjutan antara kedua tim dengan host Departemen ESDM dalam sebuah meeting tertutup yang focused (dikurung 3 hari 3 malam sampai ada konsensus bersama terutama untuk tindak lanjut solusi semburan lumpur tsb, di antaranya program relief well yang sempat terhenti waktu itu karena masalah2 non-teknis). Kalau program relief well ini disetujui untuk dilakukan kembali, tim Lapindo harus rela untuk tidak terlibat langsung. Kenapa? Ya bagaimana relief well bisa sukses

Sisi Lain Di Balik Adu Argumentasi:

Secara ilmiah, debat kayak ginian sih wajar2 aja, tapi karena ada implikasi hukum, cost, reputasi perusahaan, bahkan politis, insiden Lumpur Lapindo ini menjadi sangat sensitif laksana bola panas yang tak seorangpun mau menerimanya, sehingga paling aman ya diserahkan aja ke alam sebagai kambing hitamnya menjadi . Di sisi saya pribadi, mungkin ini case yang paling sulit buat saya karena teman2 Lapindo itu teman2 baik saya. CEOnya adalah “paman” saya sendiri walaupun cuman dalam lakon ketoprak “Peristiwa Bubat” dan sama2 pendiri APPI :-).

Lalu kenapa saya memutuskan untuk ikut terlibat? Karena setidaknya ada 4 hal:

* Sebagai professional, kita semua bertanggung jawab kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui terhadap apapun yang kita lakukan di dunia ini
* Sebagai sesama manusia, saya gak tega melihat penderitaan masyarakat Sidoardjo korban2 lumpur tsb, apalagi sudah hampir 2 tahun masih gak jelas nasib, hak2 dan masa depan mereka.
* Secara moral, saya harus mengatakan apa yang sesungguhnya terjadi berdasarkan data, fakta dan kompetensi saya sebagai tukang ngebor sumur dalam koridor dunia keilmuan dan kaidah2 ilmiah. Tidak ada masalah menang-kalah disini, but we have to do something for solving the long outstanding problem, terutama menolong saudara2 kita para korban itu.
Apalagi sampai saat ini institusi dan asosiasi para ahli yang berwenang masih diam saja, gak ngerti aku, kenapa??. Di sisi lain, ada proses penyelidikan yang tidak transparan, tidak berimbang dan menjurus pada konklusi “bencana alam” yang controversial itu, bahkan akhir2 ini oleh tim bentukan DPR (??)
* Sebagai drilling professional, saya ingin berkontribusi dalam mencari solusi agar bencana lumpur ini serta penderitaan saudara2 kita di
Sidoardjo itu segera berakhir.

Silakan Mas Edi Sutriono dan rekan2 lainnya untuk menanggapinya sebagai forum pembelajaran buat anggota2 milis semua. Bila ada yang tidak berkenan, saya mohon maaf yang sebesar2nya.

Bersambung ……

Harry Eddyarso – Moderator KBK “Bor” KMI

1 KOMENTAR

  1. I really like your blog.. very nice colors & theme. Did you make
    this website yourself or did you hire someone to do it for you?

    Plz answer back as I’m looking to design my own blog and would like to find out where u got this from. thank you

  2. Thanks for one’s marvelous posting! I genuinely enjoyed reading it, you happen to be a great author.I will ensure that I bookmark your blog and will often come back someday. I want to encourage you to continue your great work, have a nice evening!

  3. Salam kenal Bapak Rovicky.

    Mohon maaf karena saya numpang lewat di blog ini.
    Saya teman lama Pak Harry Eddyarso, nama saya Yustinus Nambi, yang dikenal Pak Harry melalui sebuah organisasi pemuda bernama Arek-KAJ.
    Saya kehilangan jejak beliau. Alamat email yang saya punya saat Pak Harry masih di Arco.
    Mohon disampaikan kalau saya berharap Pak Harry mau menulis email singkat ke email saya; [email protected].

    Matur nuwun dan mohon maaf untuk numpang lewatnya.

  4. Kebenaran Memang Harus di TEGAKKAN apapun risikonya… istilah lempar batu sembunyi tangan kok seperti mengkritisi orang yang bernama Rangga…Tampaknya argumentasi yang dilempar oleh den mas Rangga tidak menyentuh landasan alias berhenti ditengah jalan…alias tidak tuntas lalu kehabisan ide untuk menyelesaikannya…wah kasihan yang mau menjawab.. jadi bingung den! tunjukkan dong bahwa anda (den mas rangga) juga mampu menuntaskan pemikiran secara ilmiah!!! bukan baca referensi lalu dipasang disini …

  5. sedikit mengenai saya mas ya…. saya merupakan praktisi ngelmu yang dibilang sangat sensitif onderdilnya, jadi pengen juga urun rembuk sedikit masalah PLTN ngak papa tho. saya juga dah baca komentar sebelumnya kenapa negara yang maju dan memiliki presisi tinggi SDM nya ngak mau pakai itu namanya PLTN????? nach ni jawabnya kalo ngak salah:1.dampak ekologinya dari batangan nuklirnya sampai sisanya sangat sensitif dan sangat berbahaya itu kalo reaktornya ngak bermasalah./2.akibat yang ditimbulkan kalo bermaslah ingat chernobyl, nach lapindo yang merambat pelan aja kita tidak mampu apalagi nuklirnya yang ngak sempat mikir lalu bleng satu propinsi jogja bisa almarhum hehehe apa udah bosan yangg ngerencanain ama orang jogja, karena infonya mo dipasang disana,nati salah menyalahkan lagi kayak lapindo jadi bencana nasional.mikir dan rasakan dech./3.material reaktor dan bahan bakarnya sangat mahal dan kita ngak bisa bikin itulho mas. akhirnya timbul model penjajahan baru dengan perhitungan awal murah menjadi selangit, makanya kalo ngitung sertakan praktisai yang nasionalis jadi ngak salah gitu lho.sementara energi fosil kita masih banyak dan jangan diobral tapi dimanfaatkan ntuk anak cucu./4.ini ngak kalah penting SDM, saya sebagai praktisi sangat kecewa dengan sistem yang ada coba bayangkan untuk sebauh peralatan selalu ready dibutuhkan kehandalan praktisinya ya tho.. tapi lain pada saat tranfersknowlednya yang dikirim staf struktural atau bahkan struralnya dan ngak ada seleksi tapi perasaan, sehingga ada istialhnya bangsa ini hanya bisa beli tapi ngak bisa ngerawat. tapi pemerintah ngak pernah peduli dengan sindiran ini, kalo alat yang tidak berdampak besar ngak pa-pa yakahan tapi takutnya saya ini berlaku juga dengan PLTN itu tadi….pelatihan dimanfaatkan untuk melali n pulang2 bawa duit banyak wah wah habis dech, dan juga ada sifat bangsa ini mental nerabas dan priyayi itu harus dimusnahkan ya.
    udah dech 4 aja dulu dach cukup untuk rakyat yang berada dilokasi pemasanag dan untuk birokrat yang mengusulkan PLTN ini…. pikirkan tolong anak cucu dan turunannya mungkin bapak ato ibu ini punya anak, nenek, orangtua bahkanb cucu kali jangan dinilai dari segi murahnya saja lho. saya hanya saran ngak maksud menghasut yayayayayayay. dach ini dulu ya.

  6. sekarang pikir deh?
    apa hubungannya bencana yang dibuat? ama bencana alam?
    bilang aja yang ngebor gak mikir resikonya dulu waktu ngebor…….

  7. seharusnya antara bencana alam dengan “bencana karena ulah manusia yang gak bertanggung jawab” tuh…. beda jauh banget,…
    ya itulah karena ke egoisan manusia yang seperti hewan maunya kaya….. eh malah kaya lumpur?
    coba apa yang bisa dilakukan pihak yang tak bertanggung jawab itu sekarang?
    gak ada kan? dan pasti gak sebanding!!!
    makanya…. jadi orang jangan terlalu serakah…. dan karena keserakahan bisa berdampak kayak lumpur yang gak mau berhenti ampe sekarang!

  8. Bagi saya, diskusi atau debat masalah semburan ini hanya relevan sepanjang berkontribusi pada upaya penutupan semburan. Perbedaan pendapat ini tidak ada kaitannya dengan siapa yang bersalah, karena faktanya jelas, lapindo melakukan pemboran, sehingga menyediakan konduit atau channel bagi lumpur (mau UGBO kek, mau gempa kek) untuk keluar dari dalam tanah.

    Faktanya sangat sederhana kok. Kalau Lapindo tidak membor di sumur BPJ1 pada tanggal 29 mei 2006 itu tidak akan terjadi semburan lumpur di Porong. Mau dianalisa dari sisi apapun, oleh pakar yang manapun, ini fakta yang tidak terbantah.

    Tapi kan pihak Lapindo dan para ilmuwan bayarannya tidak mungkin menerima ini dan berputar2 pada korelasi yang lemah dan dipaksakan bahwa gempa menyebabkan semburan.

    FYI, tidak ada satupun dari 3 saksi ahli Lapindo yang ahli ttg gempa bumi, ataupun ttg mud volcano.

  9. Kedua belah pihak (orang orang pintar)saling memberi argumentasi. Tetapi yang diperlukan masyarakat sekitar lumpur LAPINDO, adalah penyelesaian yang adil. Apapun penyebabnya, kita sudah capek dan lelah menunggunya.
    Saya sependapat dengan MaIDeN yang memberi komentar 12 Maret 2008 yang lalu: Kalau bencana alam, maka semua kita ikut menanggungnya. Kita!!! masyarakat!!! yang untuk cari dan beli makan saja susah!! ikut bayaaaar.
    Selanjutnya, hati nuraniku mengatakan, sebenarnya, orang orang pintar itu tidak usah repot dalam memutuskannya. Karena sesuai berita, di koran, radio, tv dll, peristiwa itu terjadi saat pengeboran dilakukan oleh Lapindo. Tetapi suka-suka merekalah (kedua belah pihak), karena hati nurani sering tidak ada hubungannya dengan ilmu. he he he….

  10. Pada mulanya memang ada flowing trus di kill sama mud and trus di plug abandon trus rignya move beberapa ratus meter. Habis di cement plug itu mungkin karena buru-buru atau cementnya kurang bagus timbul channeling lama-lama makin besar jadi fracture ditambah lagi ada aliran gas dari kujung plus ada zone abnormal pressure jadi makin besar dan akhirnya tidak bisa diatasi kalau tidak percaya pasti di relight well pasti sudah connect formasinya terutama dibagian 1500 meter keatas dan akhirnya rakyat juga yang jadi korban dan ketambahan bahwa ini bencana alam ya rakyat juga yang harus bayar. Wah apa tumon

  11. @mohab,

    Membaca fakta yang ada saya condong tidak suka peristiwa ini dijadikan “bencana alam”.

    Lagian duit yang bakal dikeluarin pemerintah kalau itu disebut “bencana alam” datangnya dari pajak yang lu lu pade bayar hahahahaha. Termasuk toekang toekang seperti gua hahahaha …

  12. Saya awam di bor mengebor, tapi kenapa didalam program ngebor cassing sampai kedalaman 8500 feet, realisasi hanya 3500 feet, itu kali pangkal menyalahi prosedur atau sengaja? padahal kajian geologinya daerah itu rawan terbentuknya gunung lumpur yang keluar hampir lurus baratdaya-timur laut (Lusi – Kalanganyar, G. Anyar, G. Lumpur di Bangkalan madura) katanya pada zona sesar Watukosek. Terutama di daerah Jombang Sidoarjo banyak bekas gunung lumpur yaitu reli anyar Jombang, G. Anyar Mojosari dan Canggu Mojokerto. Malahan ahli sejarah mengaitkan tahun 1374 M terjadi bencana Pagunung Anyar, penyebab mundurnya kerajaan majapahit waktu itu karena gununglumpur seperti LUSI. Jadi bencana ini memang sering terjadi tetapi yang sekarang terpicu oleh bor ngebor yang tidak ikut prosedur, ngirit, hoyong untung jadi buntung nya kang.
    Tapi yang terbaik kayanya masyarakat yang terkena bencana dibebaskan tanahnya diganti untung dan diungsikan ke tempat aman. bedol desa carikan lokasi yang baik untuk tempat tinggal dan usahanya. kan nggak akan ngabiskan 59 triliyun yang diambil BLBI. atau lumpur yang keluar dialirkan dengan cara diendapkan dulu kemudian airnya dialirkan ke laut lewat utara, tanpa harus dipompa yang sering macet.
    Tapi ngomentar memang gampang pelaksanaan yang susah. nuhun ah kang.

  13. Sebagai orang awam saya menilai bahwa hal ini tergantung niat baik dari masing-masing pihak, Cuma ada beberapa ganjelan di otak saya, kalau bencana alam kok pas dekat sekali dengan Lapindo ngebor ya…terus mud vulcanonya kenapa nyemburnya besar sekali tidak seperti mud vulcano lainnya yang ada di Indonesi dan ini yang terakhir…gasnya kok ada yang terbakar ya kalau disumet. Barangkali para pakar ada yang tahu…

  14. Background saya teknik sipil tapi saya salut sekali dengan paparan, ide, atau cara mas (atau kang) menulis sehingga dalam membaca saya enjoy sekali karena tersirat adanya kebesaran hati (atau kebesaran jiwa) mas dalam menghadapi masalah kita (nasional) ini semoga anda tetap dijaga olehNya. Salam Copy Udara kata orang

  15. wah seru juga debatnya ….
    kita orang awam jadi tambah bingung saja… karena yang berpendapat sama-sama ahli, apa ada titik temunya ya ??? mau disebut bencana alam atau kesalahan prosedural sama-sama ada argumennya. Kesimpulan yang saya petik dari debat ahli tersebut bahwa Lumpur Lapindo adalah “Bencana Alam” yang disebabkan oleh “Kesalahan Prosedural”. Sama saja seperti longsor yang sering terjadi saat ini.
    Debatnya bisa dilanjutkan dengan kajian dari sisi ilmu yang sama dengan di atas untuk mendebatkan potensi semburan kedepannya ndak? Maksudnya dari sisi geologyst dan drilling, potensi-potensi semburan lumpur kedepannya seberapa besar. Sehingga dapat diprediksi dampak luberannya sampai daerah mana untuk sekian waktu. Katakan bulan depan berpotensi sampai daerah A karena potensi semburan sekian x m3. Tahun depan s/d daerah B atau C dan seterusnya. Karena apakah ada dari bapak-bapak yang berani memprediksi sampai kapan potensi semburan akan berhenti ?
    Silahkan berdebat lagi …. Argumen siapa yang dipakai, akan menyelamatkan masyarakat disekitar. Termasuk mau dianggap seperti apa tragedi lumpur lapindo. Semakin cepat ada status, semakin cepat dana mengucur ke lumpur. Semakin hangat debat, semakin lama penanganan korban. Hal yang manusiawi masing-masing pendapat dianggap lebih benar. Lebih manusiawi lagi memikirkan masyarakat yang menjadi korban. Salam hormat kepada yang masih mau berpendapat… salam prihatin bagi masyarakat yang semakin bingung

  16. Mas Rovicky,

    Berikut ini adalah response saya kepada Mas Rangga Dhyra, saya juga cc-kan
    ke beliau dan rekan2 milis Migas untuk pembelajaran rekan2 semuanya.

    Thanks & regards,

    Harry

    Dear Mas Rangga Dhyra (RD),

    Terima kasih atas komentar2nya, apalagi dari sesama drilling engineer. Wah,
    sayang ya anda jauh di Abu Dhabi sehingga mungkin ada kendala untuk anda
    terlibat lagi dalam diskusi temu muka selanjutnya (Insya Allah bisa
    terlaksana secara khusus dan focused dalam waktu dekat). Jawaban saya ini
    juga saya cc-kan ke teman2 di milis Migas agar mereka dan masyarakat luas
    juga bisa menikmati diskusi ini sebagai pembelajaran. Untuk selanjutnya,
    biarlah juga public yang menilai komentar2 anda dan saya. Berikut ini adalah
    tanggapan saya:

    RD wrote:

    Kang Harry,
    Saya rasa komentar akang tidaklah fair karena akang ada di posisi Rudy cs.
    Saya sendiri praktisi pemboran yang juga hadir disitu sangat menyayangkan
    head-to-head antara rudy.cs vs Edi sutriono.cs gagal kami saksikan padahal
    kami sudah jauh-jauh datang dari middle east. Itu terjadi karena rudy yang
    untuk kedua kalinya kabur dari ruang seminar. (kejadian pertama adalah
    seminar di Bali 2007). Saya juga pernah belajar dari mas Rudy tapi saya malu
    kalau dia hanya berteriak lantang tanpa ada counter attack.

    RHE:

    Mohon dijelaskan komentar mana yang tidak fair dari saya. Kalau berbeda
    pendapat, memang saya sejak awal tidak setuju dengan opini “bencana alam”
    yang dipakai oleh tim Lapindo dan kebetulan saya dan Pak Rudi mempunyai
    pendapat yang sama terhadap akar penyebab bencana Lumpur Lapindo ini. Sejak
    awal terjadinya insiden lumpur ini, saya sudah membahasnya di milis Migas
    (bisa di check di posting2 saya sejak bulan Juni / Juli 2006) sedangkan Pak
    Rudi saat itu ditunjuk menjadi Ketua Tim Investigasi oleh Dept. ESDM. Kami
    baru ketemu untuk pertama kalinya (sejak insiden tsb) tanggal 27 September
    2006 dalam seminar IAGI di Hotel Sahid, dan perhitungan2 kami kebetulan sama
    (bedanya: Pak Rudi punya data2 drilling otentik, sedangkan saya hanya pakai
    data2 yang tersebar di milis, koran, network, dsb). Pertemuan “head to head”
    di Sheraton Surabaya adalah LANGKAH AWAL yang bagus karena baru kali itu
    saya lihat kedua tim (yang berseberangan) bertemu, namun itu sebenarnya
    bukanlah adu argumentasi head to head yang saya inginkan. Kenapa? Karena
    sangat dibatasi oleh waktu dan audience nya pun beragam (banyak yang gak
    ngerti drilling) dan tidak focused. Sialnya, Mas Edi Sutriono kebagian
    ngomong di sesi2 terakhir sehingga diuber2 waktu and this is not good karena
    beliau terpaksa ngomong cepat2. Pak Rudi terpaksa harus pergi lebih awal
    karena memang ada acara berikutnya di Jakarta (ngajar). Undangan buat saya
    juga baru saya terima 1-2 hari sebelum hari H, untung saya bisa ngambil cuti
    di tanggal 28-29 February tsb. Karena tidak tuntas itulah saya mengajukan
    usulan untuk pertemuan lanjutan secara head to head, dikurung 3 hari 3 malam
    dengan Dept. ESDM sebagai host, dihadiri oleh orang2 yang memang kompeten di
    bidangnya dengan semua data2 dipajang di meja diskusi. Kalau perlu pakai
    professional facilitators agar diskusi bisa berjalan dengan efektif, focused
    dan conclusive. Kata2 anda yang bilang “..Pak Rudi kabur…” terkesan
    tendensius dan kurang enak didengar, tanpa mengetahui latar belakang secara
    keseluruhan (maaf).

    RD:

    oiya.. khusus untuk komentar kang harry ada satu yang saya agak bingung.
    Kang Harry khan lama jadi tukang bor, kok sulit banget menerangkan density
    mana yang digunakan untuk perhitungan.

    RHE:

    Apanya yang sulit Mas? Itu ‘kan prinsip dasar ilmu “well control” dimana
    kita selalu pakai SIDPP (pressure di drill pipe) sebagai patokan utama untuk
    well control operations karena kita tau pasti bahwa yang di drill pipe ialah
    lumpur bor 14.7ppg yang homogen (ada di drilling report), sedangkan yang di
    annulus most likely adalah campuran dari berbagai fluida. Dimanapun anda
    ikut certified well control courses, ilmunya ya itu2 aja, sama, dimanapun di
    seluruh dunia. Kalau anda mengaku sebagai seorang drilling engineer dan
    masih bingung dengan hal2 yang basic tsb, well control certificate anda
    wajib dicabut / dibatalkan – this is a serious matter of safety, related to
    people competency (maaf Mas).

    RD:

    Saya juga dapat buku yang ditulis oleh Rudy ((mem)-bunuh lumpur lapindo),
    dia menulis bahwa ada loss dan kick pada saat itu. 14.7 ppg mud digunakan
    untuk kill mud dan ada 8.9 ppg mud yang return to surface pada saat di bleed
    off. Kalau saya yang ngebor waktu itu, tentunya saya juga nggak akan gunakan
    14.7 ppg.
    14.7 ppg mud hanya applied di drill pipe dan di bottom of string, sedangkan
    perhitungan untuk casing shoe tetap fluida yang di annulus, berapapun
    beratnya. Kalau saja kita tahu berapa formation pressure, tentunya bisa kita
    hitung berapa top 14.7 ppg mud di annulus dengan cara membuat persamaan XY
    dari surface pressure, formation pressure dan density fluida yang ada di
    permukaan. Saya lihat itu yang tidak dilakukan oleh Rudy.

    RHE:

    Wah, ini menarik mas, tapi mohon lebih dijelaskan argumentasi anda dengan
    lebih detail (asumsi, data, rumus, perhitungan2, persamaan XY, dsb) disini
    agar saya dan teman2 lain bisa kasih penilaian dan komentar – dan mungkin
    saya juga masih perlu belajar dari Mas Rangga.

    RD:

    Dia (Rudi) malah membuat grafik-grafik yang membuat kami tidak bersemangat.
    Dia hanya berpatokan surface pressure ditambah gradien dari 14.7 ppg mud.
    Malah formation pressurenya semakin membesar dan tidak karuan (tidak sesuai
    dengan actualnya). Saya bisa langsung menebak kalau Rudy akan dihajar habis
    oleh pihak lapindo (maaf, saya agak kasar, seharusnya kang Harry bisa
    mengingatkan beliau kalau semua asumsi nya sangat lemah).

    RHE :

    Grafik2 itu justru membantu kita membaca pressure profiles dengan lebih
    cepat dan mudah (kok malah membuat anda gak semangat?). Mas Edi Sutriono
    juga pake grafik dan enak dilihat tuh (walaupun data dan asumsi yang dipakai
    berbeda namun rumus2nya sama). Tentang “gak karuan” dan “tidak sesuai dengan
    actual”nya saya gak kasih komentar dulu karena saya gak tau yang mana yang
    anda maksudkan. Kalo nanti kita sempat ketemu face to face mungkin akan
    lebih mudah diskusinya ya. “Pak Rudi akan dihajar?” Wadhuhh.., kenapa Mas
    ??? Dan saya gak harus mengingatkan beliau karena semua perhitungan2 beliau
    didasarkan pada data dan fakta (primary drilling data) yang ada – saya udah
    lihat sendiri data2 nya kok…

    RD:

    Sayang, kami tidak bisa menyaksikan perdebatan besar antara seorang
    akademisi dengan praktisi pemboran yang keduanya mulai dikenal di
    surat-surat kabar saat ini.

    RHE:

    Insya Allah dalam waktu dekat ini akan ada pertemuan lanjutan antara kedua
    tim yang berbeda pendapat tsb, dengan lebih focused dan jangka waktu yang
    cukup. Doain ya? ๐Ÿ™‚

    RD:

    Oiya ada satu lagi.. kalau saja grafik casing pressure (dari mud logging
    unit) yang ditunjukkan rudy dianggap sebagai blackbox, kok saya tidak
    melihat adanya leak disana..? coba kang harry perhatikan lagi grafiknya…
    kalau ini benar maka tidak ada kebocoran atau underground blowout.

    RHE:

    Saya udah liat data primer nya dan dari grafiknya kita bisa lihat adanya
    formation “Leak” dan juga “Formation Breakdown”. Bahkan kami bisa
    memperkirakan hari, tanggal, jam dan pada aktifitas apa, saat awal
    terjadinya rekahan tsb. Dalam pertemuan berikutnya, kalo bisa mas Rangga
    datang ya, ntar kita tunjukkan bukti2nya biar anda gak penasaran. Saya
    sendiri tidak memegang data2 tsb karena saya tidak authorized, tapi kalo
    “ngintip” sih udah.., bahkan kami masih mencari2 data drilling geolograph
    (biasanya di dog house di dekat driller) dan data2 electric logs yang sempat
    di-run sampai kedalaman 8000-an (dari sini mungkin kita bisa cari tau sumber
    “formation water kick” tsb untuk kita jinakkan melalui metode relief well).

    RD:

    Tolong dong kang Harry, saya juga pernah jadi fans kang harry waktu di ARCO,
    tapi kenapa tidak bisa menjelaskan hal-hal seperti ini. Kesannya kang harry
    terlalu ikut dan membuntut mas Rudy yang jelas-jelas bukan praktisi pemboran
    seperti kita. Saya harap kang harry tidak terseret lebih jauh.. maklum
    permasalahannya sudah mengimbas di segi politik…dan ada kesan dari
    teman-teman tukang bor, Rudy cs hanya….. drilling (project) avonturir saja
    ….yang mengaku ahli pemboran (yang ternyata bukan ahli) dan
    mengatasnamakan masyarakat jawa timur ingin mendapatkan project dengan cara
    mengail di air keruh….apalagi itu melibatkan orang-orang eks-pertamina
    yang cukup terkenal imej kurang bagusnya di masyarakat.

    RHE:
    Saya memang lama kerja di ARCO dan selama 25 tahun berkarier di industri
    perminyakan, saya lebih banyak menghabiskan waktu saya di bagian drilling
    dan terutama di operation di drilling rig di berbagai medan operasi. Cuman
    maaf, saya kok gak ingat sama sekali dengan Mas Rangga Dhyra ya? Ada baiknya
    bila Mas Rangga bisa mengirimkan profil pribadi anda (ke japri aja) agar
    kita bisa kenal lebih dekat, if you don’t mind – ini untuk menghindari nama2
    samaran yang mengaku dari Abu Dhabi tapi sesungguhnya orangnya ada di
    Jakarta dan tidak jauh2 dari saya…

    Untuk orang2 yang memang kompeten di bidang drilling, fenomena underground
    blow-out (kalau saya menyebutnya: “sub-surface blow-out”) itu sangat mudah
    untuk dijelaskan (dan memang sudah dijelaskan dengan panjang lebar dalam
    beberapa seminar selama ini). Basic ilmunya ya cuman mekanika fluida
    (termasuk konsep2 tekanan hidrostatik, pressure loss, hydraulics, flow
    regime, dsb) dan mekanika batuan (rock mechanics).

    Ikut2an Mas Rudi?

    Ikut2an gimana Mas? Lha ilmu drilling itu memang sama dimana2 dan sebagai
    akademisi, semua paparan mas Rudi itu benar secara konsep drilling
    technology. Sebagai seorang praktisi pengeboran, tidak ada yang perlu saya
    bantah, bahkan kombinasi antara akademisi dan praktisi pengeboran akan
    saling melengkapi. Kalau ada yang tidak klop, ya ayolah kita diskusikan
    baik2 secara professional, tanpa harus terkontaminasi dengan bau2 politik
    Tentang kesan atau imej, saya tidak berhak untuk menghakimi orang lain, itu
    area of God, salah2 bisa menjadi fitnah lho Mas. Yang saya tau, saya dan
    Bapak2 tsb hanyalah orang2 yang ingin mengatakan apa yang kami yakini benar
    (berdasarkan data) sebagai drilling professional dengan niat tulus untuk
    segera menghentikan semburan liar tsb (SOLUTION FOCUSED) yang telah
    menyengsarakan banyak orang di Sidoardjo tsb. Saya yakin Mas Rangga setuju
    dengan saya dalam hal ini.

    RD:

    itu khan sangat memalukan corps kita kang harry… apalagi kang hari sudah
    di pucuk pimpinan salah satu rig contractor.. bisa-bisa ada conflict of
    interest disitu.. hati-hati dong kang…

    RHE:

    Lho, berjuang mempertahankan prinsip kebenaran kok dibilang memalukan Mas?
    Sekali lagi, kalau ada yang gak setuju, ayo dong kita ketemu dalam diskusi
    face to face berikutnya, ‘kan enak? Saya orang yang menghargai semua opini
    sebagai kebebasan berpendapat selama didasarkan pada kaidah2 ilmiah dan
    kebenaran yang universal.

    Conflict of interest?

    Sejak dulu, saya orang yang sangat menghargai professional integrity, lebih
    dari sekedar gaji dan status. Ini adalah inisiatif saya sebagai pribadi.
    Kalaupun nanti saya akan didepak keluar, saya akan menerimanya dengan lapang
    dada dan akan pergi dengan kepala tegak. Tapi setidak2nya saya sudah
    menjalankan fungsi dan tanggung jawab moral saya sebagai seorang drilling
    professional kepada industri perminyakan di negeri ini. Biarlah semuanya
    saya pertanggungjawabkan kepada Tuhan Yang Maha Mengetahui. Tuhan itu baik
    dan Dia tidak akan membiarkan saya terlantar..

    RD:

    Satu lagi kang.. sore setelah selesai dari seminar, saya dengar mas Rudy
    berbicara di depan wartawan dan dikutip salah satu radio di sby. Dia
    memerintahkan untuk membakar gas yang keluar sporadis di dekat area
    pemukiman. Selain gas hidrokarbon dia juga mengajukan untuk membakar gas
    yang mengandung H2S juga… dia bilang kalau H2S beracun dan kalau dibakar
    jadi tidak beracun…(kok jd begitu???). Waduh-waduh… salah-salah mas rudy
    bisa membunuh semua orang disana.. Itu karena dia tidak banyak tahu tentang
    operation tapi karena sudah menjadi publik figur, dia langsung berbicara
    tapi tidak undercontrol. saya yakin kang harry tahu solusinya seperti yang
    pernah kita lakukan di rig site..

    RHE:

    Dalam industri perminyakan, gas yang keluar dari flare (baik untuk offshore
    maupun onshore operations) selalu dibakar untuk alasan2 safety. Untuk kasus
    gas rawa yang keluar melalui rekahan2 di Sidoardjo tentu perlu dicermati
    secara khusus penanganannya sesuai dengan kaidah2 safety karena lokasinya
    yang menyebar tidak beraturan. Dan ini saya rasa belum sempat tertangani
    sehingga daerah tsb dinyatakan tidak layak untuk dihuni. Do you have any
    better ideas Mas Rangga? Please do share it with us..

    RD:

    .. Karena itulah saya mohon supaya kang harry lebih hati-hati dalam
    menyikapi semua ini.

    RHE:

    Terima kasih atas “warning”nya Mas.

    Sesungguhnya sebagai manusia biasa saya juga takut mengeluarkan pendapat
    saya terutama dalam situasi negeri yang carut marut ini. Tapi setelah hampir
    2 tahun menjadi pengamat, dan babak akhir dari drama panjang ini mengarah ke
    konklusi “bencana alam” yang controversial itu, saya akhirnya memutuskan
    untuk muncul ke permukaan. Modal saya cuman niat yang tulus. Tidak ada
    keuntungan pribadi yang saya dapat dari semua ini (nombok sih iya). Tapi gak
    apa2 lah, dan yang paling penting adalah focus utama saya cuman SOLUSI,
    sepanjang apa yang saya bisa kontribusikan untuk menyelesaikan masalah
    lumpur ini. Saya tidak pernah punya rasa antipati terhadap siapapun dan
    tidak ingin cari2 musuh, oleh karena itu saya selalu membatasi diri pada
    diskusi dalam koridor2 ilmiah drilling technology. Saya tetap menyayangi
    semua sahabat2 saya di Lapindo dan atau dimanapun mereka berada, itu tidak
    akan berubah dan tidak akan berkurang. Tentang perbuatan dan konsekwensi
    dosa, biarlah menjadi tanggungan masing2 individu (termasuk saya sendiri)
    kepada Allah SWT. Semoga hubungan silaturahmi selama ini tetap terjalin baik
    selamanya walaupun kita berbeda pendapat.

    Last but not least, saya mohon maaf yang sebesar2nya bila ada salah2 kata
    yang tidak berkenan di hati Mas Rangga dan teman2 semua.

    God bless you all .!

    Jabat erat,

    Harry Eddyarso – Moderator KBK “Bor” Milis Migas Indonesia

  17. Mas Harry, Mas Rudi YTH,
    Saya mendukung Mas Rangga, yang penting sekarang adalah action dari kita semua yang mengatas namakan ahli pemboran, kasihan saudara saudara kita di Sidoarjo.

  18. Kang Harry,

    Saya rasa komentar akang tidaklah fair karena akang ada di posisi Rudy cs. Saya sendiri praktisi pemboran yang juga hadir disitu sangat menyayangkan head-to-head antara rudy.cs vs Edi sutriono.cs gagal kami saksikan padahal kami sudah jauh-jauh datang dari middle east. Itu terjadi karena rudy yang untuk kedua kalinya kabur dari ruang seminar. (kejadian pertama adalah seminar di Bali 2007)

    Saya juga pernah belajar dari mas Rudy tapi saya malu kalau dia hanya berteriak lantang tanpa ada counter attack.

    oiya.. khusus untuk komentar kang harry ada satu yang saya agak bingung. Kang Harry khan lama jadi tukang bor, kok sulit banget menerangkan density mana yang digunakan untuk perhitungan.

    Saya juga dapat buku yang ditulis oleh Rudy ((mem)-bunuh lumpur lapindo), dia menulis bahwa ada loss dan kick pada saat itu. 14.7 ppg mud digunakan untuk kill mud dan ada 8.9 ppg mud yang return to surface pada saat di bleed off. Kalau saya yang ngebor waktu itu, tentunya saya juga nggak akan gunakan 14.7 ppg.

    14.7 ppg mud hanya applied di drill pipe dan di bottom of string, sedangkan perhitungan untuk casing shoe tetap fluida yang di annulus, berapapun beratnya. Kalau saja kita tahu berapa formation pressure, tentunya bisa kita hitung berapa top 14.7 ppg mud di annulus dengan cara membuat persamaan XY dari surface pressure, formation pressure dan density fluida yang ada di permukaan. Saya lihat itu yang tidak dilakukan oleh Rudy. Dia malah membuat grafik-grafik yang membuat kami tidak bersemangat. Dia hanya berpatokan surface pressure ditambah gradien dari 14.7 ppg mud. Malah formation pressurenya semakin membesar dan tidak karuan (tidak sesuai dengan actualnya). Saya bisa langsung menebak kalau Rudy akan dihajar habis oleh pihak lapindo (maaf, saya agak kasar, seharusnya kang Harry bisa mengingatkan beliau kalau semua asumsi nya sangat lemah)

    Sayang, kami tidak bisa menyaksikan perdebatan besar antara seorang akademisi dengan praktisi pemboran yang keduanya mulai dikenal di surat-surat kabar saat ini.

    Oiya ada satu lagi.. kalau saja grafik casing pressure (dari mud logging unit) yang ditunjukkan rudy dianggap sebagai blackbox, kok saya tidak melihat adanya leak disana..? coba kang harry perhatikan lagi grafiknya… kalau ini benar maka tidak ada kebocoran atau underground blowout.

    Tolong dong kang Harry, saya juga pernah jadi fans kang harry waktu di ARCO, tapi kenapa tidak bisa menjelaskan hal-hal seperti ini. Kesannya kang harry terlalu ikut dan membuntut mas Rudy yang jelas-jelas bukan praktisi pemboran seperti kita. Saya harap kang harry tidak terseret lebih jauh.. maklum permasalahannya sudah mengimbas di segi politik…dan ada kesan dari teman-teman tukang bor, Rudy cs hanya….. drilling (project) avonturir saja ….yang mengaku ahli pemboran (yang ternyata bukan ahli) dan mengatasnamakan masyarakat jawa timur ingin mendapatkan project dengan cara mengail di air keruh….apalagi itu melibatkan orang-orang eks-pertamina yang cukup terkenal imej kurang bagusnya di masyarakat

    itu khan sangat memalukan corps kita kang harry… apalagi kang hari sudah di pucuk pimpinan salah satu rig contractor.. bisa-bisa ada conflict of interest disitu.. hati-hati dong kang…

    Satu lagi kang.. sore setelah selesai dari seminar, saya dengar mas Rudy berbicara di depan wartawan dan dikutip salah satu radio di sby. Dia memerintahkan untuk membakar gas yang keluar sporadis di dekat area pemukiman. Selain gas hidrokarbon dia juga mengajukan untuk membakar gas yang mengandung H2S juga… dia bilang kalau H2S beracun dan kalau dibakar jadi tidak beracun…(kok jd begitu???)

    Waduh-waduh… salah-salah mas rudy bisa membunuh semua orang disana.. Itu karena dia tidak banyak tahu tentang operation tapi karena sudah menjadi publik figur, dia langsung berbicara tapi tidak undercontrol. saya yakin kang harry tahu solusinya seperti yang pernah kita lakukan di rig site.. Karena itulah saya mohon supaya kang harry lebih hati-hati dalam menyikapi semua ini.

    Salam saya dari Abu Dhabi

  19. Pertemuan tsb difasilitasi oleh Forum Komunikasi Masyarakat Jawa Timur, bertempat di Sheraton – Surabaya, pada hari Kamis, tanggal 28 March 2008.

    Ditambahkan lagi: data2 drilling yang dipakai oleh Pak Rudi Rubiandini tidak factual (statement ini ditulis lagi di harian Kompas besoknya – Jumat, 29 Maret 2008)

    Maksudnya Februari 2008 ta? Atau apa? ๐Ÿ™‚

    –> thanks for the mistypo findings

  20. Asalkan bukan “Gajah Mada” lawan “Gajah duduk” … bisa remuk ini kambing-kambing, bisa item semua ! ๐Ÿ™‚

  21. Wah, gajah lawan gajah. Emang selalu ada gajah hitam dan gajah putih. Ical dan kawan2 mungkin harus digolongkan sebagai gajah hitam. Tapi jangan lupa masih banyak gajah2 putih yang lain, yang sayangnnya suka menyembunyikan diri dalam kesibukan mereka

    Saatnya gajah putih bangkit dan melawan Ical dkk

    Hidup Gajah

  22. Saya rasa, penelitian dan kajian seharusnya lebih diarahkan kepada arah solusi dari bencana lumpur sidoarjo tersebut. Sehingga kita jangan terlalu berkutat dalam hal mencari “Kenapa kapal ini bocor ?” lebih baik “Gimana caranya menambal bocor kapal ini ?”

    Memang gak bisa dipungkiri juga dengan mengetahui penyebab semburan tentunya akan dapat lebih mudah mengetahui penyelesaian / solusinya. Cuman kalo kita memfokuskan kepada mencari siapa yang salah, akhirnya masyarakat sidoarjo tidak terurus. Lebih baik selesaikan dulu masalah yang di hadapi masyarakat sidoarjo, baru nanti kita bicara siapa yang harus bertanggung jawab.

    Toh kan bisa diatur, misalnya untuk penanganan masalah lusi bisa menggunakan anggaran negara dulu, bila nanti setelah masalah selesai penyelidikan membuktikan bahwa lapindo bersalah, maka lapindo harus mengganti anggaran yang sudah dikeluarkan. Yang penting masyarakat jangan sampai menderita terlalu lama karena politisasi kasus ini.

    Just a point of view from another petroleum engineering student…

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here